Website Olahraga

Pendidikan Jasmani Sebagai Fondasi Kokoh Tumbuh Kembang Anak

Friday, November 18, 2016

Pendidikan Jasmani Sebagai Fondasi Kokoh Tumbuh Kembang Anak

Penjas sebagai fondasi kokoh tumbuh kembang anak. Anak memiliki bakat, kapasitas, kemampuan, dan keterampilan untuk dikembangkan lebih lanjut melalui proses pendidikan. Menurut Annarino, Cowell, dan Hazelton (1980: 59-70) aspek-aspek yang dikembangkan pendidikan jasmani sebagai bagian dari proses pendidikan adalah (1) physical domain (organic development): proper functioning of the body system so that the individual may adequately meet the demands placed on him/her by the environment, (2) psychomotor domain (neuromuscular development): harmonious integration of the nervous and muscular system to produce desired movement, (3) cognitif domain (intellectual development): knowledge and intellectual skills and abilities, (4) affective domain (social-personal-emotional development): healthy response to physical activity, self-actualization, and self-esteem.
Pendidikan Jasmani Sebagai Fondasi Kokoh Tumbuh Kembang Anak
Gardner (2003: 36-53) menyebutkan bahwa manusia memiliki berbagai potensi untuk dikembangkan. Pengembangan potensi perlu dilakukan agar manusia memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah atau menciptakan sesuatu yang bernilai dalam masyarakat. Kemampuan tersebut disebut dengan kecerdasan, terdapat tujuh kecerdasan yang telah teridentifikasi pada tahap awalnya, dan ditambah satu kecerdasan pada edisi terakhir, sehingga menjadi delapan kecerdasan, yaitu kecerdasan (1) linguistik, (2) logika matematika, (3) musikal, (4) kinestesis tubuh, (5) spasial, (6) naturalis, (7) interpersonal, dan (8) intrapersonal. Hoerr (2007: 14-16) menambahkan bahwa semua anak memiliki kelebihan. Sekolah harus memberikan kesempatan dan peluang kepada siswa untuk mengembangkan kelebihan yang dimilikinya.

Dengan rumusan yang agak berbeda, Ary Ginanjar Agustian (2007: 45-49) menyatakan bahwa manusia tidak hanya memerlukan kecerdasan intelektual, tetapi juga membutuhkan kecerdasan emosi, dan kecerdasan spiritual agar ia mampu hidup lebih bermakna. Oleh karena itu, manusia perlu menyinergikan ketiga kecerdasan tersebut menjadi satu kesatuan yang integral dan transcendental. Kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna spiritual terhadap pemikiran, perilaku dan kegiatan, serta mampu menyinergikan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual secara komprehensif.

Orangtua harus menyediakan pola pengasuhan dan lingkungan yang kondusif bagi anak agar semua potensi yang dimilikinya dapat berkembang secara seimbang. Pendidik harus memberikan kesempatan kepada siswa agar seluruh potensinya siap untuk berkembang. Haywood (1986: 75-76) menambahkan bahwa pendidik harus memahami pengaruh faktor lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.

Keberadaan lingkungan akan menentukan potensi seseorang untuk berkembang lebih lanjut. Lingkungan tersebut meliputi proses kelahiran, asupan gizi, lingkungan fisik, dan aktivitas jasmani dan latihan regular. Selain memahami dan menyiapkan lingkungan, Kelly dan Melograno (2004) menyatakan bahwa prasyarat setiap usaha untuk memaksimalkan belajar siswa adalah pengetahuan tentang kesiapan siswa untuk belajar. Siswa harus siap secara jasmani, sosial, emosional, dan kognitif untuk belajar.

Siswa tidak akan belajar keterampilan motorik, perilaku sosial, konsep diri, atau kemampuan intelektual, bila mereka tidak siap untuk melakukannya. Oleh karenanya, selain harus memperhatikan lingkungan dan kesiapan siswa, pendidikan di tingkat awal tidak boleh hanya mementingkan salah satu kecerdasan saja. Semua ranah atau potensi kecerdasan harus diberi kesempatan yang seimbang untuk tumbuh dan berkembang selanjutnya.

Dengan memberikan kesempatan yang seimbang bagi semua potensi untuk siap berkembang, disertai penyediaan lingkungan yang kondusif, dan pemahaman kesiapan siswa, maka fondasi yang kokoh sebagai landasan untuk tumbuh kembang selanjutnya telah dibentuk. Fondasi yang kokoh adalah kondisi yang perlu dimiliki oleh individu sebagai landasan yang memadai untuk tumbuh kembang selanjutnya sesuai kemampuan yang dimilikinya.

Nah itulah artikel mengenai pendidikan jasmani sebagai fondasi kokoh tumbuh kembang anak. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita sebagai orang tua, guru dan masyarakat umum untuk membantu proses tumbuh kembang anak di sekitar kita. Jangan lupa untuk melihat artikel menarik lainnya di website ini. Terima kasih.

Incoming search terms:
  • Pendidikan jasmani pendukung tumbuh kembang anak
  • Penjas dan tumbuh kembang anak
  • Kokohkan tumbuh kembang anak dengan penjas
  • Pendidikan jasmani
  • Tumbuh kembang anak