Website Olahraga

Inovasi dalam Pendidikan Jasmani

Sunday, December 13, 2015

Inovasi dalam Pendidikan Jasmani

Salam sobat HIIT, postingan kali ini akan membahas mengenai inovasi pendidikan jasmani yang memang harus dilakukan oleh para stakeholders penjas. Jika kita perhatikan pada zaman sekarang ini terutama dalam bidang pedagogi olahraga (sport pedagogy) di Indonesia, terjadi kecenderungan pendekatan "ability to act" yang artinya bahwa peserta didik atau anak di sekolah mampu melakukan kererampilan olahraga di luar sekolah. Namun kecenderungan tersebut tidak mencapai pada tujuan untuk menjadikan siswa memiliki kemampuan "ability to act", karena tidak seimbangnya penguasaan keterampilan gerak dengan pemahaman siswa dalam melakukan sebuah gerakan. Untuk memunculkan sebuah gerakan yang otonom atau otomatis, maka dibutuhkan penanaman konsep di sistem memorinya melalui fase kognitif yaitu transfer pengetahuan.

Dalam sebuah seminar internasional, penulis pernah mendengarkan penjelasan dari pemateri yang berasal dari negeri tetangga kita yaitu Malaysia. Penjelasan tersebut mengarah pada konsep pendidikan jasmani yang bukan hanya bertujuan untuk mendapatkan kebugaran jasmani anak, melainkan ditambah dengan pemberian pengetahuan mengenai alasan kenapa siswa tersebut melakukan gerakan yang diinstruksikan oleh gurunya. Sehingga siswa paham akan manfaat melakukan gerakan yang diinstruksikan oleh gurunya. Oleh karena itu, penguasaan keterampilan oleh siswa bukan hanya semata-mata otomatisasi gerak saja. Pentingnya kemampuan kognitif, membuka dimensi baru dari teori pengajaran yang populer disebut "open instruction".

Praktek pengajaran di Indonesia berorientasi pada guru dan pendekatan deduktif untuk memperoleh keterampilan yang dianggap standar melalui penjelasan, contoh dan drill (pengulangan gerakan). Guru sibuk oleh kegiatan mengajarkan bagaimana melakukan teknik-teknik dalam suatu cabang olahraga (misalnya seperti menendang bola dalam sepak bola, dll) dan memfokuskan perhatian siswa pada pelaksanaan tugas ajar yang diinstruksikan. Akibatnya waktu dari jam pelajaran yang sudah dialokasikan pada kenyataannya tidak terisi sepenuhnya, sekitar 2/3 dari jumlah waktu yang tersedia, sehingga jumlah waktu aktif berlatih (JWAB) relatif rendah (Rusli Lutan, 1989). JWAB atau motor engagement time (MET) dapat dipakai sebagai indikator efektifitas pengajaran.

JWAB rendah bisa dikarenakan oleh beberapa faktor seperti banyaknya terbuang waktu oleh aktifitas ganti pakaian, perjalanan menuju lapangan, mengecek kehadiran dan sebagian besar siswa pasif karena lama menunggu giliran. Hal ini bukan hanya karena kelemahan dalam pengorganisasian pengajaran, tetapi konsekuensi dari pendekatan deduktif yang mengutamakan penguasaan keterampilan dasar yang tidak didukung oleh fasilitas dan alat-alat olahraga. Dengan kondisi tersebut, untuk memberikan pengalaman gerak dan suasana bermain pada siswa yang justru merupakan media pencapaian tujuan penting lainnya berupa penanaman karakter jiwa anak seperti kerja sama, fair play, keadilan dll sangat terbatas.

Sebagai lawan dari pendekatan "guru sentris" maka trend baru adalah penerapan pendekatan instruksi terbuka (open instructions) yang sedang digalakkan dimana-mana seperti halnya di Inggris dengan pendekatan pemecahan masalah dan pemanfaatan mini game. Menurut Hildebrandt dan Laging (1981) serta kelompok kerja Frankrut (1982), instruksi terbuka menekankan pendekatan non-directive dan metode penemuan (discovering) yang memungkinkan siswa untuk melakukan pemecahan masalah dengan cara baru. Tidak ada istilah gerak yang salah atau benar dan tak ada pula langkah-langkah belajar yang eksak (pasti). Proses belajar mengajar ditandai oleh suasana aktivitas sendiri berdasarkan kemampuan sendiri, kerja sama dan tanpa iklim hierarkhi sosial yang kaku antara guru dengan siswa. Guru berperan sebagai konselor dan organisator yang memberikan petunjuk praktis, menyediakan tema, menawarkan tugas dan tidak begitu peduli terhadap tujuan, karena orientasinya pada keterampilan proses sehingga menjadikan siswa benar-benar sebagai subyek bukan obyek.

Trend berikutnya adalah penerapan paradigma "body experience" sebagai gerakan baru untuk melawan budaya industrial dan olahraga dengan memanfaatkan kegiatan non-olahraga. Dalam pendekatan kecabangan olahraga, maka badan dipandang sebagai instrumen. Karena itu yang perlu ditekankan adalah proses bergerak, bukan terfokus dalam belajar teknik olahraganya. Menurut Funke (1983) body experience berasal dari persepsi. Secara didaktis, pendekatan itu berupa perubahan ketegangan dalam tubuh dan relaksasi, gerakan percepatan, gerakan mengayun, kontak badan dengan orang lain, persepsi terhadap pernafasan dan denyut jantung seperti halnya persepsi terhadap perubahan tubuh melalui perubahan otot. Treutlien (1986) mengemukakan Body Experience ini dialami juga dalam olahraga tradisional. Inilah yang menjadi daya tarik bagi pelaku olahraga tradisional seperti tai-chi yang banyak ditandai dengan gerakan ringan dan ritme atau persepsi terhadap tubuh.

Belajar dan Berlatih

Ketika berbicara keterampilan gerak berupa penguasaan gerak teknik dasar tertentu, maka di dalamnya terlibat kecakapan sistem saraf peserta didik untuk menguasai gerakan tersebut sehingga disebut belajar gerak. Karena yang namanya belajar merupakan konsep dari tidak bisa menjadi bisa dan melibatkan kemampuan memori di otak untuk menyimpan pola gerak yang diajarkan oleh gurunya. Berbeda dengan berlatih, konsep dari berlatih merupakan peningkatan kemampuan tubuh dari yang bisa menjadi mahir. 

Sekian postingan kali ini, semoga bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Terima Kasih.