Website Olahraga

Memperbaiki Paradigma Yang Salah Tentang Protein Untuk Otot Pada Saat Latihan dan Olahraga

Monday, August 24, 2015

Memperbaiki Paradigma Yang Salah Tentang Protein Untuk Otot Pada Saat Latihan dan Olahraga

Salam sobat HIIT. Postingan ini akan membahas mengenai paradigma protein yang ada di masyarakat untuk menutrisi otot pada saat latihan dan berolahraga. Sumber yang saya ambil adalah buku kedokteran olahraga oleh Dr. C. K. Giam dan Dr. K. C. Teh. Mungkin para pembaca sering mendengar bahkan mempercayai bahwa mengkonsumsi protein dalam jumlah tinggi dapat mempengaruhi penampilan kita pada saat latihan dan berolahraga. Bahkan sering dan mungkin sebagian besar atlet cabang olahraga yang mengandalkan kekuatan, sering mengkonsumsi protein dalam jumlah besar terutama daging sapi. 

Untuk apa sebetulnya protein digunakan dalam tubuh?

Pertanyaan di atas harus dipahami terlebih dahulu sebelum membahas memahami lebih lanjut mengenai protein. Protein tidak digunakan untuk menjadi bahan bakar utama dalam pembentukan energi pada saat melakukan latihan dan olahraga, yang menjadi bahan bakar utama dalam latihan dan olahraga adalah karbohidrat dan lemak. Itu hal yang pertama yang harus dipahami.
Baca juga > Latihan Fisik dan Sistem Energi, Energi dan Sistem Energi Olahraga
Tugas utama protein diperlukan untuk membangun, mempertahankan dan memperbaiki jaringan-jaringan tubuh. Seorang atlet yang terlibat dalam latihan-latihan atau kompetisi dengan intensitas berat, apalagi usianya masih dalam tahap pertumbuhan, maka sangat membutuhkan protein lebih banyak dibandingkan dengan non-atlet. Yang harus dipahami bahwa protein bukan menjadi sumber utama untuk dijadikan bahan bakar pembentukan energi, akan tetapi suplai protein dibutuhkan untuk memperbaiki jaringan-jaringan yang rusak ketika atlet yang dalam masa pertumbuhan melakukan latihan atau kompetisi dengan intensitas tinggi.

Aturan Penambahan Protein Dari Porsi Normal

Walaupun membutuhkan protein yang banyak, tidak serta merta langsung mengkonsumsi protein dengan jumlah besar. Penambahan protein dalam diet sampai dua kali dari 0,6 gram - 1,0 gram per kilogram berat badan atau 1,0 gram - 2,0 gram per kilogram berat badan, sudah lebih dari cukup. Jika memakai persentasi, penambahan protein bisa menambahkan sebanyak 10%-15% dari  jumlah normalnya. Oleh karena itu, tidak perlu untuk menambah protein dalam bentuk tablet, jika atlet tersebut makan dengan porsi melebihi dari diet normalnya.
Baca Juga > Suplemen Untuk Pembentukan Otot
Jika ragu mengenai kecukupan protein dalam diet atlet tersebut dan dirasa memerlukan tambahan protein, lebih dianjurkan mengkonsumsi makanan yang alami seperti susu dan keju, protein hewani dan telur daripada tablet-tablet protein. Hal ini disebabkan karena makanan yang alami biasanya lebih murah jika dibandingkan dengan tablet protein dan kandungan gizi dalam makanan alami bukan hanya berisi protein saja melainkan mengandung bahan gizi esensial lain seperti vitamin, mineral, karbohidrat dan lemak serta mempunyai keuntungan lain seperti memberikan bahan gizi yang besar dan menghilangkan rasa lapar.
Baca Juga > Nutrisi Untuk Menjaga Otot Pada Saat Tidur

Dampak Negatif Mengkonsumsi Protein Terlalu Berlebihan

Asupan protein yang terlalu berlebihan menyebabkan hati dan ginjal bekerja lebih berat, karena harus memecahan dan mengeluarkan protein yang berlebih karena protein tidak seperti karbohidrat dan lemak. Protein tidak bisa disimpan dalam jumlah besar di dalam tubuh dan kelebihannya harus dibuang melalui urine dan tinja.

Protein yang berlebihan sebetulnya tidak berguna untuk seorang atlet dalam penampilannya pada saat latihan dan pertandingan, bahkan sebaliknya bisa merugikan, terutama dalam olahraga yang membutuhkan daya tahan. Efek lainnya adalah bisa merusak fungsi hati dan ginjal dan bisa juga menyebabkan GOUT (peradangan yang diakibatkan adanya endapan kristal asam urat pada sendi) seperti gambar di bawah ini.
Gout Sendi
Dampak berikutnya dari asupan protein yang berlebih adalah menghilangkan bahan bakar energi yang utama (karbohidrat dan lemak), mendorong terjadinya dehidrasi, hilangnya nafsu makan dan dapat menyebabkan diare.

Jika konsumsi protein disatukan dengan steroid anabolik dalam dosis tinggi pada program diet tinggi protein, memang bisa menambah besarnya massa otot, kekuatan dan tenaganya. Akan tetapi, konsumsi seperti itu tidak dianjurkan dan dilarang keras oleh komunitas olahraga internasional karena dapat menyebabkan ganguan kesehatan dan alasan etis. Gangguan kesehatan yang dapat timbul adalah kerusakan dan penyakit hati kemudian kanker hati, disfungsi pada pria dan wanita, dan dapat merusak lambung akibat stress yang berkepanjangan.

Itulah postingan kali ini, jadi bisa kita simpulkan bahwa protein dibutuhkan untuk membangun dalam proses pemulihan jaringan-jaringan tubuh yang rusak pada saat melakukan aktifitas fisik, latihan dan olahraga. Kelebihan protein menjadi tidak bagus karena protein tidak bisa disimpan dalam jumlah besar seperti halnya karbohidrat dan lemak, efeknya adalah hati dan ginjal harus bekerja ekstra keras untuk memecah kelebihan protein yang dikeluarkan melalui urin dan tinja.

Semoga bisa bermanfaa bagi para pembaca sekalian. Jangan lupa jika mencari artikel lainnya bisa menggunakan kolom search di atas, atau bisa dilihat di kategori di atas.
Terima kasih.