Website Olahraga

Mengatasi Cedera Pada Cabang Olahraga Tarung Derajat

Thursday, December 17, 2015

Mengatasi Cedera Pada Cabang Olahraga Tarung Derajat

Cedera atau luka adalah sesuatu kerusakan pada struktur atau fungsi tubuh yang dikarenakan suatu paksaan atau tekanan fisik maupun kimiawi. Cedera adalah suatu akibat daripada gaya-gaya yang bekerja pada tubuh atau sebagian daripada tubuh dimana melampaui kemampuan tubuh untuk mengatasinya, gaya-gaya ini bisa berlangsung dengan cepat atau jangka lama. Cedera sering dialami oleh seorang atlit, seperti cedera goresan, robek pada ligamen, atau patah tulang karena terjatuh. Cedera tersebut biasanya memerlukan pertolongan yang profesional dengan segera.

Cara yang lebih efektif dalam mengatasi cedera adalah dengan memahami beberapa jenis cedera dan mengenali bagaimana tubuh kita memberikan respon terhadap cedera tersebut. Juga, akan dapat untuk memahami tubuh kita, sehingga dapat mengetahui apa yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya cedera, bagaimana mendeteksi suatu cedera agar tidak terjadi parah, bagaimana mengobatinya dan kapan meminta pengobatan secara profesional (memeriksakan diri ke dokter).

Tarung Derajat itu adalah Ilmu Olahraga Seni Pembelaan Diri yang memanfaatkan Senyawa Daya Gerak Otot, Otak serta Nurani secara Realistis dan Rasional, didalam proses pembelajaran dan pemberlatihan gerakan-gerakan seluruh anggota dan organ tubuh serta bagian-bagian penting lainnnya, dalam rangka memiliki dan menerapkan 5 (lima) unsur daya moral, antara lain yaitu : Kekuatan – Kecepatan – Ketepatan – Keberanian dan Keuletan, yang melekat dengan Dinamis dan Agresif dalam suatu Sistem Ketahanan / Pertahanan diri serta Pola Teknik, Taktik dan Strategi Bertahan menyerang yang Praktis dan Efektif bagi suatu Pembelaan Diri. 

Secara umum ada dua jenis cedera dalam berolahraga. Cedera langsung (traumatic injury) maupun tidak langsung (overuse injury).

Traumatic Injury
yaitu cedera yang timbul langsung pada sa'at melakukan suatu gerakan, sehingga dapat dilihat dengan jelas penyebabnya. Misalnya jatuh, salah gerak, benturan, dan lain-lain sehingga menyebabkan robekan/putusnya jaringan lunak (soft tissue) seperti ligamen, otot, tendon hingga terjadinya fraktur (patah tulang). Pada kondisi yang seperti ini, diperlukan penanganan medis professional seperti dokter atau fisioterapis.

Overuse Injury
yaitu cedera yang timbulnya tidak langsung/ berlahan-lahan, diakibatkan karena tekanan berulang-ulang biasanya diakibatkan karena pemakaian berlebihan atau terlalu lelah. Berhubungan dengan beratnya beban latihan, istirahat yang kurang, perawatan cedera sebelumnya yang kurang tepat serta persiapan dalam pertandingan seperti warming up, stretching dan cooling down setelah pertandingan yang kurang maksimal dan efektif.

Pada saat cedera, tubuh meresponnya dengan tanda-tanda peradangan dari dalam tubuh seperti rubor (kemerahan), tumor (bengkak), kalor (panas), dolor (nyeri) serta functiolesa (penurunan fungsi). Respon tersebut bertujuan untuk memulihkan jaringan yang cedera.

Pembuluh darah di tempat yang mengalami cedera akan melebar (vasodilatasi) dengan maksud untuk mengirim lebih banyak nutrisi dan oksigen supaya mempercepat penyembuhan. Adanya pelebaran pembuluh darah ini menyebabkan tempat yang cedera menjadi lebih terlihat kemerahan (rubor), dan darah yang banyak ini akan merembes dari kapiler menuju ruang antar sel sehingga akan terlihat bengkak (tumor). Karena banyaknya nutrisi dan oksigen sehingga metabolisme meningkat dengan sisa metabolisme berupa panas (kalor). Tumpukan sisa metabolisme dan zat kimia lainnya ini akan merangsang syaraf perasa nyeri di tempat yang cedera sehingga timbul nyeri (dolor). Semuanya akan mengakibatkan penurunan fungsi sendi (functiolesa).

Penyebab timbulnya cedera bisa karena sebab-sebab yang berasal dari luar  (External violence) ataupun sebab-sebab yang berasal dari dalam (Internal violence).

