Website Olahraga

Percaya Diri Dalam Olahraga

Sunday, August 02, 2015

Percaya Diri Dalam Olahraga

Percaya Diri adalah perasaan yang berisi kekuatan, kemampuan dan keterampilan untuk melakukan dan menghasilkan sesuatu yang dilandasi keyakinan untuk sukses

Salam sobat HIIT. Memiliki percaya diri dalam dunia olahraga diperlukan untuk menunjang pencapaian prestasi yang maksimal, karena percaya diri memiliki korelasi yang signifikan dengan peningkatan performa atlet. Menurut Zinnser (2001) menjelaskan mengenai korelasi percaya diri dengan performa atlet : "The peak performance is the direct correlation berween high levels of self confidence and successful sporting performance". Sangat beralasan sekali bahwa percaya diri memang sangat berkorelasi dengan performa atlet pada saat bertanding karena untuk mencapai prestasi puncak dalam olahraga sangat banyak sekali tantangan dan rintangan datang silih berganti pada atlet. Oleh karena itu, modal utama yang harus dimiliki atlet untuk mengatasi maslaah tersebut adalah percaya diri. Bahkan Lauster (1978) menegaskan : "Tanpa adanya kepercayaan diri maka banyak masalah yang akan timbul pada diri seseorang".

Tingkatan percaya merupakan prediktor keberhasilan dalam setiap kompetisi, atlet bisa menampilkan tugas-tugasnya dengan baik yang didasari dengan kepercayaan akan kemampuan yang ada dalam dirinya. Dengan memiliki kepercayaan diri maka atlet akan konsisten dalam bersikap dan bertindak.

Pengertian Percaya Diri

percaya diri dalam olahraga
Iqbal Polah, Wing Back Kiri Unsil United
dalam Turnamen Usbu Cup 2015 di Unpad
"Kepercayaan diri adalah perasaan yang berisi kekuatan, kemampuan dan keterampilan untuk melakukan dan menghasilkan sesuatu yang dilandasi keyakinan untuk sukses". Selain itu, Mc Celland (1987) menjelaskan: "Kepercayaan diri merupakan kontol internal terhadap perasaan seseorang akan adanya kekuatan dalam dirinya, kesadaran akan kemampuannya, dan bertanggungjawab terhadap keputusan yang telah ditetapkannya". Dengan demikian, kepercayaan diri berisi keyakinan seseorang terkait dengan kekuatan, kemampuan diri, untuk melakukan dan meraih sukses serta bertanggungjawab terhadap apa yang telah ditetapkan oleh dirinya.

Weinberg & Gould (1995: 300) menjelaskan: "Confidence as the belief that you can successfully perform a desaired behavior". Esensi kepercayaan diri adalah kepercayaan bahwa auet bisa menampilkan keberhasilan sesuai dengan perilaku yang diinginkan. Atlel yang memiliki kepercayaan diri berarti atlet dapat melakukan tugas-tugasnya dengan baik, atlet percaya kepada kemampuan dirinya untuk memperoleh berbagai kompetensi dan keterampilan yang dibutuhkannya baik fisik maupun mental.

Kepercayaan diri merupakan modal utama bagi atlet untuk mencapai prestasi maksimal. Kaitan dengan pernyataan tersebut, Loehr (1986: 158) menjelaskan: "Self confidence is a feeling and a knowing that say you can do it, that you can perform well and be successful". Singer (1986) menjelaskan: "Self confidence or confidence in oneself means feeling self assure and competent to do what has to be done". Atlet yang memiliki kepercayaan diri selalu berpikir positif untuk menampilkan sesuatu yang terbaik dan memungkinkan timbul keyakinan pada dirinya bahwa dirinya mampu melakukannya iehingga penampilannya tetap baik. Sebaliknya atlet yang memiliki pikiran negatif dan tidak percaya pada dirinya, untuk menampilkan sesuatu yang terbaik akan selalu ragu dan sangsi bahwa dirinya mampu untuk melakukannya, sehingga penampilannya menurun.

Untuk lebih jelas mengenai ungkapan-ungkapan atlet yang memiliki kepercayaan diri, seperti terlihat pada Gambar di bawah ini.
percaya diri atlet
Selanjutnya, Rosin & Nelson (1983); Dorsel (1988); Kendall, et ah, (1990) mengatakan: "Inappropriate or misguided thinking usually leads to negative feeling and poor performance, jus as appropriate or positive thinking leads to enabling feelings and good performance". Sedangkan Satiadarma (2000) menjelaskan: "Kepercayaan diri adalah rasa keyakinan dalam diri atlet dimana ia akan mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik dalam suatu kinerja olahraga".

