Implementasi Sistem Kardiovaskuler pada Olahraga Prestasi

2017-01-13

Implementasi Sistem Kardiovaskuler pada Olahraga Prestasi

Implementasi Sistem Kardiovaskuler pada Olahraga Prestasi. Istilah kardiovaskuler berasal dari gabungan antara kata kardio dan vaskuler. Kardio adalah nama lain jantung, sedangkan vaskuler merupakan istilah lain tentang pembuluh darah. Sistem kardiovaskuler dapat diartikan sebagai sistem peredaran darah dengan jantung bekerja sebagai pompa dengan mengalirkan darah ke seluruh bagian tubuh melalui pembuluh darah.

Jadi terdapat tiga unsur dalam sistem peredaran darah yaitu jantung, darah dan pembuluh darah. Saat pelaksanaan aktivitas olahraga maka terjadi respon fisiologis yang dilakukan oleh sistem kardiovaskuler.

Salah satu respon yang dilakukan jantung yaitu dengan meningkatkan denyut jantung. Dengan adanya peningkatan denyut jantung maka jumlah darah yang di distribusikan menjadi lebih cepat diterima oleh anggota tubuh.

Hal ini penting dilakukan untuk menghantarkan oksigen dan sari makanan pada sel, membawa panas untuk dibawa dan dilepas melalui permukaan kulit serta melepaskan karbondioksida sebagai hasil sisa metabolisme. Sedangkan pembuluh darah melakukan respon dengan melakukan proses vasodilatasi pada otot yang aktif atau melebarkan pembuluh darah sehingga dengan semakin lebar pembuluh darah maka semakin banyak pula jumlah darah yang dapat mengalir secara cepat melewati pembuluh darah.

Intensitas latihan olahraga sangat berkaitan erat dengan sistem kardiovaskuler. Intensitas latihan olahraga dapat diartikan sebagai tingkat ringan atau beratnya aktivitas olahraga yang dilakukan. Tingkat intensitas latihan berbanding lurus dengan kerja sistem kardiovaskuler. Saat intensitas latihan rendah maka jantung akan berdetak lebih lambat, namun pada olahraga dengan intensitas lebih tinggi maka jantung akan berdetak lebih cepat.
Perbedaan denyut nadi sesuai jenis latihan dengan intensitas yang berbeda
Gambar Perbedaan denyut nadi sesuai jenis latihan dengan intensitas yang berbeda (Harisenjaya, 1996)

Dengan mencermati gambar di atas maka diketahui bahwa jenis aktivitas olahraga yang berbeda memiliki tingkat intensitas latihan olahraga yang berbeda pula. Hal ini berdampak terhadap semakin cepat atau lambatnya denyut jantung individu. Selanjutnya pada rentang intensitas latihan maka terdapat tujuan khusus atau efek yang ditimbulkan pada tubuh.
Manfaat olahraga pada beragam intensitas latihan
Gambar Manfaat olahraga pada beragam intensitas latihan (Sumber: www.healthyperformance.co.uk, 2013)

Dengan mencermati gambar di atas maka diketahui bahwa tiap interval intensitas latihan olahraga memiliki tujuan dan dampak yang berbeda pada tubuh. Sebagai contoh bila ingin membakar lemak pada tubuh maka intensitas latihan yang dilakukan harus pada interval 60- 70% dari denyut nadi maksimal individu. Berdasarkan tabel di atas dapat dikategorikan sebagai olahraga dengan intensitas ringan.

Sebagai contoh bila seorang atlet memiliki usia 20 tahun maka ia memiliki denyut nadi maksimal sebesar 200 denyut per menit. Oleh sebab itu untuk membakar lemak secara optimal maka denyut nadi latihan yang harus ia pertahankan adalah pada rentang 120-140 denyut per menit. Bila ternyata saat berlatih tersebut denyut nadinya berada pada kisaran 160-180 denyut maka efek latihan tersebut menjadi tidak optimal dalam upaya pembakaran lemak, melainkan lebih berdampak pada peningkatan kapasitas maksimal tubuh.