External violence
Adalah cedera yang timbul/ terjadi karena pengaruh atau sebab yang berasal dari luar, misalnya:
  • Karena kontak/ benturan langsung, baik karena pukulan, tendangan, bantingan ataupun kuncian.
  • Karena alat-alat ataupun senjata yang digunakan.
  • Karena kondisi lapangan atau tempat yang tidak memenuhi syarat sehingga membuat terpeleset, terbentur pada lantai yang keras.. dll.
Internal Violence
Adalah cedera yang timbul/ terjadi karena pengaruh atau sebab yang berasal dari dalam, misalnya:
  • Cedera karena koordinasi otot-otot dan sendi yang kurang sempurna, sehingga menimbulkan gerakan-gerakan yang salah, sehingga menimbulkan cedera.
  • Kurangnya pemanasan, kurang konsentrasi ataupun dalam keadaan fisik dan mental yang lemah.
  • Karena tekanan atau gerakan berulang-ulang, yang berlebihan (lebih dari biasanya/ melebihi kemampuan).

Cedera yang sering terjadi pada olah raga beladiri bisa hanya ringan, seperti:
* Lebab, memar.
* Perdarahan pada hidung, perdarahan pada sudut  mulut .

Atau cedera yang parah, seperti :
  • Fraktur (Patah tulang) pada rahang, tangan, kaki dan tulang iga.
  • Bergeser atau terlepasnya engsel/ sendi.
  • Pecahnya organ dalam seperti hati, limpa dan organ-organ berongga.
  • Luka terbuka pada bibir, pelipis, kelopak mata,gigi patah atau masuk ke dalam muka, patah tulang rusuk, patah pada pengumpil dan hasta, dislokasi sendi bahu dan sendi lengan
  • Cedera pada kepala, yang menyebabkan gangguan konsentrasi, penurunan kesadaran, pingsan ataupun gegar otak. Bahkan pendarahan otak yang bisa menyebabkan kematian.
Penanganan yang tepat pada saat cedera akut akan mempercepat proses penyembuhan dan menghindari terjadinya komplikasi yang lebih berat.
Pertolongan pertama pada cedera olahraga sangat penting untuk diketahui, karena penanganan yang tepat pada saat cedera akut akan mempercepat proses penyembuhan dan menghindari terjadinya komplikasi yang lebih berat.

Apa yang harus dilakukan pada 48-72 jam pertama setelah cedera olahraga ?

Rest
Mengistirahatkan area yang cedera.
Pergerakan yang berlebihan pada area yang cedera dapat meningkatkan aliran darah ke area cedera, sehingga menyebabkan perdarahan semakin banyak, hal ini ditandai dengan bengkak yang semakin besar, dan dapat meyebabkan kerusakan jaringan yang cedera berlebih. Bila perlu meminimalisasi pergerakan pada area yang cedera dapat menggunakan proteksi dengan brace/tapping pada saat melakukan aktvitas.
Ice
Lakukan kompres es di lokasi cedera.
Kompres es ini sebaiknya dilakukan pada 48 -72 jam pertama setelah cedera olahraga, selama 15-20 menit tiap 2-3 jam. Sebaiknya menghindari kontak langsung dengan es, untuk mencegah kerusakan kulit di area cedera. Disarankan menggunakan ice bag atau es dimasukkan ke dalam plastik dan dibungkus dengan handuk tipis. Hati-hati penggunaan aplikasi es ini pada anak-anak karena mempunyai toleransi yang rendah terhadap dingin.
Compression
Lakukan kompresi / bebat pada area yang cedera.
Melakukan kompresi atau bebat dapat menggunakan bebat elastik atau non adhesive bandage di area cedera, hal ini berfungsi untuk menghentikan perdarahan di jaringan yang cedera dan mengurangi bengkak.
Elevation
Elevasikan area yang cedera lebih tinggi dari level jantung.
Mengelevasikan area yang cedera dapat mengurangi perdarahan dan bengkak. Hal ini dapat dengan cara mengganjal dengan bantal pada saat duduk atau tiduran, dapat juga menggunakan sling apabila area cedera pada ekstremitas atas.
Kontra indikasi :Tidak disarankan penggunaan metode RICE pada :
  • Individu yang alergi atau hipersensitif terhadap dingin
  • Pada luka terbuka
  • Individu yang mempunyai masalah pembuluh darah dan jantung
  • Kram Otot
  • Individu dengan gangguan saraf
  • Lakukan kompres es di lokasi cedera.
Semua olahraga beladiri memiliki risiko cedera. Kondisi ini merupakan kondisi yang sangat dihindari. Karena pada saat cedera, disamping timbulnya rasa ketidaknyamanan dalam melakukan aktivitas sehari-hari, pada sebuah pertandingan akan menyebabkan kualitas dan performa atlet di lapangan akan menurun.

TIM PENULIS
Moch Isa Adam M
Tyas Andrianto
Hasbi Asshidiqi
Surya Permana S
Fahmi Fadilah
Adi Fauzi S
Arga Firdaus
Mahasiswa PJKR Universitas Siliwangi 2013