Website Olahraga

Upaya Memaksimalkan Pendidikan Jasmani Sebagai Fondasi Kokoh Tumbuh Kembang Anak

Friday, November 18, 2016

Upaya Memaksimalkan Pendidikan Jasmani Sebagai Fondasi Kokoh Tumbuh Kembang Anak

Memaksimalkan Pendidikan Jasmani Sebagai Fondasi Kokoh Tumbuh Kembang Anak. Walaupun fungsi dan peran penjas demikian bagus, tetapi kondisi anak-anak saat ini masih perlu ditingkatkan. Salahsatu indikatornya adalah kebugaran jasmani anak usia sekolah, menurut hasil penelitian Dinas Pendidikan DIY, sebagian besar berada pada klasifikasi kurang baik. Kondisi ini diperparah dengan kesulitan ekonomi karena krisis tahun 1997-an yang menyebabkan banyak orang tua kesulitan untuk memenuhi asupan gizi minimal bagi anak-anaknya.

Dengan demikian, kondisi tubuhnya tidak memadai untuk mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sehat. Padahal asupan gizi dan kesegaran jasmani merupakan faktor penting dalam pengembangan berbagai kecerdasan anak. Hasil penelitian the California Department of Education (CDE) menyatakan bahwa the physical well-being of students has a direct impact on their ability to achieve academically. That evidence have the proof we've been looking for: students achieve best when they are physically fit. Thousands of years ago, the Greeks understood the importance of improving spirit, mind, and body.
Upaya Memaksimalkan Pendidikan Jasmani Sebagai Fondasi Kokoh Tumbuh Kembang Anak
Jika kebugaran jasmani anak usia sekolah di Indonesia sebagian besar berada pada level yang jelek, ditambah dengan asupan gizi yang tidak memadai, maka perkembangan intelektualnya akan mengalami gangguan. Dampaknya, the lost generation semakin nyata akan terjadi di depan mata. Agar the lost generation tidak terjadi atau paling tidak anak-anak usia sekolah dasar memiliki kondisi jasmani yang memadai untuk mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sehat, Penjas dapat dipilih untuk menjadi salah satu upaya penanggulangannya.

Langkah penting perlu segera ditetapkan. Salah satu acuan yang dapat dipergunakan adalah kebijakan pemerintah Amerika Serikat. Begitu melihat generasi mudanya diketahui memiliki kebugaran jasmani dan kesehatan yang jelek, Senat Amerika Serikat mengeluarkan resolusi Pendidikan Jasmani pada Desember 1987 yang mendorong pemerintah untuk menyediakan pendidikan jasmani yang bermutu bagi semua anak SD sampai SMA.

Kebijakan ini diterjemahkan dengan menyusun “developmentally appropriate physical education curriculum”. Kurikulum tersebut sesuai dengan tahapan perkembangan dan kebutuhan anak. Kurikulum bertujuan untuk mengembangkan seluruh potensi peserta didik, yaitu psikomotor, kognitif, dan afektif (Gabbard, Leblanc, dan Lowy, 1994: 4).

Agar peran penjas sebagai wahana untuk membentuk fondasi yang kokoh bagi tumbuh kembang anak dapat terwujud secara optimal maka beberapa hal yang perlu dikerjakan. Upaya-upaya tersebut adalah sebagai berikut.

Pembelajaran yang Menarik, Menggembirakan, dan Mencerdaskan

Agar proses pembelajaran Penjas dapat berlangsung secara menarik, menggembirakan, dan mencerdaskan, para guru perlu melakukan beberapa upaya kreatif dan inovatif. Upaya kreatif dan inovatif untuk menciptakan suatu proses pembelajaran agar menjadi sesuatu yang menarik dan menantang bagi para siswa. Suherman (2004: 12-19) menyarankan agar guru penjas melakukan upaya:
  1. mengubah presensi sambil berbaris dengan kegiatan wallercise, 
  2. mengemas pemanasan ke dalam permainan, 
  3. mengemas bahan ajar ke dalam permainan edukatif, 
  4. melaksanakan strategi pembelajaran secara efektif, 
  5. memberikan umpan balik, 
  6. memberikan pujian, kejutan, bonus, dan hukuman, dan 
  7. membuat ringkasan untuk menutup pelajaran. 
Uraian ke-tujuh langkah tersebut sebagai berikut.

