Gaya Kepemimpinan Pelatih Olahraga untuk Meraih Prestasi Tinggi

2017-02-15

Gaya Kepemimpinan Pelatih Olahraga untuk Meraih Prestasi Tinggi

Gaya Kepemimpinan Pelatih Olahraga untuk Meraih Prestasi Tinggi. Masih berbicara mengenai pelatih olahraga. Kali ini akan kita bahas mengenai macam-macam gaya kepemimpinan pelatih olahraga untuk meraih prestasi yang tinggi di olahraga yang ditekuninya. Pelatih adalah seorang profesional yang tugasnya membantu atlet dan tim olahraga dalam memperbaiki dan meningkatkan penampilannya. Karena pelatih merupakan suatu profesi maka pelatih diharapkan dapat memberikan pelayanan sesuai dengan standar profesional yang ada (Pate, RB. Mc.Clenaghan and Rotella : 1984).

Pelatih harus secara teratur menyesuaikan diri dengan perkembangan terbaru, mampu mengubah atau memodifikasi praktek kepelatihannya. Perubahan semacam ini dapat terjadi apabila pelatih tersebut:
  1. memiliki pemahaman atas prinsip-prinsip yang mapan dalam setiap ilmu yang relevan, 
  2. dengan teratur mencari pengetahuan baru dalam ilmu olahraga. Pelatih tidak perlu menjadi ilmuwan yang sesungguhnya tetapi untuk menjadi profesional, ia harus menjadi konsumen aktif berbagai informasi ilmiah dan menerapkannya.
Banyak gaya kepemimpinan dengan cara yang berbeda-beda dalam olahraga guna merealisasikan atau mewujudkan sesuatu yang ingin dicapai agar berhasil, misalnya ada pelatih yang gayanya seolah-olah dingin dan acuh tak acuh terhadap para atletnya, ada yang hangat dan penuh perhatian serta ada pula yang keras atau lunak.

Baca Juga => Pengetahuan Ilmiah Kepelatihan bagi Seorang Pelatih

Macam-macam Gaya Kepemimpinan Pelatih

Berikut ini akan dibahas gaya kepemimpinan yang seringkali dilakukan oleh pelatih dan teknik-teknik kepemimpinan yang dapat mendukung proses kepelatihan.

Gaya Pelatih Authoriter. Gaya kepeimpinan authoriter pada umumnya memiliki ciri-ciri:
  1. Menggunakan otoritas atau kewenangan untuk mengendalikan atletnya
  2. Bersifat memerintah kepada atletnya
  3. Bertindak dengan cara yang dipengaruhi oleh perasaan tidak manusiawi (impersonal).
  4. Berusaha melakukan hal-hal menurut kepercayaan atau kehendaknya saja.
  5. Memberi sanksi (hukuman) pada atlet yang tidak menuruti perintahnya.
  6. Menentukan pembagian tugas/kerja yang seharusnya dilakukan.
  7. Menilai kekuatan atau kondisi gagasannya.
Penelitian yang ada menunjukkan bahwa gaya kepeimpinan authoriter adalah menguntungkan dalam keadaan-keadaan tertentu. Selain itu, juga menunjukkan bahwa gaya ini dilakukan terutama jika kecepatan dan tindakan diperlukan secara mendesak. Dengan kata lain, jika dalam kelompok besar yang melibatkan tugas-tugas yang kompleks, memerlukan tindakan dan pengambilan keputusan yang cepat maka gaya kepemimpinan authoriter dapat juga digunakan agar membuat atlet merasa lebih aman dan terlindungi dalam situasi-situasi tertekan.

Namun demikian, gaya kepemimpinan authoriter ini mempunyai kelemahan, yaitu:
  • Lebih banyak pekerjaan yang dilakukan tetapi kualitasnya kurang.
  • Anggota tim cenderung memperlihatkan kurangnya kepuasan anggota.
Gaya Pelatih Demokratis.  Pelatih yang memiliki gaya ini pada umumnya memiliki ciri-ciri:
  1. Bertindak dengan cara yang ramah dan akrab
  2. Membuka kesempatan tim sebagai suatu keutuhan dalam menyusun rencana
  3. Memperbolehkan anggota kelompok atau tim untuk saling berhubungan/berinteraksi dengan anggota tim yang lain tanpa harus meminta izin kepada pelatih.
  4. Menerima saran-saran
  5. Tidak banyak memberikan instruksi atau perintah pada anggota tim.
Pelatih yang menggunakan gaya kepemimpinan demokratis secara khusus percaya atau yakin bahwa dengan gaya ini akan memberikan sesuatu yang sangat efektif untuk pengembangan atlet dalam hal memberikan kemandirian berfikir dan transfer/pengalihan nilai-nilai olahraga. Kelemahan gaya ini yaitu dalam hal penggunaan waktu secara efektif dan kurang efektif dalam pengambilan suatu keputusan yang cepat.

