Website Olahraga

Cara Mengatasi Cedera Cabang Olahraga Renang

Sunday, December 27, 2015

Cara Mengatasi Cedera Cabang Olahraga Renang

Pengertian Cedera Olahraga
Cedera atau luka adalah sesuatu kerusakan pada struktur atau fungsi tubuh yang dikarenakan suatu paksaan atau tekanan fisik maupun kimiawi.
Cedera adalah suatu akibat daripada gaya-gaya yang bekerja pada tubuh atau sebagian daripada tubuh dimana melampaui kemampuan tubuh untuk mengatasinya, gaya-gaya ini bisa berlangsung dengan cepat atau jangka lama.
Cedera sering dialami oleh seorang atlit, seperti cedera goresan, robek pada ligamen, atau patah tulang karena terjatuh. Cedera tersebut biasanya memerlukan pertolongan yang profesional dengan segera.
Cara yang lebih efektif dalam mengatasi cedera adalah dengan memahami beberapa jenis cedera dan mengenali bagaimana tubuh kita memberikan respon terhadap cedera tersebut. Juga, akan dapat untuk memahami tubuh kita, sehingga dapat mengetahui apa yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya cedera, bagaimana mendeteksi suatu cedera agar tidak terjadi parah, bagaimana mengobatinya dan kapan meminta pengobatan secara profesional (memeriksakan diri ke dokter).
Cedera Olah Raga adalah cedera pada sistem otot dan rangka tubuh yang disebabkan oleh kegiatan olah raga. Cedera Olahraga adalah rasa sakit yang ditimbulkan karena olahraga, sehingga dapat menimbulkan cacat, luka dan rusak pada otot atau sendi serta bagian lain dari tubuh.
Cedera olahraga jika tidak ditangani dengan cepat dan benar dapat mengakibatkan gangguan atau ; keterbatasan fisik. Bahkan bagi atlit cedera ini bisa berarti istirahat yang cukup lama dan mungkin harus meninggalkan sama sekali hobi dan profesinya. Oleh sebab itu dalam penaganan cedera olahraga harus dilakukan secara tim yang multidisipliner.

Macam – Macam Cedera Renang
Renang : pada pemula-pemula dapat terjadi kontak dengan papan loncat pada waktu jatuh (menurun).dengan hal ini terjadi kulit cedera dan juga superficial bruising dalam perut terjadi pada “belly flop“ (masuk air dengan tertelungkup), kalau kolam renang kurang dalam, dapat terjadi cedera tengkuk atau muka, karena terbetur pada dasar kolam. Juga dapat terjadi concussion,tengkorak karena fracture, atau fracture-dislocation pada tengkuk ( 4 anggota dapat paralysis), ini terjadi kalau dasar tengkuk kebelakang (extension). Cedera renang bisa selalu terjadi dari paling sering disebabkan oleh pemfosiran. Tiga hal paling umum dari keluhan musculoskeletal melibatkan bahu, lutut, dan kaki.
Nyeri Kaki
Benturan jari kaki pada ujung dinding dalam kolam renang ketika jatuh tergelincir dapat menyebabkan nyeri jari kaki mendadak. Namun, ketika perenang tersebut sudah melewati tingkat pemula, hal ini diharapkan tidak sering terjadi, sebab utama nyeri kaki adalah tendinitis tendo extensor kaki pada point dimana mereka ditopang oleh extensor retinaculum. Gerakan yang berulang dari kaki berasal dari plantar flexion yang ekstrim hingga normal kembali pada gerakan kaki renang gaya bebas, gaya dada, dan kupu-kupu yang menyebabkan sindrom ini. Buku epidemialogis telah menunjukkan bahwa pemforsiran dan cedera yang akut pada kaki dan engkel adalah 15% dan 30% dari masalah para perenang.
Nyeri Lutut
Sering ditunjukkan pada “ lutut perenang gaya dada” nyeri lutut perenang disebabkan oleh tekanan ‘valgus’ pada lutut disebabkan ayunan kaki ketika berenang gaya dada. Hal ini menimbulkan adanya “tekanan medial eollateral ligament”, kelainan patello femoral atau sindrom “medial synovial plica”. Lutut yang nyeri tidak hanya terjadi pada pemula dengan tekhnik kaki gaya dada yang rendah tetapi juga pada perenang gaya dada profesional sebagai akibat ayunan kaki yang terlalu kuat dan tingginya jumlah ayunan kaki.