a. Mengubah presensi sambil berbaris dengan kegiatan wallercise
Wallercise adalah pemanfaatan tembok sebagai wahana untuk meragamkan bentuk latihan. Setelah keluar dari ruang ganti, siswa langsung diminta untuk menempati nomor presensinya yang ditempelkan di tembok. Perintah untuk melakukan latihan tertentu ditempelkan di bawah nomor presensi. Guru kemudian mengawasi seluruh ruangan dan mencatat nomor yang tidak diisi sebagai tanda bahwa siswa tersebut tidak masuk. Guru menghitung jumlah siswa yang hadir. Setelah itu, guru memerintahkan siswa untuk bergeser ke kiri atau ke kanan, sampai aktivitas yang dilakukan dinilai cukup untuk menggantikan pemanasan.

Bentuk latihan wallercise yang disarankan adalah (a) back stretch, (b) tricep push-ups, (c) single leg toe raises, (d) hamstring stretch, (e) wall handstand, (f) side stretch, (g) triangle push-ups, (h) one arm push-ups, (i) sit and rech stretching, dan (j) calf stretch.

b. Mengemas pemanasan ke dalam permainan
Agar pemanasan tidak monoton dan membosankan siswa, guru harus mampu membuat pemanasan yang variasi dengan mempergunakan beberapa bentuk permainan. Guru dapat menggunakan permainan yang gerakannya mirip dengan materi ajar yang akan diajarkan kepada siswa. Dengan menggunakan permainan, guru akan memberi kesempatan kepada siswa untuk bergerak sesuai dengan naluri alamiahnya. Karena setiap manusia pada dasarnya senang melakukan permainan.

c. Mengemas bahan ajar ke dalam permainan edukatif
Bahan ajar yang ada dapat dikemas menjadi bentuk permainan yang menyenangkan bagi peserta didik. Salah satu wujud permainan dimaksud adalah permainan edukatif. Menurut Nichols (1994: 158) permainan edukatif merupakan permainan yang dipilih untuk melatih keterampilan gerak dan mempraktikkan konsep gerak yang telah dipelajari sebelumnya. Dengan permainan ini, anak memiliki kesempatan untuk mengembangkan unsur-unsur gerak yang telah dimiliki, dan mengembangkan keterampilan yang telah dipelajari.

d. Melaksanakan strategi pembelajaran secara efektif
Semiawan dan Raka Joni (1993: 56) menyatakan bahwa untuk dapat merancang serta melaksanakan strategi pembelajaran yang efektif, seorang guru harus memiliki khazanah metode yang kaya. Suherman (2003: 31) menyatakan bahwa strategi pembelajaran merujuk pada suatu proses pengaturan lingkungan belajar yang dilakukan oleh guru sebelum proses pembelajaran berlangsung. Variabel penting dalam strategi pembelajaran adalah metode penyampaian bahan ajar, pola organisasi dalam penyampaian materi, dan bentuk komunikasi yang dipergunakan.

1) Metode pembelajaran
Menurut Griffin, Mitchell, dan Oslin (1997: 4-8); Mosston dan Ashwort (1994: 200-215); Singer dan Dick (1980: 191-197) metode pembelajaran yang sering dipergunakan dalam pembelajaran Penjas berkisar 7 kategori.

