Website Olahraga

Motivasi dalam Olahraga

Tuesday, July 28, 2015

Motivasi dalam Olahraga

Salam sobat HIIT. Dalam olahraga, sangat dibutuhkan sekali motivasi untuk bisa mempertahankan dan meningkatkan kebiasaan berolahraga. Banyak beberapa praktisi olahraga bahkan atlet, hilang konsistensinya dalam mempertahankan kebiasaan berolahraganya. Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh motivasi atau dorongan untuk melakukan olahraga. Tujuan dari orang melakukan olahraga sangat bermacam-macam, ada yang ingin memiliki tubuh ideal dengan pahatan otot yang terlihat, ada yang ingin meningkatkan tingkat kebugarannya dengan harapan tubuhnya akan tetap sehat sehingga mendukung terhadap aktifitas di kehidupan sehari-harinya, ada juga yang memang fokus untuk mengejar prestasi baik tingkat daerah maupun nasional dan internasional.
Berdasarkan tujuannya bisa kita bagi sebetulnya mengenai macam olahraga diantaranya adalah olahraga prestasi, olahraga kesehatan, olahraga rekreasi, olahraga pendidikan, dan olahraga rehabilitasi (setelah cedera). Dalam undang-undang disebutkan bahwa olahraga terdiri dari tiga macam yaitu olahraga prestasi, olahraga rekreasi dan olahraga pendidikan.

Motivasi dalam OlahragaTerlepas dari berbagai macam tujuan kita melakukan olahraga, semuanya bermuara pada satu efek positif yaitu meningkatkan tingkat kebugaran kita. Meskipun tujuannya untuk meningkatkan derajat kesehatan kita, tapi ada tingkatan di atas sehat yaitu bugar, karena orang bugar sudah pasti sehat, orang sehat belum tentu bugar. Jika kita memiliki kebugaran yang bagus maka tubuh kita tidak akan mengalami rasa lelah yang berarti ketika sudah beres melaksanakan pekerjaan sehari-hari, bahkan siap kembali untuk melakukan pekerjaan kita keesokan harinya.
Untuk mendapatkan tingkat kebugaran yang bagus dibutuhkan konsistensi dalam melakukan olahraganya, seperti yang telah disebutkan di atas bahwa motivasi menjadi kunci terhadap konsistensi seseorang untuk terus melakukan olahraga secara teratur. 

Bagaimana Motivasi dalam Olahraga?

Di dalam olahraga prestasi, keterkaitan antara motivasi pelatih dan atlet sangatlah erat sekali. Karakteristik pelatih dan atlet yang baik adalah memiliki motivasi yang baik, sehingga memungkinkan setiap orang dapat bekerja lebih baik dalam timnya. Penampilan yang baik pasti ditunjukkan dengan adanya motivasi dan keterampilan yang baik juga, sehingga memungkinkan tujuan yang mereka tetapkan dapat dicapai. 

Setiap individu yang memiliki motivasi berlatih akan memiliki komitmen untuk mencapai tingkat kesempurnaan dalam mencapai tujuan. Sama halnya dengan pelatih dan atlet, mereka akan berhasil ketika selalu belajar dan berlatih sehingga memiliki nilai-nilai inspirasi, perspirasi dan dedikasi. Oleh karena itu, motivasi eksternal dan internal merupakan faktor yang menentukan untuk mencapai kemampuan terbaik dalam olahraga.

Pelatih dan atlet penting memahami efektivitas motivasi baik motivasi internal maupun eksternal. Prestasi atlet selalu berkaitan dengan motivasi, karena motif merupakan sumber penggerak dan pendorong bagi atlet untuk bertindak dan berbuat sesuatu, dengan penuh ketekunan dan kerja keras, sehingga dapat menentukan nasib dirinya sendiri.

Motivasi merupakan keterampilan mental yang bersifat mendasar dan perlu dimiliki oleh atlet. Oleh karena itu, motivasi yang harus dimiliki oleh seorang atlet adalah motivasi berprestasi, dengan memiliki motivasi berprestasi maka atlet tersebut akan terpacu semangatnya untuk berkompetisi dengan dirinya sendiri, orang lain, bahkan untuk mencapai kesempurnaan dalam menjalankan tugas dalam proses latihan maupun proses kompetisi.  Pola pemikiran tersebut harus dijadikan pegangan bahwa motivasi berprestasi sangat efektif dimiliki oleh atlet dalam setiap aktifitas apapun yang dilakukan.