Nyeri Bahu
Survey terkini pada 1262 perenang Amerika menyatakan bahwa cedera bahu sudah biasa, sejarah terjadinya cedera bahu ditemukan pada 47% perenang pemula (usia 13-14 tahun), 66% perenang senior (15-16 tahun) dan 73% perenang ahli. Survey ini ditunjukkan khusus untuk cedera yang terjadi pada saat pelatihan atau kompetisi. Kecelakaan yang berhubungan cedera bahu lebih tinggi dan akan terjadi mendekati 90% dari populasi tertentu.
Keram Otot
Kram otot adalah kontraksi yang terus menerus yang dialami oleh otot atau sekelompok otot dan mengakibatkan rasa nyeri. (Hardianto Wibowo, 1995: 31) penyebab kram adalah otot yang terlalu lelah, kurangnya pemanasan serta peregangan, adanya gangguan sirkulasi darah yang menuju ke otot sehingga menimbulkan kejang.

Ada beberapa hal yang mempengaruhi kramp khususnya dalam olahraga renang antara lain :
  1. Karena kesalahan sistematika dan metode latihan,
  2. Terjadinya perubahan temperatur yang mendadak,
  3. Tubuh kita kekurangan garam,
  4. Badan terlalu 3 lelah atau timbunan asam laktat pada otot yang berlebihan,
  5. Kurangnya warming-up sebelum latihan,
  6. Rendahnya kadar mineral (kalsium, magnesium),
  7. Terhambatnya aliran darah ke otot akibat kontraksi otot yang terus menerus, dan
  8. Adanya tumpang tindih antara miosin filamin hingga menimbulkan kramp.
Kram yang mungkin terjadi yaitu:
  1. Otot Perut (Abdominal)
  2. Otot betis (Gastrocnenius)
  3. Otot paha belakang (Hamstring)
  4. Otot telapak kaki
Penyebab Cedera
Beberapa faktor penting yang ada perlu diperhatikan sebagai penyebab cedara olahraga.
1. Faktor olahragawan/olahragawati
  • Umur. Faktor umur sangat menentukan karena mempengaruhi kekuatan serta kekenyalan jaringan. Misalnya pada umur 30-40 tahun raluman kekuatan otot akan relative menurun. Elastisitas tendon dan ligament menurun pada usia 30 tahun. Kegiatan-kegiatan fisik mencapai puncaknya pada usia 20-40 tahun.
  • Faktor pribadi. Kematangan (motoritas) seorang olahraga akan lebih mudah dan lebih sering mengalami cedera dibandingkan dengan olahragawan yang sudah berpengalaman.
  • Pengalaman. Bagi atlit yang baru terjun akan lebih mudah terkena cedera dibandingkan dengan olahragawan atau atlit yang sudah berpengalaman.
  • Tingkat latihan. Betapa penting peran latihan yaitu pemberian awal dasar latihan fisik untuk menghindari terjadinya cedera, namun sebaliknya latihan yang terlalu berlebihan bias mengakibatkan cedera karena “over use”.
  • Teknik. Perlu diciptakan teknik yang benar untuk menghindari cedera. Dalam melakukan teknik yang salah maka akan menyebabkan cedera.
  • Kemampuan awal (warming up). Kecenderungan tinggi apabila tidak dilakukan dengan pemanasan, sehingga terhindar dari cedera yang tidak di inginkan. Misalnya : terjadi sprain, strain ataupun rupture tendon dan lain-lain.
  • Recovery period. Memberi waktu istirahat pada organ-organ tubuh termasuk sistem musculoskeletal setelah dipergunakan untuk bermain perlu untuk recovery (pulih awal) dimana kondisi organ-organ itu menjadi prima lagi, dengan demikaian kemungkinan terjadinya cedera bisa dihindari.