Ketujuh kategori tersebut adalah
  1. Pendekatan pengetahuan-keterampilan (knowledge-skill approach) memiliki metode ceramah (lecture) dan metode latihan (drill), 
  2. Pendekatan sosialisasi (socialization approach) terdiri dari metode the social family, the information processing family, the personal family, the behavioral system family, dan the professional skills, 
  3. Pendekatan personalisasi memiliki metode movement education (problem solving techniques), 
  4. Pendekatan belajar (learning approach) memiliki metode pembelajaran terprogram (programmed instruction), Computer Assisted Instruction (CAI), dan metode kreativitas dan pemecahan masalah (creativity and problem solving), 
  5. Pendekatan pembelajaran motorik (motor learning) terdiri dari metode part-whole methods, dan modelling (demonstration), 
  6. Spektrum gaya mengajar Mosston memiliki gaya mengajar komando (command), latihan (practice), resiprokal (reciprocal), uji diri (self check), inklusi (inclusion), penemuan terbimbing (guided discovery), penemuan tunggal (convergen discovery), penemuan beragam (divergent production), program individu (individual program), inisiasi siswa (learner initiated), dan pengajaran diri (self-teaching), 
  7. Pendekatan permainan taktis (tactical games approaches).
2) Pola organisasi (Organizational pattern)
Menurut Gabbard, LeBlanc, dan Lovy (1994) pola organisasi digunakan untuk mengelompokkan siswa dalam aktivitas jasmani agar metode yang diinginkan dapat dipergunakan. Pola dasar organisasi adalah kelas (classical), kelompok (group) dua atau lebih, dan individu (individual).

Dalam pola klasikal, guru menyampaikan materi kepada seluruh peserta pada waktu tertentu. Pengajaran kelompok atau perorangan membagi kelas menjadi beberapa unit (kelompok atau individu) sehingga beberapa kegiatan dapat dikerjakan pada satu satuan waktu tertentu. Penggunaan stasion atau pusat-pusat belajar (learning centers) merupakan bentuk yang populer dan bermanfaat untuk mengakomodasi pola ini.

3) Bentuk Komunikasi (Communication mode)
Menurut Gabbard, LeBlanc, dan Lovy (1994) bentuk komunikasi adalah bentuk interaksi yang dipilih guru untuk menyampaikan pesan. Pada umumnya, bentuk komunikasi adalah lisan, tertulis, visual, audio, kinestetik, dan gabungannya. Komunikasi verbal adalah komunikasi lisan melalui kontak pribadi, biasanya antara guru dan siswa dan bentuk ini sering dipergunakan. Komunikasi lewat audio dipresentasikan dengan menggunakan hasil rekaman atau pita kaset yang menyampaikan gaya presentasi yang dipilih.

Bentuk komunikasi tertulis (written) dan visual merupakan jenis komunikasi yang efektif dan menimbulkan motivasi yang tinggi dalam proses pembelajaran. Kertas tugas, kartu tugas, poster dapat digunakan secara efektif dalam organisasi kelompok atau individu. Menurut DePorter, Reader, dan Singer-Nourie (200: 124-128) komunikasi kinestetik adalah penyampaian pesan yang memanfaatkan kontak mata, ekspresi wajah, nada suara, gerak badan, sosok (postur) tubuh. Penggunaan beragam indera saat berkomunikasi dengan siswa akan menyebabkan pesan yang disampaikan dapat diterima lebih efektif.

e. Memberikan umpan balik
Guru berupaya untuk mengarahkan siswa agar tetap memperhatikan bahan ajar yang sedang dipelajari dengan cara memberikan umpan balik tentang hal-hal penting yang sedang disampaikan sesuai tujuan. Umpan balik harus diberikan kepada seluruh siswa, putra maupun putri. Komentar tentang apa yang dilakukan siswa dengan baik, apa yang perlu ditingkatkan perlu disampaikan kepada siswa agar menjadi catatan bagi siswa.

Guru harus memperhatikan keberagaman siswa saat proses pembelajaran berlangsung. Keberagaman tersebut dalam keterampilan, pemahaman, latar belakang pengalaman, gaya belajar, dan kemampuan belajar. Guru tidak boleh menampakkan kesenangan atau kegusarannya hanya kepada salah satu siswa saja. Guru harus tampak memperhatikan semua siswa, tidak ada siswa yang paling disukai atau paling dimusuhi.

f. Memberikan pujian, kejutan, bonus, dan hukuman
Secara manusiawi, setiap orang pasti senang mendapatkan pujian, apalagi anak seusia siswa sekolah dasar akan merasa bangga apabila mendapat pujian dari gurunya. Pujian yang diberikan dapat berupa acungan jempol, isyarat verbal, atau komentar yang menyenangkan.