Motivasi memegang peranan penting dalam membantu menentukan berhasil tidaknya atlet dalam proses latihan dan pertandingan. Oleh karena itu, tekankan pada atlet untuk menunjukkan motivasi tinggi dalam segala aktifitasnya. "Jika memiliki kemauan yang kuat untuk sukses, maka 50% sudah di tangan, apabila ditambah berjuang lebih keras secara nyata, sukses 100% akan menjadi miliki kita.

Pengertian Motivasi Berprestasi

Motivasi yang harus  dimiliki  oleh atlet yaitu  motivasi berprestasi. Motivasi berprestasi disebut dengan istilah N.Ach (Need for Achievement). Reeve (2000); Apruebo (2005: 53) menjelaskan: "Achievement motivation as a desire for significant accomplishment for mastery of things, people, or ideas for attaining a higher standard". Pendapat yang sama dijelaskan oleh Gill; Weinberg and Gould (1995) bahwa: "Achievement motivation as a person's orientations to strive for task success, persist in the face of failure, and experience pride in accomplishments".

Motivasi berprestasi memberikan kesempatan kepada atlet untuk mencapai sesuatu dengan sempurna, meningkatkan kebugaran pada tingkatan tertinggi, dan berlatih secara maksimal. Dengan kata lain motivasi berprestasi dalam olahraga sama dengan istilah "competitiveness". Martens (1976); Cox (1990); Apruebo (2005: 53) menjelaskan: "Competitiveness as a disposition to strive for satisfaction when making comparisons with some standard of excellence in the presence of evaluative other". Motivasi berprestasi pada hakikatnya merupakan keinginan, hasrat, kemauan,  dan pendorong untuk dapat unggul yaitu mengungguli prestasi yang pernah dicapainya sendiri atau prestasi yang dicapai oleh orang lain. Motivasi berprestasi merupakan dorongan untuk berpacu dengan keunggulan, baik keunggulan dirinya sendiri, keunggulan orang lain, atau kesempurnaan dalam melaksanakan tugas tertentu.

Fungsi Motivasi dalam Olahraga

a.   Motivasi intrinsik

Banyak atlet elit yang mencurahkan perhatian dan kesenangannya pada olahraga yang ia geluti, atlet tersebut memiliki sensasi yang kuat dan merasa termotivasi dalam aktivitas itu. Motivasi mempunyai dua fungsi yaitu fungsi intrinsik dan fungsi ekstrinsik. Motivasi intrinsik sangat menentukan atlet untuk memutuskan dirinya untuk terus berpartisipasi dalam olahraga yang digelutinya. Bagi atlet yang memiliki motivasi intrinsik aktivitasnya dilakukan secara sukarela, penuh kesenangan dan kepuasan, sehingga atlet merasa kompeten dengan apa yang dilakukannya. Untuk mendukung pernyataan tersebut, para ahli seperti Lepper et al., (1973); Deci (1975); Deci & Ryan (1985); yang dikutip oleh Vallerand et al., didasari dengan motivasi intrinsik cenderung lebih giat, lebih gigih, dan relatif menetap dibandingkan perilaku yang didorong dengan motivasi yang bersifat ekstrinsik.

b.   Motivasi ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik merupakan motivasi yang timbul karena adanya faktor luar yang mempengaruhi dirinya. Atlet berpartisipasi dalam aktivitas olahraga tidak didasari dengan kesenangan dan kepuasan, tetapi keterlibatan atlet dalam aktivitas itu didasari oleh keinginan untuk perolehan sesuatu. Vallerand (2003: 2) menjelaskan: "Extrinsic motivation implies that athletes engage in their sport not out of pleasure but for external outcomes that will result from activity participation". Selain itu, Deci (1975); Anshel (1990: 107) menjelaskan bahwa: "The desire to perform an activity due to the anticipation of some external reward such as money or a trophy".

