Website Olahraga

Penanganan Beberapa Cedera Pada Cabang Olahraga Tenis Lapang

Friday, December 25, 2015

Penanganan Beberapa Cedera Pada Cabang Olahraga Tenis Lapang

Cedera Tenis Lapang

Macam-macam Cedera Pada Olahraga Tenis

Cedera adalah suatu akibat daripada gaya-gaya yang bekerja pada tubuh atau sebagian daripada tubuh dimana melampaui kemampuan tubuh untuk mengatasinya, gaya-gaya ini bisa berlangsung dengan cepat atau jangka lama. Dengan kata lain cedera adalah kerusakan atau luka yang dialami atau diderita oleh seseorang. Sedangkan cedera olahraga adalah kerusakan yang terjadi pada bagian tubuh saat melakukan olahraga, latihan atau pertandingan dan setelahnya akibat adanya kekuatan yang berlebih yang menimpa sistem musculoskeletal atau system tubuh lainnya. Berikut macam-macam cedera olahraga pada cabang olahraga tenis:

Tennis Elbow / Lateral Epycondylitis

tennis elbow injuriesTennis elbow atau lateral epicondylitis adalah cedera paling umum yang terjadi pada pemain tenis, nama tenis sendiri diindikasikan memang dari nama cabang olahraga tersebut. Walaupun demikian orang-orang yang tidak mengetahui dan tidak pernah tenispun juga tak luput terkena cedera ini tetapi jumlahnya tidak seberapa dibandingkan dengan orang yang mempunyai hobi bermain tenis. Tennis elbow umumnya terjadi pada tendon dari otot exstensor carpi radialis brevis, yang letaknya dipinggir kira-kira 2cm dibawah sendi siku atau di epicondylus lateralis tulang humerus. Pada cedera ini jarang dijumpai adanya peradangan sendi tetapi nyeri yang hebat disebakan adanya peningkatan dari reseptor nyeri sehingga daerah siku terasa perih atau nyeri.
Sendi siku dibentuk oleh 3 tulang yaitu tulang lengan atas (humerus) dan tulang lengan bawah (radius dan ulna). Pada bagian bawah tulang humerus, terdapat tonjolan tulang di sebelah luar siku, yang disebut sebagai Epikondilus Lateral. Epikondilus lateral menjadi tempat melekatnya tendon otot lengan bawah (Extensor Carpi Radialis Brevis) yang berfungsi untuk menggerakkan lengan bawah ke arah luar atau menstabilkan pergelangan tangan ketika siku lurus (ekstensi /meluruskan lengan bawah).
Tennis elbow merupakan salah satu cedera karena penggunaan yang berlebihan (overuse). Cedera karena overuse pada umumnya adalah karena penggunaan yang terlalu banyak dan terlalu cepat melakukan latihan yang sebenarnya melampaui kemampuannya. Pemain tenis yang memiliki resiko tinggi mengalami tennis elbow adalah yang memiliki kondisi fisik yang jelek.
Ada dua macam tennis elbow, yaitu backhand tennis elbow (classic tennis elbow) dan forehand tennis elbow. Yang pertama lebih sering dialami oleh para petenis biasa, artinya bukan petenis profesional atau bukan atlet (olahragawan) tenis. Pada tennis elbow yang mengalami sakit bukalah pada siku, tetapi pada tendon, perlekatan otot pada tulang dari otot yang berada di belakang dari lengan; otot-otot ini bertugas untuk membengkokkan tangan dan pergelangan tangan.