Selain pujian, guru dapat pula membuat kejutan yang menyenangkan kepada siswanya, misalnya pemberian hadiah karena siswa sukses melaksanakan tugas tertentu. Guru dapat memberikan bonus berupa kartu kepada siswa yang selalu bersemangat ketika melakukan tugas pembelajaran. Kartu tersebut dikumpulkan sampai mencapai jumlah tertentu untuk ditukarkan dengan benda tertentu di akhir semester.

Hal lain yang perlu diterapkan oleh guru adalah penerapan aturan sesuai dengan kesepakatan, misalnya siswa yang melanggar aturan perlu diingatkan dan diberi hukuman agar tidak mengulangi kesalahan yang diperbuatnya. Hukuman diberikan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran.

g. Membuat ringkasan untuk menutup pelajaran
Guru perlu membuat ringkasan di akhir pelajaran untuk menutup seluruh proses pembelajaran. Ringkasan yang disusun akan membantu siswa untuk menemukan hubungan antar bagian pelajaran, manfaat setiap bagian, dan hal-hal penting yang perlu dipersiapkan untuk pelajaran berikutnya. Dengan penutup yang demikian, siswa memperoleh kesempatan untuk menangkap hal-hal yang penting dari pelajaran yang telah berlangsung, dan menyiapkan diri untuk mengikuti pelajaran berikutnya.

Proses pembelajaran yang dilaksanakan dengan cara seperti tersebut di atas akan membuat sebuah pembelajaran menjadi menarik bagi siswa. Menarik karena siswa akan terdorong untuk selalu mengikuti proses pembelajaran yang dilakukan dengan senang hati, dan tidak lekas bosan. Pembelajaran yang dilaksanakan seperti itu akan dirasakan berlangsung demikian cepat, dan menimbulkan kesan yang mendalam.

Pembelajaran Penjas perlu dikemas secara cermat, dan bervariasi. Pengemasan demikian akan meningkatkan minat dan keinginan orang untuk mengikutinya. Pelaksanaannya kemudian dikerjakan dengan sukarela, dan didorong oleh rasa suka akan menimbulkan kegembiraan.

Menarik dan menggembirakan akan mendorong orang untuk menguasai materi yang diajarkan. Bila siswa menguasai materi Penjas maka ia akan terdidik secara jasmani. Menurut Nichols (1994: 103) pembelajaran Penjas yang dikemas dengan cermat akan memberi kesempatan kepada siswa untuk lebih memperhatikan pemikiran dan bagaimana mempergunakan pemikiran secara efektif dan efisien pada berbagai gerakan yang dilakukan. Ketika siswa mengembangkan keterampilan berpikir lewat pembelajaran Penjas, guru harus menyadari dan memahami aspek penting dalam Penjas untuk mengembangkan kemampuan berpikir.

Perbaikan kualitas Guru Penjas

Walaupun mengalami kontroversi pada saat proses penyusunan dan pengembangan turunannya, Undang-undang Guru dan Dosen memberikan angin segar dan sinar cerah bagi kalangan guru. Makna inti peraturan ini adalah peningkatan kualitas guru dan dosen, kemudian diikuti dengan peningkatan kesejahteraan. Batas minimal latar belakang pendidikan guru setingkat S1/DIV diharapkan memberikan jaminan bahwa guru memiliki pengetahuan, kemampuan, dan kompetensi awal yang memadai untuk melaksanakan proses pembelajaran.

Konsekuensi penetapan batas minimal kualifikasi akademik yang harus dimiliki oleh seorang calon guru berdampak terhadap pendidikan pra jabatan guru. Lembaga yang paling berkaitan langsung dengan pendidikan pra jabatan guru adalah LPTK. Oleh karena itu, LPTK perlu meningkatkan kualitasnya agar lulusan atau calon guru yang dihasilkan memiliki kualifikasi yang memadai.