Dengan mencermati contoh di atas maka diketahui bahwa pengetahuan tentang intensitas latihan dan efek yang ditimbulkan sangat penting dipahami dan implementasikan oleh pelatih, staf pelatih dan atlet yang merupakan praktisi olahraga. Sebab tanpa pengetahuan yang baik dan penerapan yang baik tentang intensitas latihan dan efek yang ditimbulkan maka program latihan yang dijalankan sangat mungkin tidak mencapai tujuannya secara optimal.

Oleh sebab itu implementasi sistem kardiovaskuler secara sederhana yang dapat dilakukan oleh para praktisi olahraga sebagai bentuk praktek nyata fisiologi olahraga yaitu dengan melakukan pengukuran denyut nadi secara rutin.

Pengukuran denyut nadi ini meliputi pengukuran denyut nadi basal, istirahat, latihan dan pemulihan. Pengukuran denyut nadi basal dilakukan pada waktu pagi hari saat atlet baru bangun tidur. Pengukuran denyut nadi istirahat dihitung saat atlet dalam posisi santai atau duduk tanpa melakukan aktivitas yang berarti. Denyut nadi latihan diukur saat atlet sedang melakukan aktivitas olahraga khusus- nya pada fase inti. Sedangkan denyut nadi pemulihan dihitung saat atlet selesai melakukan latihan inti.

Pengukuran denyut nadi dilakukan secara rutin dengan tujuan untuk mengetahui update kinerja sistem kardiovaskuler pada atlet tersebut. Atlet yang terlatih dengan baik tentu akan memiliki kinerja jantung yang sangat optimal. Secara umum hal ini ditandai dengan rendahnya denyut nadi istirahat serta denyut nadi pemulihan yang mudah kembali turun berada di bawah angka 100 setelah melakukan latihan inti yang berat.

Untuk selalu mengetahui update denyut nadi tersebut maka praktisi olahraga sebaiknya mempraktekkan pengukuran denyut nadi secara rutin. Apabila terkendala dengan biaya maka pengukuran denyut nadi dapat dilakukan secara palpasi atau meraba diri sendiri.

Cara paling sederhana yaitu menghitung denyut nadi pada pergelangan tangan atau leher selama enam detik. Hasil hitungan tersebut dikalikan sepuluh. Sebagai contoh penghitungan denyut nadi istirahat seorang atlet, setelah dicek maka diperoleh angka enam sebagai hasil perhitungan. Maka enam dikalikan sepuluh yaitu 60. Angka 60 denyut per menit merupakan nilai penghitungan denyut nadi istirahat atlet tersebut. Kelebihan cara pengukuran ini yaitu tidak dibutuhkan biaya sedikit pun, namun kelemahannya sangat mungkin terjadi kesalahan penghitungan denyut nadi bila atlet atau praktisi olahraga lainnya kurang peka dalam mendeteksi denyut nadi.
Pengukuran denyut nadi secara palpasi pada leher atau pergelangan tangan
Gambar Pengukuran denyut nadi secara palpasi pada leher atau pergelangan tangan (Sumber: www.philadelphia.phillies.mlb, 2013)

Cara lain yang dapat dilakukan oleh praktisi olahraga untuk mengukur denyut nadi adalah dengan menggunakan alat pengukur denyut nadi. Biasanya alat ini berbentuk jam tangan yang dilengkapi dengan chest band, ataupun gelang pendeteksi denyut nadi. Pengukuran denyut nadi dengan metode ini memang lebih praktis sebab para praktisi olahraga tidak perlu melakukan pengukuran denyut nadi secara langsung. Secara otomatis hasil pengukuran denyut nadi akan muncul pada layar monitor pada jam atau gelang tangan.
Jam tangan polar dan chest band
Gambar Jam tangan dan chest band pendeteksi denyut nadi (Sumber: www.fitnessdigital.fr, 2014)

Kelebihan dari alat pengukuran ini adalah hasil pengukuran yang cepat dan akurat. Namun dibutuhkan investasi pembelian yang cukup mahal. Alat pendeteksi denyut nadi seperti gambar di atas telah banyak digunakan sebagai salah satu alat bantu tes dan pengukuran olah- raga untuk mengetahui update denyut nadi istirahat, latihan serta pemulihan seorang atlet.

Itulah implementasi sistem kardiovaskuler pada olahraga prestasi. Semoga bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Terima kasih.
Artikel Terkait