Ergosistema dalam Ilmu Faal Olahraga Bagi Pelatih dan Guru

2016-12-25

Ergosistema dalam Ilmu Faal Olahraga Bagi Pelatih dan Guru

Ergosistema. Ilmu faal olahraga merupakan ilmu yang harus dimiliki oleh para pelatih dan guru pendidikan jasmani (Penjas), karena hal ini akan dapat menjanjikan suatu hasil yang besar dalam membina atlet atau muridnya untuk mencapai prestasi tinggi.

Melatih suatu cabang olahraga prestasi pada dasamya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan fungsional sistem tubuh sesuai dengan tuntutan penampilan olahraga itu sampai ke tingkat maksimal, baik dari aspek kemampuan dasar maupun pada aspek keterampilan tekniknya.

Jadi, dengan tidak mengecilkan peranan dari disiplin ilmu lain dan faktor penunjang yang mendukung pencapaian prestasi tinggi dalam olahraga, kiranya pengenalan, pemahaman, dan aplikasi dari ilmu faal olahraga sangatlah penting dimiliki oleh seorang pelatih dan guru penjas.

Istilah, pengertian, dan komponen kebugaran jasmani sudah dapat dipahami, namun kiranya sangat penting untuk mengenal lebih jauh fungsional struktur raga itu secara sistematis.
Ergosistema dalam Ilmu Faal Olahraga Bagi Pelatih dan Guru

Jasmani atau raga terdiri dari kumpulan struktur-struktur yang secara anatomis disebut "sistema". Sistema raga tersebut terdiri dari: sistema skelet (kerangka), maskular (otot), nervorum (saraf), hemo-hidro-limpatik (darah-cairan tubuh-getah bening), respirasi (pernapasan), kardiovaskular (jantung-pembuluh darah), digestivus (pencernaan), eksresi (pembuangan), endokrih (hormon), sensoris (panca indera), dan sistem reproduksi (pemulih generasi).

Fungsi jasmani yang terdiri dari berbagai macam sistema tersebut ialah untuk: gerak, kerja, mempertahankan hidup, dan mendapatkan kepuasan lahir dan batin dari suatu kinerja yang dilakukan. Oleh karena itu, jasmani dapat disebut sebagai satu SISTEMA KERJA (SK) atau ERGOSISTEMA (ES)

Dalam menjalankan fungsinya sebagai satu ES atau SK, sistema anatomis tersebut dibagi menjadi tiga (3) bagian yaitu SK primer, SK sekunder, dan SK tersier, sebagai berikut:
  1. Perangkat pelaksana gerak disebut ES I atau SK primer, terdiri dari: sistema skelet, muskular, dan nervorum.
  2. Perangkat pendukung gerak disebut ES II atau SK sekunder, terdiri dari: sistema hemo-hidro-limpatik, respirasi, dan kardiovaskuler.
  3. Perangkat pemulih disebut ES III atau SK tersier, terdiri dari: sistema digestivus, eksresi, sensoris, endokrin, dan reproduksi.
Sistema endokrin berfungsi sebagai regulator (pengatur) internal yang bersifat humoral (melalui cairan jaringan) dan fungsinya tersebar pada ketiga ES tersebut, baik pada saat istirahat maupun pada saat bekerja.

Sedangkan sistema sensoris berfungsi sebagai komunikator eksternal (eksteroceptor) maupun internal (endoreceptor dan propioceptor).

Berkaitan dengan sistema ini, maka ES I dan ES II merupakan komponen anatomis kebugaran jasmani sedangkan komponen fisiologisnya adalah fungsi dasar dari ES I dan ES II.

Ergosistema I atau Sistema Kerja Primer
Fungsi dasar sistema skelet dalam hubungannya dengan aktivitas fisik terletak pada kelentukannya yang dicerminkan dalam bentuk luas pergerakan persendian, yang merupakan kualitas dari persendian itu.

Fungsi otot hanya satu yaitu berkontraksi dan sistema nervorum berfungsi untuk mengkoordinasikan fungsi otot untuk menghasilkan ketepatan gerakan, atau dengan perkataan lain bahwa kualitas dari SK primer tercermin dalam kondisi fisik: kelentukan, kekuatan dan daya tahan otot, serta koordinasi gerakan.

Secara lebih teiperinci tentang fungsi dasar ES I   ini dapat dilihat pada berikut
Anatomis : Sistema skelet, Sistema muskular, Sistema nervorum
Fungsi Dasar : Pergerakan persendian, Kontraksi otot, Penghantaran rangsangan
Kualitas : Luas peigerakan/kelentukan kekuatan dan daya tahan otot Koordinasi fungsi otot

Kondisi fisik tersebut dapat ditingkatkan atau dikembangkan kelincahan (agility), kecepatan (speed), dan power (daya ledak otot). Oleh karena itu, bila ditemui atlet kesulitan dalam mengembangkan penampilan gerakan dasar tersebut, maka dicari kembali pada komponen dasar fisiologisnya.

Suatu contoh, ada kecenderangan atlet menemui kesulitan dalam mengembangkan kondisi fisik kelincahannya, maka haras dicarikan dulu faktor-faktor apa yang berkaitan dengan kelincahan.

Kelincahan memerlukan: kelentukan, kecepatan, dan ketepatan gerak. Maka karena itu atlet tersebut haras dilatih  dulu untuk meningkatkan kelentukan, kekuatan, dan koordinasi fungsi sarafnya.

Ergosistema II atau Sistema Kerja Sekunder
ES II mempunyai peranan sebagai pendukung gerak. Artinya kualitas ES primer sangat tergantung pada dukungan ES II. Kekuatan otot, kelentukan, dan koordinasi akan semakin maksimal, bila didukung oleh transportasi oksigen dan proses pemulihan karbondioksida dari darah dan paru terjadi secara maksimal.

Oleh karena itu sangatlah wajar, bila sistem darah, cairan tubuh, dan limfatik bahu membahu dengan sistem pernapasan dan sirkulasi menciptakan suatu kualitas daya tahan umum atau general endurance.

Istilah daya tahan umumpun dapat diganti dengan istilah kapasitas aerobik atau daya tahan jantung-paru, sesuai dengan komponen fisiologis yang membentuknya.

Sementara itu istilah kapasitas aerobik didasarkan pada kualitas pertukaran oksigen dan karbondioksida serta peredaran darah ke seluruh jaringan tubuh per menit secara maksimal.

Fungsi dasar dari ergosistema II atau sistema kerja sekunder :
Anatomis : Hemo-hidro4impatik, Respirasi, Kardiovaskular
Fungsi Dasar : Transportasi O2, CO2, nutrisi, sampah panas, Pertukaran gas, Sirkulasi
Kualitas : Daya tahan umum/kapasitas aerobik/daya tahan jantung-paru

Sementara itu ES III akan berperan pada saat aktivitas fisik tersebut berlangsung dan setelah berhenti. Sistem digestivus menyediakan energi anaerobik dan aerobik untuk keberlangsungan aktivitas tersebut.

Demikian pula dengan sistem sensoris mendukung kinerja sistem saraf, dan sistem endokrin secara keseluruhan mengatur seluruh rangkaian aktivitas fisik sampai taraf pemulihan, misalnya dengan cara mengatur peningkatan sekresi keringat sebagai cerminan kerja sistem eksresi, mengatur penurunan suhu, dan mengatur penurunan denyut jantung.

Nah itulah artikel mengenai ergosistema dalam ilmu faal olahraga bagi pelatih dan guru. Semoga bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Terima Kasih.
Artikel Terkait