Salah satu kritikan dari pakar pedagogi olahraga dari Belanda, Burt Crum, yang menyatakan bahwa kurikulum LPTK Penjas terlalu berorientasi pada pembekalan keilmuan, bukan pada pembekalan kemampuan pedagogi. Kritikan tersebut perlu mendapatkan perhatian dan ditindaklanjuti dalam pembaharuan kurikulum LPTK Penjas. Kritikan Crum sejalan dengan pendapat Kathleen (2006) … it is ironic that a profession called ‘education' has failed to base teachers' professional development structures and processes on best knowledge about learning. As Guskey (2002) argues, we need to revise our understandings of how and why teachers change; and rather than attempting to change teachers' attitudes and beliefs in order to persuade them to change their practice, we need to recognize that ‘significant change in teachers' attitudes and beliefs occurs primarily after they gain evidence of improvements in student learning'.

Selain peningkatan kualitas guru melalui pendidikan prajabatan, in-service training tetap perlu diberlakukan dan dikembangkan agar kompetensi guru tetap terjaga dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berkaitan dengan program peningkatan kualitas guru, model pelatihan dalam jabatan tidak lagi berorientasi kepada pelaksanaan proyek sehingga setelah selesai pelatihan guru kembali mengerjakan kebiasaan lama dan hasil pelatihan tidak diimplementasikan di lapangan. Model pelatihan yang perlu dilakukan adalah program berbasis kinerja. Setiap pelatihan disertai indikator kinerja yang jelas dan terukur, dan dikerjakan kegiataan tindak lanjut dan pemantauan yang berkesinambungan. Dengan demikian, kinerja guru setelah pelatihan dapat terus diamati. Pelaksana pelatihan memiliki tanggung jawab akademik dan administratif dengan indicator yang memadai.

Pembaruan Kurikulum Penjas

Sebagai sebuah praksis, kurikulum perlu memiliki landasan filosofis yang memadai. Demikian pula dengan kurikulum penjas. Berbagai model kurikulum terdapat dalam kurikulum penjas. Suherman (2004:36) menyatakan bahwa paling tidak terdapat sembilan model kurikulum yang dikembangkan dan dipergunakan oleh ahli dan praktisi pendidikan jasmani.

Model apapun yang dipergunakan tidaklah terlalu penting, karena semua model baik jika sesuai dengan situasi dan kondisi tempat kurikulum tersebut diberlakukan. Jewett, Bain dan Ennis (1994: 55) menyatakan bahwa beberapa kajian untuk membandingkan model kurikulum pendidikan jasmani telah dilakukan, tetapi -seperti apel dan jeruk- model-model dimaksud tidaklah mungkin diperbandingkan, karena model-model tersebut mempunyai perbedaan dalam dasar filosofi, asumsi, tujuan, dan penekanan isi program.

Pemerintah Indonesia berketetapan menggunakan model KBK untuk pendidikan di semua jenjang mulai tahun 2002. Salah satu ciri pokok KBK adalah penetapan kompetensi sebagai patokan pencapaian hasil belajar siswa. Standar kompetensi setiap mata pelajaran ditetapkan secara nasional oleh Badan Standar Nasional Pendidikan. Dengan penetapan kompetensi yang dilakukan secara nasional, sekolah memiliki keleluasaan untuk mengembangkan materi yang akan disampaikan kepada peserta didik. Menurut PP 19/2005 kurikulum SD/SMP/SMA/SMK disebut kurikulum tingkat satuan pendidikan disingkat KTSP. KTSP menggunakan kurikulum berbasis kompetensi sebagai pendekatan pengembangannya.

Kelemahan KTSP Penjasorkes adalah pengembangannya masih menggunakan muatan isi kurikulum sebagai dasar penyusunan kompetensi. Hal ini terlihat adanya aspek-aspek dalam muatan kompetensi. Seharusnya, kompetensi dikembangkan berdasarkan ranah yang harus dikembangkan dari peserta didik. Ditambah pula, komentar beragam yang disampaikan oleh pejabat publik pemerintah Indonesia membuat pelaksanaan KTSP semakin simpang siur, dan para praktisi di lapangan menjadi kebingungan.