Cedera Pada Bahu/Rotator Cuff Tendonitis

Sendi bahu merupakan bagian yang sangat tidak stabil. Dan pada sendi bahu, terdapat tendon yang mempunyai peran penting, yaitu rotator cuff dan biceps. Shoulder tendonitis (atau rotator cuff tendonitis) adalah salah satu kondisi paling umum yang terjadi pada persendian bahu (rotator cuff).
Rotator Cuff TendonitisRotator cuff adalah tendon yang mengelilingi sendi bahu. Sendi bahu dapat bergerak dan mengubah melalui jangkauan yang lebih luas daripada sendi lainnya di tubuh. Istilah rotator cuff dipergunakan untuk jaringan ikat fibrosa yang mengelilingi bagian atas tulang humerus. Ini dibentuk dengan bersatunya tendon-tendon atap bahu. Keempat tendon tersebut adalah musculus supraspinatus, musculus infraspinatus, musculus teres minor dan musculus subscapularis. Jadi, cedera rotator cuff adalah suatu kerusakan pada struktur atau fungsi tubuh karena suatu paksaan atau tekanan fisik maupun kimiawi pada bagian tendon bahu serta penggunaan rotator cuff yang berlebihan ketika melakukan aktifitas sehingga menyebabkan tendon berlawanan dengan tulang.

Sprain Ankle

sprain ankle
Cedera ankle dikenal juga sebagai Sprain ankle atau cedera ligament ankle, pada umumnya sprain ankle ini terjadi karena robeknya sebagian dari ligament atau keseluruhan dari ligament dan hampir 85% kasus sprain ankle ini mengenai ligament talofibular anterior (Jowir, 2009:1). Ciri-ciri cedera ankle bila untuk melakukan gerakan baik perpindahan tempat maupun berdiri ada rasa nyeri dan tidak nyaman. Adanya Pembesaran disekitar ankle atau pembengkakan. Ada ruangan kosong didalam sendi ankle. Bila disentuh dan diberikan penekanan sedikit akan menimbulkan rasa sakit.

Penyebab Terjadinya Cedera

Berikut merupakan penyebab-penyebab terjadinya cedera pada olahraga tenis lapangan:

Tennis elbow
Tennis elbow sering disebabkan oleh penggunaan sendi yang melampaui batas (overuse) atau juga karena cedera otot yang berulang-ulang. Aktivitas yang sering memicu timbulnya tennis elbow adalah tennis, badmintons atau squash atau aktivitas yang berlebihan seperti mengetik komputer dan memasang skrup.
tennis elbowTeknik backhand yang buruk pada cabang olahraga yang menggunakan raket merupakan penyebab timbulnya cedera ini. Kejadian ini sering terlihat pada saat pemain terlambat melakukan backhand, hal ini berarti dia tidak memposisikan tubuhnya tepat dibelakang bola, pemain itu memukul bola dengan lemah atau menekuk pergelangan tangannya sehingga pergelangan tangannya dipaksa untuk melakukan teknik tersebut. Padahal untuk teknik backhand yang benar kekuatan untuk memukul terjadi pada tangan secara keseluruhan. Karena paksaan tersebut maka terjadi cedera pada otot dan tendon disendi siku. Masalah yang lain yang dijumpai pada olahraga beraket ini adalah pegangan raket yang terlalu kecil. Pegangan raket yang terlalu kecil berarti otot-otot disendi siku dipaksa bekerja keras sehingga terjadi perubahan struktural ditendon. Mayoritas yang terkena cedera ini berusia 40-50 tahun,tapi tidak menutup kemungkinan seorang atlet tenis yang usia dibawah 40 tahun juga terkena cedera ini.
Beberapa faktor lain penyebab tennis elbow adalah menggunakan raket terlalu berat, bola terlalu berat, senar raket terlalu tegang, grip raket yang oversize, penampilan yang kurang baik, terlalu banyak atau terlalu cepat (tidak pelan-pelan lebih dulu).
Tanda dan Gejala :
  • Adanya nyeri kira-kira 1-2 cm didaerah pingir dari sendi siku tepatnya di area epicondylus lateralis humeri.
  • Terjadi kelemahan pada otot-otot pergelangan tangan sehingga terjadi penurunan aktifitas fungsional seperti ketidakmampuan membuka pintu yang bergagang sampai ketidakmampuan melakukan aktivitas mengocok suatu benda.
  • Nyeri terjadi disendi siku bagian luar ketika tangan ekatensi dan sendi pergelangan tangan melawan tahanan.
  • Nyeri terjadi ketika adanya tekanan (palpating) dibawah epicondylus lateralis humeri
Rotator Cuff Tendonitis
Terdapat beberapa hal yang bisa menyebabkan cedera/ robek pada rotator cuff. Tekanan yang terjadi terus-menerus dan penggunaan rotator cuff yang berlebihan ketika melakukan aktifitas yang sama dapat menyebabkan tendon berlawanan dengan tulang.
Penggunaan normal seiring bertambahnya usia
Ketika kurang mendapat pasokan darah, tendon dari rotator cuff rawan mengalami degenerasi karena bertambahnya usia. Degenerasi dapat berlangsung lebih cepat akibat gerakan bahu yang berulang. Karena itu kondisi ini biasanya terjadi jika Anda berusia di atas 40 tahun.
Pengulangan gerakan
Atlet yang biasanya melakukan gerakan di atas kepala yang berulang seperti perenang, pedayung, atau pemain tenis berisiko lebih tinggi untuk menderita cedera rotator cuff. Walaupun demikian, cedera dapat juga terjadi pada aktivitas yang tampaknya sepele seperti mengangkut beban berat, mengangkat beban di atas kepala, atau menjemur pakaian.
Trauma
Rotator Cuff dapat juga rusak karena cedera yang disebabkan oleh trauma seperti jatuh atau hantaman langsung pada tangan.
Mengangkat atau menarik benda berat
Mengangkat atau menarik benda yang terlalu berat atau mengangkat dengan arah yang salah dapat menyebabkan otot atau tendon rotator cuff menjadi tegang atau putus.
Postur yang buruk
Postur kepala dan leher yang membungkuk ke depan dapat menyebabkan terjepitnya otot atau tendon yang akhirnya mengakibatkan peradangan.
Tanda dan Gejala
Gejala yang berhubungan dengan cedera/ robeknya rotator cuff awalnya hanya bersifat ringan, kemudian menjadi lebih parah pada tahap selanjutnya. Gejala penyertanya meliputi nyeri di malam hari dan nyeri hebat pada saat digunakan beraktifitas, khususnya ketika digunakan untuk menggerakkan lengan sampai diatas kepala (elevasi).
Contohnya saat tangan digunakan untuk meletakkan sesuatu di tempat yang tinggi maka akan terasa nyeri pada bagian bahunya. Gejala ini mirip dengan tendonitis atau bursitis. Tetapi, cedera rotator cuff ini agak berbeda dengan bursitis atau tendonitis. Pada orang dengan bursitis atau tendonitis, ia akan merasa lebih baik jika digunakan untuk istirahat, saat aktifitas dimodifikasi, dan saat diberikan obat anti inflamasi (seperti aspirin atau ibuprofen).
Gejala cedera/ robeknya rotator cuff tidak membaik ketika hanya diberikan terapi biasa. Pada tahap nyeri pada cedera rotator cuff selanjutnya, lengan dan bahu akan terasa lemah ketika digunakan untuk melakukan gerakan elevasi atau membentangkan lengan ke arah tubuh bagian samping. Bahkan ketika beraktifitas yang ringan, seperti mengangkat sesuatu dapat menimbulkan nyeri akut pada bahu. Pada saat malam hari rasa nyeri dapat terasa lebih parah. Nyeri ini mengindikasikan bahwa cedera/ robekan parsial rotator cuff telah berubah menjadi cedera/ robekan yang kompleks.

