Website Olahraga

Latihan Fisik Untuk Anak Usia Dini di TK dan SD

Thursday, July 23, 2015

Latihan Fisik Untuk Anak Usia Dini di TK dan SD

Salam sobat HIIT. Latihan fisik untuk anak usia dini seperti pada jenjang TK dan SD, harus benar-benar hati-hati dalam memberikan bentuk latihannya. Jangan sampai disamakan dan dianggap sebagai miniatur dari orang dewasa. Sudah sejak lama para ahli sport medicine berupaya menggali penerapan latihan fisik untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak usia Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD). 
Baca Juga > Cara Menyusun Program Latihan Untuk Para Pelatih
Latihan fisik jangan sampai menjadi stressor yang luar biasa bagi usia pada kelompok ini karena sejatinya latihan fisik pada kelompok usia dini harus menjadi stimulator (perangsang) bagi peningkatan potensi fisik, mental dan sosialnya secara harmonis.

Latihan Fisik Untuk Anak Usia Dini di TK dan SD Aturan penerapan latihan fisik untuk usia TK dan SD

Ada beberapa koridor yang haru diperhatikan dan diterapkan oleh para pelatih dalam menerapkan latihan fisik pada usia TK dan SD, berikut aturan yang harus diikuti:
  1. Latihan fisik diberikan dalam suasana yang menyenangkan dan lebih dominan dalam bentuk pola permainan tertentu, dan memang sesuai dengan karakteristik anak pada usia TK dan SD.
  2. Beban latihan fisik harus diatur mulai beban ringan sampai sedang dan tidak diperbolehkan menggunakan beban maksimal apalagi beban ekstrim. Hal ini dibutuhkan untuk merangsang pertumbuhan pertumbuhan dan perkembangan secara normal dan fisiologis.
  3. Latihan fisik dalam jangka panjang (1-3 bulan pada tahap I) memberikan efek positif pada perkembangan sistem fisiologis tertentu, yang utama adalah kelentukan, kecepatan dan keseimbangan.
  4. Latihan fisik jangka panjang dengan beban maksimal sampai ekstrim memberikan efek negatif pada pertumbuhan dan perkembangan sistem muskuloskeletal dan kerap akan menimbulkan cedera fisik dan psikis.
Negara yang sudah menerapkan program latihan jangka panjang 1-3 tahun, sejak usia TK adalah Cina dan Jerman, khususnya pada cabang olahraga renang dan senam. Oleh karena itu tidak disangsikan lagi atlet-atlet unggulan dunia dari cabang olahraga renang dan senam sejak era tahun 2000-an didominasi oleh Cina dan Jerman dan telah berbicara banyak di event dunia pada usia yang relative lebih muda dari umumnya.
Memasuki usia akhir SD dapat diberikan latihan fisik dengan dosis yang sub-maksimal yang ditujukan untuk pembentukan susunan tubuh, penambahan mineral tulang sehingga massa sulang meningkat, hipertropi otot dan peningkatan sistem kardiovaskuler.

Melatih Anak TK dan SD

Penelitian era 90-an sampai dengan awal tahun 2000 telah menunjukkan hasil yang menggembirakan berkaitan dengan pemanfaatan latihan fisik pada usia kelompok ini. Hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa : anak-anak secara fisiologis memberikan respons positif terhadap pembebanan latihan fisik, meskipun secara volume lebih rendah bila dibandingkan dengan usia remaja.
Meskipun memberikan respons positif terhadap pembebanan latihan fisik, akan tetapi harus tetap diperhatika bahwa ank usia TK dan SD rentan sekali terhadap kemungkinan terkena cedera. Oleh karena itu, perlu dipahami dan diterapkan prinsip pencegahan cedera olahraga. Hal ini dikhususkan pada sistem muskuloskeletal (otot dan tulang). Sistem jaringan ikat dan kartilago pada anak usia TK dan SD belum terlalu kuat dan elastis jika dibandingkan dengan usia remaja, dengan sebab tersebut maka latihan fisik di jenjang usia TK dan SD jangan sampai melebihi batas ambang rangsangnya (kemampuan).

Pada latihan fisik yang terlalu keras akan mengakibatkan epifise (ujung) tulang menjadi rusak karena benturan atau karena pemakaian tenaga yang besar dan berulang lewat jaringan ikat (tendon dan ligament) yang berada di dekat tulang tersebut. Jenis cedera lainnya adalah robek otot dan cedera pada persendian. Oleh karena itu, meskipun anak usia TK dan SD menyenangi olahraga permainan, perlu diawasi secara ketat agar tidak menimbulkan cedera.
Dari beberapa hasil penelitian yang dirangkum oleh Larson dalam Jannsen (1989) menegaskan bahwa cedera yang paling dominan terjadi pada atlet usia dini (TK dan SD) adalah cedera epifise otot, dan persendian. Cedera ini banyak dialami oleh atlet senam, jarang ditemukan cedera pada usia dini ini yang terkait dengan sistem kardiovaskuler, pernapasan, metabolisme, dan cedera non-epifise.