Pembaharuan yang perlu dilakukan adalah mereformulasi dan menataulang standar kompetensi yang telah ditetapkan. Pertemuan regular antar pengembang dan pelaksana perlu terus dikerjakan agar tidak terjadi diskrepensi antara konsep disain awal dan pelaksanaan di lapangan. Asal dirancang secara seksama, dilaksanakan secara cerdas, dan dievaluasi secara regular, kurikulum akan menghasilkan lulusan yang memadai.

Pemenuhan Sarana dan Prasarana Penjas Sekolah

Faktor penting dalam pelaksanaan kurikulum adalah sarana dan prasarana pembelajaran. Mata ajar Penjas membutuhkan sarana dan prasarana pembelajaran yang mahal dan luas karena pembelajarannya dilaksanakan di luar kelas dan membutuhkan banyak peralatan olahraga.

Sehubungan dengan hal itu, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan mensyaratkan sekolah wajib memiliki tempat berolahraga, tempat bermain, dan sarana pendidikan seperti perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, BHP. NASPE (2006) guidelines mewajibkan setiap sekolah untuk menyediakan peralatan dan fasilitas penjas yang layak bagi para siswanya.

Hasil observasi mahasiswa PPL di beberapa sekolah di DIY dan Jawa Tengah menunjukkan bahwa fasilitas yang dimiliki sekolah kurang memadai untuk melaksanakan proses pembelajaran penjas. Oleh karena itu, kita berharap BSNP segera menyusun dan menetapkan standar minimal fasilitas olahraga yang harus dimiliki oleh sebuah sekolah. Dampak kebijakan ini akan luar biasa karena tidak akan sembarang pihak dapat mendirikan sekolah, dan pihak sekolah atau dinas tertentu mengubah secara sembarangan peruntukan lahan terbuka yang dimilikinya menjadi bangunan kelas atau laboratorium.

Perbaikan Kualitas Lembaga Pendidikan Calon Guru

Sesuai Undang-undang Guru dan Dosen, guru harus memiliki kualifikasi akademik S1/DIV, termasuk di dalamnya guru SD. Oleh karena itu, LPTK sebagai pencetak guru harus meningkatkan kualitas pembelajarannya agar menghasilkan calon guru yang memiliki kualifikasi, dan kompetensi yang memadai. Paradigma pendidikan guru harus diarahkan untuk membekali calon guru memiliki pemahaman terhadap bidang keilmuan, memiliki kemampuan mengajarkan pendidikan jasmani, memiliki kompetensi untuk mengelola pendidikan jasmani. Kritik dari seorang ahli Pedagogi Olahraga dari Belanda Burt Crum yang menyatakan bahwa kurikulum pendidikan guru penjas di Indonesia terlalu sarat dengan muatan keilmuan, tidak menekankan pada pembekalan kemampuan mengajar. Sehubungan dengan hal itu, perguruan tinggi perlu melakukan beberapa kegiatan pembaharuan agar kualitasnya meningkat. Kegiatan-kegiatan tersebut adalah sebagai berikut.

a. Pembaharuan kurikulum
Pendidikan calon guru Penjas perlu memperhatikan kritikan Crum, melaksanakan aturan perundangan yang berkaitan dengan guru, dosen, dan sistem keolahragaan nasional, dan mengikuti perubahan Ipteks yang berlangsung dalam hitungan detik. Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu merestrukturisasi kurikulum yang ada. Kegiatan restrukturisasi kurikulum dikerjakan secara bertahap dan sistematik.