Motivasi ekstrinsik merupakan keinginan untuk menampilkan suatu aktivitas karena adanya penghargaan dari luar dirinya. Dengan demikian, motivasi ekstrinsik akan berfungsi manakala ada rangsangan dari luar diri seseorang. Misalnya, seseorang terdorong untuk berusaha atau berprestasi sebaik-baiknya disebabkan karena: (1) menariknya hadiah-hadiah yang dijanjikan kepada atlet bila menang, (2) perlawatan ke luar negeri, (3) akan dipuja orang, (4) akan menjadi berita di koran dan TV, (5) ingin mendapat status di masyarakat, dan sebagainya.

Motivasi ektrinsik sering pula disebut "competitive motivation" karena dorongan untuk bersaing dan menang memainkan peranan lebih besar daripada kepuasan karena telah berprestasi dengan baik. Sedangkan motivasi intrinsik disebut "competence motivation" karena atlet biasanya sangat bergairah untuk meningkatkan kompetensi dalam usahanya untuk mencapai kesempurnaan (Harsono, 1988).

Struktur Faktor Motivasi dalam Olahraga

Struktur faktor motivasi dalam olahraga dibangun oleh tiga dimensi konstruk motivasi yaitu motivasi intrinsik, motivasi ekstrinsik dan amotivasi. Ketiga dimensi tersebut dielaborasi menjadi beberapa indikator, yaitu non regulation, external regulation, introjections regulation, identified regulation dan internal motivation. Analisis struktur faktor skala motivasi dalam olahraga, menjadi penting dalam kaitannya dengan pengukuran tingkat partisipasi adet dalam olahraga dan kemungkinan pengembangan program intervensi dalam aktivitas olahraga, sebab motivasi diyakini dan terbukti menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan belajar dan berperilaku.

Menurut Deci & Ryan; Duda & Treasure (2001) menjelaskan bahwa atlet yang memiliki amotivasi (amotivation) ditandai dengan tidak memiliki kendali diri mengenai keterlibatannya dalam olahraga, dan tidak memiliki dasar motivasi intrinsik dan ekstrinsik untuk menampilkan aktivitas olahraga. Amotivasi memiliki arti sama dengan (helplessness) yaitu keadaan tidak berdaya, dalam psikologi

Sosial (teori attribusi) atlet yang tidak berdaya ditandai dengan kegagalan yang bersifat internal, tidak dapat dikontrol, dan stabil sebab atlet seringkali mengatakan "I'm not good enough" dan I can't change this fact". Dalam self-determinasi memiliki tiga bentuk motivasi ekstrinsik yaitu external regulation, introjected regulation, dan identified regulation.
  1. External regulation maksudnya perilaku yang ditampilkan bermaksud untuk memuaskan tuntutan yang bersifat eksternal. Atlet dalam hal ini didorong oleh suatu keinginan untuk menerima hadiah yang bersifat eksternal. Contoh, "I am going to try out now but only because my stiped is due today".
  2. Introjected regulation, motivasi ini dilihat dari asal usulnya termasuk ke dalam motivasi ekstrinsik sebab motivasi ini hanya sebagai pengganti sumber eksternal pada kendali yang bersifat internal seperti kesalahan dibebankan pada diri sendiri. Atlet memiliki alasan secara internal untuk berpartisipasi, yang terikat dengan hadiah dan hukuman yang bersifat internal. Contoh, "I am going to try out now because I feel guilty if I can not play with my team". 
  3. Identified regulation, maksudnya perilaku yang dilakukan bukanlah keputusan dirinya tetapi sebagai sebuah keputusan akhir yang seringkali tidak mempertimbangkan perilaku yang menyenangkan. Contoh, "an athlete who wants to enhance performance choose not to miss any session despite recess competition period even though the session in tough and demanding".

Bentuk lainnya pada motivasi yaitu motivasi intrinsik yang dikenal dengan internal motivation. Dalam hal ini atlet berpartisipasi dalam sebuah aktivitas sudah menjadi kepuasan dirinya. Hal ini menunjukkan suatu keadaan yang kokoh dari self determinasi.

Nah itulah postingan kali ini mengenai motivasi dalam olahraga, segala macam aktifitas yang kita lakukan harus didasarkan pada motivasi yang kuat untuk terus konsisten melakukan aktifitas atau latihan.