Website Olahraga

Pelatih Harus Memahami Pengetahuan Sibernetika

Wednesday, August 03, 2016

Pelatih Harus Memahami Pengetahuan Sibernetika

Salam pembaca sekalian. Pengetahuan sibernetika merupakan materi yang akan dijelaskan dalam artikel ini, yang memang harus diketahui oleh para pelatih dan praktisi olahraga lainnya. Sibernetika adalah ilmu yang membandingkan fungsi sistem saraf manusia dengan mesin yang dikendalikan oleh komputer. 

Penelitian mengenai sibernetika telah membantu menyadarkan para psikolog bahwa otak dan sistem syaraf manusia dapat menggambarkan mekanisme pencapaian tujuan yang canggih sekali. Seorang pelatih yang ingin mendapatkan hasil yang baik dari atlet yang dibinanya harus berusaha memahami dasar-dasar sibernetika. (Wiener, 1961; Smith, 1981; Brown, 1977).
Pelatih Harus Memahami Pengetahuan Sibernetika
Semuanya tergantung dari bagaimana cara seseorang memprogram sistem saraf yang ada pada dirinya diantaranya adalah otak, mekanisme tersebut dapat digunakan untuk meraih keberhasilan atau kegagalan. Tubuh kita akan cenderung bereaksi yang sejalan dengan input ke dalam otak. Atlet atau olahragawan yang selalu mendapat masukan atau mempersepsikan dirinya pada hal yang negatif akan mengembangkan sistem saraf yang berorientasi pada kegagalan. Sedangkan atlet atau olahragawan yang selalu diberi masukan dan mempersepsikan dirinya pada hal yang positif akan mengembangkan sistem saraf yang berorientasi pada keberhasilan. Pada intinya, sistem manusia dapat dipandang sebagai mekanisme pencapai tujuan yang bekerja sesuai dengan programnya yang bisa dipengaruhi oleh input dari luar maupun dari dalam dirinya. 

Jika atlet atau olahragawan memiliki pengalaman olahraga, maka pengalaman tersebut menciptakan jalur saraf yang baru dan tersimpan dalam otaknya. Jika pengalaman tersebut terulang makan jalur yang sudah tercipta tadi akan semakin menguat. Contohnya seperti ketika seorang olahragawan yang baru belajar sebuah teknik dasar salah satu cabang olahraga maka pengalaman pertama belajar teknik dasar tersebut akan menciptakan jalur saraf baru dalam otaknya, kemudian teknik dasar tersebut dilakukan berulang-berulang sehingga pengalaman yang pertama dilakukan akan terus diulang-ulang sampai munculnya teknik dasar tersebut akan otomatis. Jika teknik dasar sudah bisa keluar secara otomatis maka jalur-jalur yang menyimpan memori teknik dasar tadi dalam sistem sarafnya sudah menguat. Maka dari itu, jika sebuah teknik dasar sudah keluar secara otomatis, sampai kapan pun tidak akan hilang karena disimpan di memori. Beda hal nya terkait dengan kapasitas fisiologi (fungsi) fisik yang akan menurun seiring bertambahnya usia. Ketika seorang atlet atau olahragawan tersebut teringat dengan pengalaman yang lalu dan sudah tersimpan di dalam sistem saraf maka akan muncul dengan sendirinya.

Jika seorang atlet atau olahragawan pernah mengalami keberhasilan di masa lalu, ingatan tersebut akan sangat bermanfaat. Ingatan semacam itu dengan sendirinya dapat memprogram sistem keberhasilan. Namun proses itu, harus digunakan secara berbeda sekali bagi atlet atau olahragawan yang banyak mendapatkan pengalaman kegagalan. Atlet atau olahragawan tersebut harus menyadari bahwa dirinya harus bekerja keras mengulang kembali pengalaman keberhasilan dan melupakan pengalaman buruknya.

Mengulang kembali pengalaman positif secara terus-menerus akan menguatkan pengalaman tersebut dalam arti bisa menjadi dominan dan otomatis. Karena atlet atau olahragawan pada dasarnya berusaha mencapai tujuan, maka mereka harus belajar memprogram diri agar lebih berhasil dan tidak gagal. Sehingga peran pelatih disini harus bisa membuat atletnya terus optimis dengan berbagai macam cara dan pendekatan yang positif, supaya atletnya bisa memprogram dirinya sendiri menjadi lebih optimis.

Untungnya, otak manusia itu sangat berkembang, maka hampir seluruhnya dapat berada di bawah kendali atlet atau olahragawan. Otak bahkan tidak memerlukan penglam keberhasilan yang nyata untuk diprogram agar berhasil. Yang dibutuhkannya hanyalah secara teratur membayangkan keberhasilan, makanya ada sebagian pelatih yang selalu menyuruh atletnya untuk membayangkan dalam pikirannya bagaimana dia ketika bertanding di arena yang sebenarnya.

Maka dari itu, pelatih harus mengajarkan pada atletnya bagaimana cara menjalankan sistem pencapai tujuannya secara efektif melalui penetapan tujuan yang terencana dan penggunaan imajinasi yang hidup di dalam otak para atletnya.

Nah itulah isi artikel ini, semoga bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Jangan lupa untuk melihat artikel menarik lainnya dalam web ini, baik dalam bahasa indonesia maupun inggir. Sekian dan terima kasih.