Proses restrukturisasi kurikulum yang dikerjakan secara bertahap dan terencana akan menghasilkan kurikulum yang memadai, sehingga mampu menjadi wahana bagi lembaga untuk mewujudkan amanat visi dan misi perguruan tinggi. Restrukturisasi kurikulum perlu dibarengi oleh kegiatan pembaharuan lainnya, yaitu pengembangan bidang keahlian ilmu keolahragaan, penataan prodi, pembentukan asosiasi perguruan tinggi keolahragaan, pengembangan ISORI untuk mewadahi asosiasi profesi keahlian keolahragaan.

b. Pengembangan Bidang keahlian Ilmu Keolahragaan.
Buku Ilmu Keolahragaan dan Rencana Pengembangannya (KDI Keolahragaan, 2000) menyatakan bahwa subbidang studi ilmu keolahragaan meliputi: ilmu gerak, teori latihan, teori belajar gerak, teori bermain, dan teori instruksi, sport medicine, ergofisiologi, biomekanika, sport filosophy, sejarah/komparatif, sport pedagogy, sport psycholgy, dan sport sociology. Buku ini merupakan salah satu acuan dalam pengembangan ilmu keolahragaan di setiap perguruan tinggi keolahragaan di Indonesia.

Pada tahun yang sama, ICSSPE mengeluarkan Vade Mecum: Directory of Sport Science (2000) yang menyatakan bahwa bidang kajian ilmu keolahragaan telah memiliki 19 bidang studi, yaitu
  1. adapted physical activity, 
  2. biomechanics, 
  3. coaching science, 
  4. comparative PE and sport, 
  5. kinanthropometry, 
  6. neuromotor psychology, motor learning and control, 
  7. philosophy of sport, 
  8. political science of sport, 
  9. sociology of sport, 
  10. sport and exercisephysiology, 
  11. sport and exercise psychology, 
  12. sport facilities, 
  13. sport history, 
  14. sport information, 
  15. sports law, 
  16. sport management, 
  17. sports medicine, 
  18. sport pedagogy, and 
  19. sport vision.
Dari dua buku yang menjadi acuan pengembangan ilmu keolahragaan di Indonesia terdapat perbedaan jumlah bidang keahlian yang cukup mencolok. Apakah fakta ini menunjukkan Indonesia ketinggalan dalam pengembangan ilmu keolahragaan dari negara lain? Pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Padahal, kita tahu bersama bahwa pengembangan bidang keahlian merupakan kata kunci untuk kemajuan ilmu keolahragaan.

Pengembangan bidang keahlian ilmu keolahragaan sangat penting untuk pengembangan program studi baik S1, S2, dan S3 di Indonesia. Pengembangan program studi ilmu keolahragaan di Indonesia tampaknya berjalan di tempat. Kondisi ini perlu dicermati bersama.

Selain itu, pengembangan bidang keahlian sangat bermanfaat untuk penentuan bidang keahlian para dosen di perguruan tinggi ilmu keolahragaan. Oleh karena itu, kegiatan pengembangan bidang keahlian perlu dilaksanakan dalam suatu kesempatan yang memadai dengan melibatkan seluruh potensi insan ilmu keolahragaan yang ada di Indonesia, serta mengundang ahli ilmu keolahragaan dan pendidikan jasmani luar negeri yang memahami kondisi Indonesia.

c. Penataan Program Studi.
Penataan program studi diperlukan untuk mengakomodasi perkembangan ilmu keolahragaan. Reorganisasi terutama diperlukan dalam hal penamaan program studi. Penataan program studi perlu diupayakan agar terjadi perkembangan bidang keahlian yang sesuai dengan perkembangan ipteks dan tuntutan masyarakat.

Saat ini, program studi telah menunjukkan perkembangan yang memadai. Namun demikian, permasalahan yang klasik dan belum terpecahkan sampai sekarang adalah lulusan prodi PJKR, PKO, dan Ikora yang saling berebut lowongan pekerjaan guru penjas. Permasalahan ini perlu segera diselesaikan agar tidak menimbulkan bom waktu di masa yang akan datang. Contoh menarik dapat diambil dari fakultas pertanian yang secara revolusioner mengusulkan untuk mengubah prodinya dari 10 prodi menjadi 2 prodi saja, yaitu agroteknologi dan agrobisnis.