Penyebab Cedera Ankle
Gerakan yang sering memicu sprain ankle adalah gerakan inversi dan plantar fleksi yang tiba-tiba saat kaki tidak menumpu sempurna pada lantai. Dan juga diakibatkan karena permukaan lantai yang tidak rata (Jowir, 2009:1).
Sprain ankle terbagi menjadi beberapa derajat sprain sesuai tingkat kerusakan dan pengaruh ligamentnya. Derajat I sprain ankle umumnya terjadi penguluran pada ligamentum talofibular anterior sehingga pasien mengalami nyeri yang ringan dan sedikit bengkak. Sedangkan derajat II dan III sprain ankle, kerobekan parsial dan komplet telah terjadi pada ligamentum lateral compleks ankle (ligamentum talofibular anterior, ligamentum calcaneofibular, ligamentum calcaneocuboideum, ligamentum talocalcaneus dan ligamentum talofibular posterior). Pada derajat II dan III, pasien mengalami nyeri hebat (aktualitas tinggi), bengkak dan penurunan fungsi ankle (gangguan berjalan), sehingga umumnya pasien langsung berobat ke dokter atau fisioterapi untuk mendapatkan terapi (Jowir, 2009:2).

Cara Menangani Cedera-cedara Pada Olahraga Tenis

Tennis Elbow
Cara Menangani Cedera-cedara Pada Olahraga Tennis ElbowApabila mengalami tennis elbow, tidak ada treatment yang lebih efektif selain mengistirahatkannya dengan cukup bagian tersebut. Hal ini bukan berarti berhenti total dari kegiatan bermain tenis, boleh tidak berhenti asal dapat menghindari penyebabnya. Jika rasa sakit muncul setelah bermain, pengobatan paling baik adalah dengan es selama 10-15 menit. Pada saat tidak bermain penyembuhan dapat diteruskan dengan cara pemanasan dan pendinginan, masing-masing selama 10 menit. Ada cara yang disarankan untuk menghindari tennis elbow, yaitu: (1) meningkatkan teknik yang benar, dan (2) meningkatkan kekuatan otot, terutama sebelum mengalami cedera. Latihan kekuatan lengan yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan dumbell, dilakukan dengan posisi telapak tangan ke atas dan ke bawah. Lakukan masing-masing sepuluh kali.
Tidak ada satupun metode tunggal untuk menyelesaikan permasalahan ini, tetapi kombinasi dari beberapa metode mampu menyelesaikan kasus ini. Diantara metode itu adalah:
Mengaplikasikan es atau cold pack atau cold terapi pada siku (selama 10-20 menit 6x/hari) untuk mengurangi inflamasi dan nyeri yang terjadi.
Istirahat, mengistirahatkan sendi sangat penting untuk recovery cedera ini
Memakai brace atau support untuk melindungi tendon agar bisa recovery dan tetap terjaga kekuatannya. Brace tidak diletakkan pada tempat dimana nyeri timbu; tetapi diletakkan kira-kira 10 cm dibawah nyeri tersebut.
Mengikuti program rehabilitasi di departemen fisioterapi. Seperti penggunaan ultrasound atau laser untuk mengurangi nyeri dan peradangan selain itu uga meningkatkan proses recoveri. Pemilihan massage terapi, myofacial release atau teknik fricton juga tepat untuk cedera tendon ini.
Berkonsultasi kepada pelatih tenis profesional untuk mendapatkan teknik yang tepat ketika bermain tennis terutama untuk teknik backhand.
Rotator cuff
Umumnya, obat penghilang nyeri diberikan pada awal pengobatan. Injeksi steroid dapat diberikan untuk menghilangkan nyeri dan inflamasi. Fisioterapi disarankan untuk meningkatkan kekuatan otot bahu dan meningkatkan fleksibilitas.
Secara umum, pemulihan cedera pada sendi bahu memerlukan waktu. Untuk mempercepat waktu pemulihan agar Anda dapat berlatih kembali, gunakan formula RICE (Rest atau istirahat; Ice atau kompres dengan es; Compression atau beri tekanan dengan menggunakan membalutnya dengan perban khusus; dan Elevation atau tinggikan bagian yang mengalami cedera). Penyembuhan jaringan lunak, seperti bahu, seringkali membutuhkan waktu antara 4 hingga 6 minggu.
Sedangkan perawatan untuk cedera rotator cuff dapat meliputi: istirahat, pengobatan anti peradangan, latihan kekuatan, terapi ultrasound, injeksi corticosteroid atau operasi (untuk cedera berat). Ada beberapa jenis latihan tertentu untuk membantu Anda memperkuat otot-otot di bahu Anda (terutama otot-otot rotator cuff, bagian yang membantu dalam gerakan bahu melingkar). Latihan-latihan ini tidak menyebabkan rasa sakit. Jika terasa sakit saat latihan, hentikan, periksakan ke dokter Anda, kemudian mulai kembali berlatih dengan beban yang lebih ringan.
Sprain Ankle
Pertolongan pertama untuk keseleo adalah dengan RICE (Rest, Ice, Comppresin, dan Elevation):
Rest, Ice, Compression, Elevation RISE