  • Kondisi tubuh yang “fit”. Kondisi yang kurang sehat sebaiknya jangan dipaksakan untuk berolahrag, karena kondisi semua jaringan dipengaruhi sehingga mempercepat atau mempermudah terjadinya cedera.
  • Keseimbangan Nutrisi. Keseimbangan nutrisi baik berupa kalori, cairan, vitamin yang cukup untuk kebutuhan tubuh yang sehat.
  • Hal-hal yang umum. Tidur untuk istirahat yang cukup, hindari minuman beralkohol, rokok dan yang lain.
Peralatan dan Fasilitas
Peralatan : bila kurang atau tidak memadai, design yang jelek dan kurang baik akan mudah terjadinya cedera.
Fasilitas : kemungkinan alat-alat proteksi badan, jenis olahraga yang bersifat body contack, serta jenis olahraga yang khusus.
Faktor karakter dari pada olahraga tersebut
Masing-masing cabang olahrag mempunyai tujuan tertentu. Missal olahraga yang kompetitif biasanya mengundang cedera olahraga dan sebagainya, ini semua harus diketahui sebelumnya.
Cedera yang sering terjadi
Swimmer’s Shoulder yaitu cedera yang timbul pada cabang olahraga renang dan polo air dimana terjadi rasa nyeri di daerah bahu karena terlalu banyak dipakainya persendian bahu tersebut (over use). Nyeri di bahu ini disebabkan karena tersentuhnya atau tergeseknya tendo-tendo dari otot-otot yang terdapat pada atap bahu, terutama otot supraspinatus. Hal ini disebabkan oleh pergerakan sendi bahu yang sering digerakkan sampai beribu-ribu kali. SWIMMER’S SHOULDER Pada kesempatan ini kami lebih memfokuskan pada Swimmer’s Shoulder karena cedera ini merupakan keluhan yang paling sering dan umum diderita oleh perenang, sehingga dapat mengganggu proses latihan. Jika hal tersebut berlarut-larut tidak segera teratasi dapat menimbulkan gangguan yang serius bagi perenang, dapat menurunkan kinerja, dan prestasinya tidak dapat optimal.
Cedera bahu ini cukup lama penanganannya, paling tidak memerlukan waktu antara 2 sampai 3 bulan dan pengaruhnya sangat besar pada diri perenang, karena sebagian perenang mengalami trauma setelah mengalami cedera bahu ini. Perenang merasa 4 canggung, enggan, dan malas untuk berlatih berenang, kalaupun memutuskan tetap berlatih biasanya latihannya tidak sekeras dan sesemangat ketika perenang belum mengalami cedera bahu. Kondisi tersebut lama kelamaan mengakibatkan prestasinya semakin menurun dan akhirnya memutuskan untuk berhenti berlatih berenang. Cedera bahu berawal dari kurang perhatian dan kurang dirasakan oleh perenang saat gejala-gejala mulai timbul, biasanya baru disadari ketika gejala cedera bahu menjadi akut. Kemajuan dalam pemahaman dari beberapa disiplin ilmu, sangat membantu dalam mengidentifikasi dan mengoreksi suatu gerakan dalam setiap gaya dalam berenang.
Penanganan cedera
Pemeriksaan terhadap perenang yang mengalami cedera sendi bahu meliputi inspeksi, palpasi, range of movement, tes kekuatan dan tes neurologis. Pemeriksaan juga dilakukan terhadap vetebra servical dan lengan untuk memastikan letak kelainan. Khusus pada pemeriksaan range of mavement antara aktif dan pasif dapat memberi petunjuk 5 adanya kelainan otot, tendo atau saraf. Tidak kalah pentingnya adalah pemeriksaan dengan membandingkan bahu kontra lateral (bahu yang tidak sakit) Tanda-tanda terjadinya Swimmer’s Shoulder antara lain : nyeri di daerah bahu, terutama terjadi di daerah bahu depan atau samping, nyeri akan terasa pada gerakan bahu ke belakang (mendayung).