Model Kepercayaan Diri dalam Olahraga


Model kepercayaan diri dalam olahraga dirancang untuk memberikan kerangka yang beimakna dalam rangka memperluas kajian mengenai kepercayaan diri dalam olahraga, khususnya untuk meningkatkan kepercayaan diri adet dalam olahraga prestasi. Kepercayaan diri dalam olahraga dijelaskan oleh Vealey (2001: 556) bahwa: "Sport confidence was defined as the degree of certainty individuals possess about their ability to he successful in sport. Sport confidence is a more general conceptualization of self confidence". Terkait dengan kepercayaan diri dalam olahraga,  Vealey (2001) mengintegrasikan model tersebut seperti pada gambar ini.
model kepercayaan diri dalam olahraga
Gambar tersebut menunjukkan bahwa dimensi budaya organisasi (organizational culture) meliputi kekuatan budaya mempengaruhi perilaku manusia, seperti tingkat kompetisi, keadaan motivasi atlet, tujuan dan struktur olahraga yang diharapkan, dan pengaruh sumber-sumber lain, dan kepercayaan diri atlet yang bersangkutan. Selanjutnya, kemampuan fisik dan karakteristik atlet (physical skill and characteristic) dan faktor yang tidak bisa dikendalikan (uncontrolable external factor) seperti cuaca dan faktor lawan sangat berpengaruh terhadap penampilan atlet Bagaimanapun model tersebut berpusat kepada konstruk dan proses yang diprediksi mempengaruhi penampilan olahraga, khususnya konstruk kepercayaan diri dalam olahraga (sport confidence construct).

Terdapat tiga ranah yang menjadi sumber terbentuknya kepercayaan diri, Lane (2008: 54) menjelaskan: "The three domains presenting sources of confidence (achievement, self regulation, and social climate), and the ABC's of psychology (affect, behavior, and cognition)". Pendapat tersebut menekankan bahwa kepercayaan diri dibentuk oleh tiga ranah yaitu prestasi, regulasi diri, dan iklim sosial. Selain itu ABC's psikologis sangat menentukan juga yang meliputi bersikap atau merasakan, perilaku, dan kognitif. Ketiga ranah dalam ABC's psikologis dipandang memiliki hubungan yang sangat penting dalam rangka memahami bagaimana kepercayaan diri mempengaruhi penampilan atlet, yaitu melalui bagaimana atlet bersikap atau merasakan (affect), merespon (behavior), dan berpikir (cognition) sesuatu yang terjadi kepada dirinya dalam olahraga.

Kepercayaan diri sangat berhubungan dengan konsistensi emosi positif seperti kegembiraan dan kebahagiaan (excitment and happiness), sedangkan kepercayaan diri yang rendah berhubungan dengan emosi negatif seperti kecemasan (anxiety), keraguan, dan depresi. Kepercayaan diri bisa dijadikan sebagai faktor penting dalam rangka menginterpretasikan gejala-gejala kecemasan sebelum pertandingan. Hal ini sesuai dengan beberapa laporan atlet yang menampilkan penampilan luar biasa ketika mereka merasa cemas dan percaya diri pada level moderat. Sebaliknya apa yang dijelaskan Jones & Han ton (2001) yang dikutip Lane (2008: 55) bahwa: "Conversely, performers who experience high anxiety without the accompanying feeling of confidence may suffer performance decrements".

Kepercayaan diri juga berhubungan dengan pembentukan perilaku berprestasi, seperti meningkatkan usaha dan ketekunan (effort and persistency). Bandura (1997) menjelaskan: "Research would seem to suggest that athletes will exert maxmum effort in the pursuit of their goals, but only if they believe they have a reasonable chance of success. A strong sense of confidence has also been associated with challenging goals being set and the expenditure of maximal effort and persistence in the achievement of those goals". Atlet yang memiliki kepercayaan diri cenderung berhasil dan sekaligus menunjukkan prestasi yang terbaik.

Kepercayaan diri juga berhubungan dengan keterampilan dan efisiensi dalam menggunakan ranah kognitif yang penting untuk mencapai sukses dalam olahraga. Hal ini senada dengan apa yang dijelaskan oleh Vealey (2001) yaitu: "Confident individuals have also been found to be more skilled and eficient in using the cognitive resources necessary for sporting success". Lebih lanjut Cresswell & Hodge (2004) menjelaskan: "Confidence has been found to influence the coping process of athletes. More specifically, athletes who possess a strong belief in their ability have reported being able to peak under pressure and cope successfully with adverse situation during competition". Pendapat tersebut, menegaskan bahwa kepercayaan diri sangat berpengaruh terhadap keberhasilan olahraga, atlet yakin pada kemampuan yang dimilikinya dan mampu bertahan dalam berbagai tekanan yang kurang baik selama kompetisi.