Memperhatikan sejarah pembentukan prodi di FIK dan mempertimbangkan tuntutan kebutuhan masyarakat, kemampuan pasar untuk mengangkat pegawai, dan perkembangan keilmuan, penataan prodi perlu dilakukan. Penataan dimaksud, terutama meliputi kegiatan (1) mengubah standar kompetensi lulusan ketiga prodi yang ada sekarang agar mereka tidak hanya memfokuskan diri menjadi pns guru penjas, tetapi mereka memiliki pengetahuan, kemampuan, dan kompetensi yang sesuai dengan bidang keilmuannya masing-masing, (2) mengusulkan peningkatan jenjang program studi DII PGPJ SD menjadi S1 Penjas SD. Usulan ini disesuaikan dengan perkembangan ilmu keolahragaan, kebutuhan masyarakat, dan Udang-undang Guru dan Dosen.

d. Pembentukan APTORI
Untuk lebih memperkuat jalinan kerjasama dalam rangka pengembangan kelembagaan dan pengembangan ilmu keolahragaan, Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Keolahragaan perlu membentuk forum komunikasi atau asosiasi. Asosiasi ini merupakan perluasan dan pengembangan dari forum yang selama ini telah ada.

Dengan asosiasi ini, kekuatan forum yang telah ada akan meningkat dan memiliki bidang pekerjaan yang lebih luas. Selain itu, asosiasi dapat dilengkapi dengan perangkat struktur organisasi yang lebih lengkap. Misalnya, organisasi dilengkapi dengan bidang-bidang yang sesuai dengan karakteristik perguruan tinggi, seperti bidang akademik, administrasi, dan kemahasiswaan.

Nama asosiasi yang diusulkan adalah APTORI singkatan dari Asosiasi Perguruan Tinggi Keolahragaan Republik Indonesia. Nama lain yang diusulkan adalah FK-PTOR singkatan dari Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Keolahragaan.

e. Pengembangan ISORI.
American Alliance for health, physical education, and dance (AAHPERD) merupakan organisasi payung yang menaungi beberapa organisasi seperti NASPE, AAHE, AAPAR, NAGWS, NDA, dan RC (AAHPERD, 2006). Menurut the story of the proposed aahperd name change (AAHPERD, 2006) Dewan Gubernur AAHPERD mengusulkan penggantian nama menjadi American Alliance for Health and Physical Activity (AAHPA).

Beberapa alasan untuk pengubahan nama tersebut adalah (1) the current name is long and cumbersome. This length is a barrier when we advocate to legislators or the public; people find that they can’t even say the whole name of AAHPERD without being interrupted, (2) the current name does not adequately address the mission of the Alliance, (3) the current name does not adequately cover everything the Alliance represents, dan (4) the current name is not inclusive, but rather exclusive.

Mengaca kepada usulan perubahan nama dan bentuk organisasi AAHPERD, ISORI dapat melakukan hal yang sama, terutama untuk membentuk asosiasi profesi bidang ilmu keolahragaan. Dengan demikian, asosiasi tersebut berada dalam payung ISORI. Agar dapat menampung seluruh asosiasi profesi ilmu keolahragaan, maka ISORI sebaiknya mengubah namanya terlebih dahulu agar menjadi lebih akomodatif dan dapat menampung seluruh asosiasi profesi ilmu keolahragaan yang akan dibentuk.

Beberapa langkah sebagai upaya untuk memaksimalkan pendidikan jasmani atau penjas sudah dijelaskan pada artikel ini. Semoga dengan upaya di atas kita bisa mulai meningkatkan kualitas pendidikan jasmani untuk mendukung tumbuh kembang anak menjadi lebih baik. Sekian artikel kali ini, semoga bisa bermanfaat bagi kita semua. Terima Kasih.

Incoming search terms:
  • Pendidikan jasmani untuk tumbuh kembang anak
  • Langkah-langkah penjas untuk membantu tumbuh kembang anak
  • Pendidikan jasmani
  • Penjas untuk perkembangan anak