Cara Penanganan (Rehabilitasi) Cedera Swimmer’s Shoulder Agar tercapai pemulihan yang sempurna, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan rehabilitasi pada cedera Swimmer’s Shoulder yaitu pada sendi, ruang gerak sendi, permukaan tulang-tulang, ligamentum, pembungkus sendi (capsula) dan otot-otot dan tendo yang ada disekitarnya.
awal pencegahannya dapat dengan metode RICE yaitu :
R : Rest (istirahat) Istirahat adalah penting karena jika latihan dilanjutkan dapat memperluas cedera.
I : Ice (Es) Pendinginan dapat mengurangi terjadinya pendarahan dari pembuluh darah yang terluka, makin banyak darah yang terkumpul di dalam sebuah luka, makin lama waktu yang diperlukan untuk penyembuhan.
C : Compression (penekanan) Penekanan dapat mengatasi pembengkaan yang apabila tidak dikontrol dapat memperlambat penyembuhan.
E : Elevation (Peninggian) Peninggian bagian yang mengalami cedera akan membantu penyaluran cairan yang berlebihan pada tempat cedera.
Pencegahaan Cedera
Terdapat strategi agar cedera dapat dihindari. Antara lain dengan melakukan pemanasan dan pendinginan dengan benar, latihan (training) dan Strenh training, Sehat jasmani dan rohani, Mematuhi aturan pertandingan.
Tujuan utama pemanasan adalah meningkatkan temperatur tubuh baik otot maupun tubuh secara keseluruhan dan untuk peregangan jaringan kolagen agar diperoleh fleksibilitas yang lebih besar. Ini akan mengurangi risiko robeknya otot maupun ligamen, serta membantu untuk mencegah nyeri otot dan tidak memiliki kelainan anatomis maupun antropometri. "Jangan anggap enteng pemanasan," demikian pesan Djamal
Pemanasan, menurut Djamal; terdiri dari pemanasan general dan pemanasan spesifik. Permanasan general biasanya berupa jogging, berlari santai, latihan/ exercise dan peregangan/ stretching.; setelah itu perlu diikuti dengan pemanasan spesifik yaitu sesuai dengan jenis olahraga pemain. Sedangkan pendinginan dapat dilakukan dengan jogging selama 30 detik sampai 1 menit, diikuti dengan jalan 3 sampai 5 menit.
Latihan (training) lanjut Djamal,; perlu dilakukan secara teratur, sistematis dan terprogram. Endurance training adalah latihan yang dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan fungsi jantung, paru dan otot agar lebih efisien dan tidak cepat lelah.
Langkah lain yang perlu diperhatikan adalah melakukiann Strength training adalah latihan yang dilakukan dengan tujuan mempersiapkan pemain untuk melakukan usaha-usaha "eksplosif" (misal pada lempar lembing). Sedangkan skill training bertujuan untuk meningkatkan katrampilan pemain dengan melakukan teknik berolahraga dari yang paling dasar sampai teknik yang paling tinggi.
Kesehatan jasmani dan rohani.juga memegang peranan penting. Kondisi sehat sangat diperlukan agar pemain dapat melakukan koordinasi gerakan dengan baik serta dengan konsentrasi yang penuh. Selain itu mematuhi aturan pertandingan.juga mempunyai andil dalam upaya pencegahan cedera olahraga. Pada body contact sports, kepatuhan pemain pada aturan pertandingan serta peran wasit yang jeli dan tegas dalam memimpin pertandingan sangatlah penting. misal pada pertandingan bela diri. Faktor tidak memiliki kelainan anatomis maupun antropometri., lanjut Djamal, misalnya kelainan anatomis tungkai X atau O, sedangkan kelainan antropometri misalnya tungkai yang tidak sama panjang dapat memberikan andil dalam cedera olahraga.
Menggunakan peralatan atau pelindung yang memadai juga perlu diperhatikan dengan seksama. Menggunakan sepatu olahraga yang sesuai atau memakai pelindung kepala atau tubuh pada jenis olahraga tertentu merupakan salah satu upaya pencegahan cedera. Dan terakghir adalah melakukan 10 prinsip utama "conditioning", yaitu pemanasan yang cukup, peningkatan kondisi secara bertahap, lama, intensitas, level kapasitas, kekuatan, motivasi, spesialisasi, relaksasi dan rutinitas.