Optimalisasi Kepercayaan Diri


Kepercayaan diri merupakan faktor penentu dalam penampilan, karena menjadi faktor penentu maka kepercayaan diri harus bersifat optimal. Kepercayaan diri berlebihan (over confidence) terjadi manakala atlet menilai    kemampuan dirinya melebihi dari kemampuan yang dimiliki lawan. Weinberg & Gould (1995: 303) menjelaskan: "Overconfidence is much less a problem than underconfidence". Keadaan seperti ini akan berakibat kurang menguntungkan, karena atlet sering "menganggap enteng" lawan dan sering merasa tidak akan terkalahkan oleh siapapun, tetapi sebaliknya atlet dapat dikalahkan oleh lawan yang diperkirakan kemampuan atlet di bawah kelasnya. Sebab-sebab kegagalan dan frustrasi erat hubungannnya dengan sikap "over convidence". Atlet yang demikian sering memperkirakan kemampuannya melebihi kemampuan yang dimilikinya, sehingga sering perhitungannya salah dalam menghadapi pertandingan dan berakibat kegagalan.

Banyak atlet yang memiliki kemampuan fisik, teknik, dan taktik, untuk mencapai sukses, tetapi karena kurang memiliki kepercayaan diri untuk menampilkan kemampuan tersebut di bawah tekanan. Atlet yang memiliki kepercayaan diri yang kurang "lack of confidence" seringkali terikat dengan keterampilan spesifik, atlet cenderung menetapkan target lebih rendah dari tingkat kemampuannya, sehingga prestasinya juga rendah. Keadaan "lack of confidence" tidak akan mengantarkan atlet pada kesuksesan.

Begitupun atlet "full confidence" menetapkan target sesuai dengan kemampuannya dengan penuh percaya diri, atlet akan berusaha mencapai target yang ditetapkan sendiri. Kegagalan yang dihadapi tidak mudah menimbulkan frustrasi. Dengan modal percaya diri atlet tidak mudah gentar dalam menghadapi segala kemungkinan, begitupun kekalahan atau kegagalan yang pernah dialami dan tidak mudah menimbulkan ketidakstabilan emosional (Setyobroto, 1989). Optimalisasi kepercayaan diri untuk penampilan atlet sangat penting, karena kepercayaan diri yang optimal menunjukkan prestasi yang maksimal. Penjelasan tersebut dapat digambarkan pada kurva U terbalik (inverted U) seperti terlihat pada Gambar di bawah ini.
hubungan percaya diri dengan penampilan atlet
Kepercayaan diri yang optimal diyakinkan bahwa atlet dapat mencapai tujuan maksimal yang telah ditetapkan dengan diimbangi kerja keras. Atlet yang memiliki tingkat kepercayaan diri optimal segala perrmasalahan yang datang mempengaruhi diri dan penampilannya bisa dihindarkan dengan cara menumbuhkan kepercayaan dirinya Sehingga penampilan puncak atlet tetap dapat dicapai maksimal.

Pelatih harus mampu menghadapi atlet yang kurang memiliki percaya diri, sehingga dapat membantu atlet merasakan identitas dirinya (sense of identity) yaitu untuk lebih memahami apa yang terjadi pada dirinya. Peran pelatih dalam hal ini sangat penting, yaitu memberikan penilaian secara rasional, yang ditekankan pada kekalahan dan kemenangan yang dialami atlet. Hal ini akan memberikan dampak positif untuk membangkitkan semangat atlet menghadapi masa depan, hindarkan atlet untuk merenungkan dan meratapi kegagalan demi kegagalan yang dialaminya. Persepsi atlet sangat erat hubungannya dengan kepercayaan diri, oleh sebab itu atlet yang kurang memiliki kepercayaan diri biasanya mempersepsikan dirinya memiliki kemampuan rendah dibanding atlet lainnya, akibatnya tidak dapat mencapai prestasi maksimal.

Sekian postingan kali ini, jadi untuk mendapatkan prestasi yang maksimal, seorang atlet harus berada pada posisi "full confidence" (percaya diri) bukan "lack of confidence" (kurang percaya diri) yang merasa bahwa dirinya tidak mempunyai kemampuan atau bahkan "over confidence (terlalu percaya diri) yang membuat diri atlet menganggap enteng lawan, dan biasanya hal tersebut bisa membuat atlet menjadi gagal dan dibenci oleh atlet lainnya.

Semoga bisa bermanfaat. Terima Kasih.

Sumber : Dr. Komarudin, M.Pd.  2013. Psikologi olahraga.