Website Olahraga

Mengembangkan Sport For All Menjadi Sport Science For All

Thursday, March 10, 2016

Mengembangkan Sport For All Menjadi Sport Science For All

Salam pembaca sekalian. Mengembangkan Sport For All Menjadi Sport Science For All merupakan judul postingan kali ini. Gerakan Sport For All di Indonesia lebih dikenal dengan "gerakan memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat". Gerakan tersebut secara resmi pertama kali dilontarkan oleh Presiden Republik Indonesia di depan sidang DPR RI pada tanggal 15 Agustus 1983. Pada awalnya, gerakan tersebut dapat disambut dan dilaksanakan oleh masyarakat secara baik. Hal demikian dapat terjadi karena secara bersamaan pemerintah juga membentuk Kantor Menteri Negara Pemuda dan Olahraga. Kementrian tersebut yang kemudian merancang implementasi gerakan memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat di seluruh Indonesia. Pada tahun yang sama pemerintah juga menetapkan bahwa tanggal 9 September sebagai Hari Olahraga Nasional.

Kantor Menpora RI pada waktu awal pencanangan Sport For All telah merumuskan suatu Pola Dasar Pembangunan Olahraga. Pola dasar tersebut merupakan arah pentahapan pembangunan olahraga yang seiring dan seirama dengan titik berat tujuan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita). Pentahapan tersebut meliputi : 1. akhir Repelita IV terwujud keluarga berolahraga, 2. akhir Repelita V terwujud masyarakat berolahraga, 3. akhir Repelita VI terwujud bangsa olahraga.
sport for all

Esensi Sport For All
Inti Sport For All memang lebih mengarah pada bagaimana menggerakkan masyarakat agar memiliki budaya berolahraga secara lebih baik. Kesadaran masyarakat dalam berolahraga memiliki arti yang amat penting bagi proses berseminya kemajuan prestasi olahraga. Namun ketika iklim globalisasi telah berhembus ke seluruh dunia, maka semua sektor pembangunan banyak dikelola dengan pola Research and Development (R&D). Pola pengembangan masyarakat unggul dengan R&D dipersyarati oleh mentalitis masyarakat rasional, yang berperilaku Scientific Oriented. Dengan demikian, untuk memajukan olahraga ke depan, kiranya gerakan Sport For All perlu dikembangkan menjadi gerakan Sport Science For All.

Terwujudnya suasana atmosfir masyarakat Sport Science For All bukan berarti bahwa pengembangan Iptek olahraga dapat ditangani oleh siapa saja. Akan tetapi pengembangan Iptek olahraga dibingkai oleh cara pandang masyarakat yang lebih rasional dalam memahami fenomena keolahragaan. Masyarakat yang demikian akan terhindarkan oleh berbagai pandangan yang bersifat tahayul. Tahayul adalah sebuah "keyakinan" yang bersifat kolektif tentang kebenaran atas sesuatu yang bersifat turun-menurun, tetapi kebenaran tersebut tidak pernah teruji.

Dalam masyarakat, tahayul di seputar fenomena olahraga dan performasi fisik masih banyak dijumpai. Tidak semua tahayul memiliki nilai negatif, akan tetapi sikap memprioritaskan secara berlebihan atas sebuah tahayul akan menjadikan masyarakat semakin terbelakang. Contoh tahayul: Telor setengah matang lebih memiliki khasiat yang berlipat-lipat untuk meningkatkan daya tahan tubuh atlet, sate setengah matang berkhasiat untuk mendongkrak stamina atlet, memukul otot-otot betis dapat menjadikan seseorang lebih lincah dan cepat berlari, performa atlet meningkat karena memakai batu yang dianggap bertuah, dan sebagainya. Masih banyak contoh lain tentang betapa masih suburnya tahayul dalam komunitas olahraga.

Nah sekian postingan kali ini mengenai Mengembangkan Sport For All Menjadi Sport Science For All. Berpikir ilmiah merupakan dasar bagi kemajuan olahraga kita. Terima Kasih.