Website Olahraga

Tiga Tahapan Belajar Gerak Model Fitts dan Posner

Thursday, March 05, 2015

Tiga Tahapan Belajar Gerak Model Fitts dan Posner

Tahapan Model Pembelajaran Fitts dan PosnerSebuah model yang populer diusulkan oleh Fitts dan Posner (1967) yaitu dimana model ini menunjukkan bahwa peserta didik harus melewati tiga tahapan yang berbeda. Tahapan ini ditentukan oleh proses pembelajaran.

A. Tahap pertama yaitu tahap kognitif,

Dimana tahapan ini merupakan sebuah nama untuk tingkat tinggi pada aktivitas kognitif. Pada tahapan ini pertama kali yang harus diperkenalkan kepada pelajar atau anak didik yaitu keterampilan motorik baru, dan tugas utamanya adalah untuk mengembangkan pemahaman tentang persyaratan gerakan motorik tersebut. Oleh karena itu seorang pelajar di tahap ini mungkin belum memahami gerak dasar dan akan memiliki banyak pertanyaan yang akan di lontarkan.

Dalam upaya untuk menemukan solusi atas pertanyaan-pertanyaan, peserta didik akan sering mencoba berbagai teknik dan strategi melalui pendekatan trial-and-error. Selain itu, masalah masa lalu gerakan. Gerakan yang dihasilkan kurang sinkronisasi dan muncul berombak dan disengaja. Selain itu, tuntutan attentional seluruh proses ini adalah tinggi dan cukup terbatas untuk produksi gerakan. Akibatnya, kesulitan akan terlihat ketika peserta didik diminta untuk mengatur waktu gerakan mereka dalam hubungannya dengan objek eksternal atau peristiwa. Kinerja pada tahap ini tidak konsisten oleh karena itu ditandai oleh banyaknya kesalahan, yang biasanya kotor di alam.

Melalui instruksi lisan yang efektif dan demonstrasi, praktisi dapat memfasilitasi perkembangan pembelajar melalui tahap ini. pendidik juga harus mempertimbangkan fakta bahwa peserta didik dapat lebih mudah merumuskan pengalaman gerak lama  menjadi pola gerakan baru jika persamaan dan perbedaan antara mereka yang dapat menampilkannya. Selanjutnya, sementara pengamat yang sudah terlatih dengan mudah dapat mengenali kesalahan yang dibuat, yaitu dimana peserta didik tidak memiliki kemampuan untuk menentukan penyebab spesifik dari kesalahan dan ada kemungkinan tidak dapat membuat penyesuaian yang diperlukan. Oleh karena itu seorang pendidik harus bisa  memainkan peran penting yang tidak hanya dalam deteksi dan koreksi kesalahan tetapi bisa juga di dalam pengembangan kemampuan peserta didik untuk melakukan hal yang sama.

B. Tahap kedua, atau tahap asosiatif,

Ditandai dengan peningkatan kinerja gerak yang telah ditentukan. Setelah mencoba berbagai strategi gerakan mungkin, seorang pelajar pada tahap ini mempunyai suatu komitmen atau usaha untuk menyempurnakan satu pola gerakan tertentu. Kinerja gerak menjadi lebih konsisten, dengan lebih sedikit adanya kesalahan-kesalahan pada gerakan tertentu. Kemampuan untuk gerakan waktu dengan objek-objek eksternal juga meningkatkan sebagai tuntutan attentional melakukan gerakan itu sendiri menurun, yang memungkinkan peserta didik untuk mulai memperhatikan gerakan-gerakan lainnya. Hal ini juga menghasilkan lagi dalam kemampuan untuk melakukan penyesuaian dalam gerakan sesuai dengan berbagai kondisi lingkungan. Pada tahap ini, peserta didik menjadi semakin mampu tidak hanya mendeteksi penyebab kesalahannya tetapi juga mengembangkan strategi yang tepat untuk menghindar dari kesalahan-kesalahan gerakan tersebut.

Mengingat karakteristik perubahan dari peserta didik, peran pendidik pada tahap ini bergeser dari satu dominan yang dapat memberikan instruksi dengan merancang pengalaman terhadap praktek atau pembelajaran konstruktif. Pemberian keterampilan ini bertujuan untuk mendorong pengembangan gerak untuk mendeteksi adanya  kesalahan pada  pembelajaran gerak dan mengoreksi setiap kesalahan-kesalahan yang ada. Suatu transisi ke tahap akhir dalam Fitts dan model Posner, yaitu 

C. Tahap automatisasi

Membutuhkan waktu berjam-jam utuk melakukan praktek atau pembelajaran. Bahkan, tahap terakhir adalah bahwa tidak semua peserta didik akan mencapai target keberhasilan. Sedangkan pada tahap automatisasi, kinerja gerak dapat mencapai tingkat tertinggi kemahiran dan telah menjadi otomatis. Perhatian peserta didik selama tahap ini dialokasikan kembali untuk pengambilan keputusan yang strategis. Selain itu, banyak tugas yang dapat dilakukan secara bersamaan. Akhirnya. peserta didik dalam tahap ini sangat konsisten, merasa percaya diri, dan tidak membuat beberapa kesalahan dan umumnya dapat mendeteksi dan mengoreksi kesalahan-kesalahan yang memang terjadi.

Suatu kemungkinan menganggap bahwa ketika seorang pelajar telah mencapai tahap ini peran pendidik minimal harus menjadi yang terbaik. Penting untuk diingat bahwa sementara penguasaan ilmu yang telah mencapai tingkat tertinggi, masih ada ruang untuk perbaikan. Praktek desain dan deteksi dan koreksi kesalahan oleh karena itu semua merupakan tanggung jawab pendidik. Peningkatan kinerja sangat sulit untuk diperoleh pada tingkat ini, dan kemajuan terjadi secara bertahap sehingga peserta didik dapat menjadi putus asa dan kehilangan motivasi, oleh karena itu yang diperlukan untuk memperoleh kemajuan peserta didik tersebut, pendidik harus melayani dalam suatu kapasitas sebagai motivator untuk membantu peserta didik dalam mencapai potensi belajar yang baik.