REST ( Istirahat)
Tindakan Rest artinya pasien harus mengistirahatkan dan melindungi wilayah otot yang cedera. Jika terasa sakit saat menahan beban, gunakanlah penopang, dan jika terasa sakit untuk menggerakan bagian yang cedera, lindungi dengan splint atau kayu belat.
Kurangi aktifitas sehari-hari sebisa mungkin. Jangan menaruh beban pada tempat yang cedera selama 48 jam. Dapat digunakan alat bantu seperti crutch (penopang/penyangga tubuh yang terbuat dari kayu atau besi) untuk mengurangi beban pada tempat yang cedera. Aktivitas yang berlebih pada bagian tubuh yg terkena akan memicu terjadinya komplikasi lebih lanjut, misal ligamen yang robek akan semakin parah, bahkan seringkali terkilir disertai pula dengan fraktur/patah/retak pada tulang.
ICE ( Es )
Kompres dingin atau es akan menghasilkan vasokontriksi untuk mengurangi pembengkakan dengan meletakkan di bagian yang terluka selama 2-3 menit tiga kali sehari dalam 24 jam pertama. kita harus menempatkan kain di atas daerah yang cidera dengan kantong es untuk menghindari luka akibat suhu rendah. Terapi dengan kompres dingin ini harus dimulai dengan segera dan diteruskan sampai 24-36 jam setelah luka terjadi.
COMPRESS ( Kompres atau penekanan pada daerah yang cedera)
Tindakan Compress artinya menekan bagian yang mengalami cedera dengan menggunakan perban khusus (ace bandage). Perban ini di harapkan juga dapat mengikatkan kantong es di tempatnya dan tetap di lanjutkan setelah terapi dingin ingin menghindari serta mengurangi pembengkakan. Meskipun balutan ini harus rapi, pastikan bahwa perban ini tidak terlalu ketat karena dapat menimbulkan mati rasa, geli atau bahkan menambah rasa sakit.
ELEVATION ( Posisi )
Pada tindakan Elevation, pasien sebisa mungkin harus mengangkat bagian cedera lebih tinggi di atas jantung atau dada selama 24-36 jam pertama untuk memudahkan kembalinya darah dan untuk mengurangi pembengkakan. Misalnya jika yang cedera lutut, upayakan pasien dalam posisi tidur kemudian lutut diangkat atau ditopang dengan alat supaya posisinya lebih tinggi dari jantung. Teknik ini mengacu pada prinsip bejana berhubungan dan berguna untuk mengurangi pembengkakan pada bagian cedera.
Selama menjalani metode RICE, kita juga bisa diperbolehkan meminum obat-obatan penghilang rasa sakit. Namun sebaiknya konsumsi obat-obatan ini juga diawasi oleh dokter. karena di takutkan anda salah meminum obat atau salah memilih obat yang di jual bebas di pasaran.

Tim Penulis:
Oktarizaldi Anugerah
Sigit
Fakihudin
Firas Azhar
Dikdik Handika
Dede Krispenda