Baca Juga => Menjadi Pelatih Olahraga Merupakan Sebuah Tantangan

Dalam berbagai studi kepemimpinan terbukti bahwa seorang pemimpin seharusnya tidak berpegang atau tidak selalu cenderung untuk menggunakan satu gaya kepemimpinan tertentu yang bisa digunakan dalam berbagai tingkat pada situasi yang berbeda. Banyak pelatih memperlihatkan perpaduan antara gaya kepemimpinan authoriter dan demokratis untuk melengkapi kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh kedua gaya tersebut. Perbandingan gaya kepemimpinan authoriter dan demokratis dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gaya Kepemimpinan Pelatih Olahraga untuk Meraih Prestasi Tinggi
Perbandingan antara gaya kepemimpinan authoriter dan demokratis di atas terlihat bahwa semakin besar kekuasaan pemimpin dalam menentukan keputusan-keputusannya, maka semakin kecil kebebasan para anggotanya.

Sebaliknya semakin besar kebebasan atau keleluasaan para anggota di dalam  turut membuat keputusan, maka semakin kecil dominasi pemimpin.

Gaya yang Lebih Memperhatikan Atlet (People Centered). Pelatih yang lebih menitik beratkan pada penemuan kebutuhan personal atlet. Dalam situasi yang menyenangkan, akan lebih efektif jika seorang pelatih menerapkan gaya kepemimpinan yang lebih memperhatikan atlet. Jika posisi kekuasaan pemimpin cukup kuat, maka pemimpin yang lebih memperhatikan atlet akan lebih sesuai, yaitu dalam upaya mengembangkan hubungan yang lebih baik dengan atletnya.
Keuntungan gaya kepemimpinan people centered adalah:
  1. Dapat mengurangi ketegangan dan kecemasan, meskipun tugas tidak dijalankan dengan baik atau kalah dalam bertanding.
  2. Dapat berkomunikasi lebih baik dengan atlet-atlet yang bimbang, gelisah, dan merasa tidak pasti.
  3. Lebih efektif dalam situasi yang menyenangkan baginya, yaitu dimana para atlet membutuhkan bimbingan dalam membuat keputusan.
Gaya yang Lebih Menekankan pada Tugas (Task-Oriented). Pelatih yang lebih menekankan pada tugas dalam gaya kepemimpinannya, cenderung menitik beratkan pada pencapaian kemenangan dalam kompetisi. Jika pemimpin memiliki dukungan kelompok, tugasnya jelas, dan memiliki banyak kekuasaan maka gaya kepemimpinan task oriented lebih cocok. Demikian pula halnya dalam situasi ang sangat tidak menguntungkan, seperti halnya seorang pemimpin yang memiliki hubungan yang jelek dengan anggotanya, tugasnya tidak jelas, dan pemimpin tersebut memiliki kekuasaan resmi yang sedikit, maka gaya kepemimpinan task-oriented dapat juga dilakukan. Kelebihan penerapan gaya kepemimpinan task-oriented adalah:
  1. Lebih efisien, segala usaha ditujukan kepada tugas yang harus dilaksanakan.
  2. Tidak banyak membuang waktu untuk komunikasi pribadi dengan atlet dan antara atlet
  3. Pemberian instruksi yang cepat, tegas, dan langsung pada tugas yang harus dijalankan d). Efektif dalam situasi yang menguntungkan atau tidak bagi pemimpin, misalnya banyak atlet yang bandel, kurang disiplin, dan butuh kepemimpinan yang tegas.
Pada umumnya para pelatih yang terlalu people centered, terlalu banyak menekankan pada hubungan manusia, dan kurang mementingkan pada semangat juang yang tinggi atau keberhasilan tim. Para pelatih yang terlalu task-oriented, lalai atau gagal dalam mengatur/mengatasi konflik antar pribadi (inter-personal), karena terlalu menekankan pada hasil kemenangan. Oleh karena itu, pelatih perlu mempelajari dan dapat menempatkan pada situasi yang sesuai antara gaya people-centered dan task-oriented.

Baca Juga => Program Latihan dan Prinsip Latihan

Kaitan Gaya Kepemimpinan Pelatih dengan Prestasi yang Tinggi

Seorang pemimpin atau pelatih, sebagai individu hendaknya memiliki tingkat keterampilan yang tinggi sesuai dengan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Dasar pemikirannya adalah bahwa kepemimpinan merupakan situasi atau keadaan yang khusus dan unik, untuk itulah ia harus dapat menyesuaikan dengan keadaan/situasi yang dihadapinya. Seorang pemimpin yang berhasil dalam situasi tertentu dengan gaya kepemimpinannya belum tentu berhasil dalam situasi lain, sehingga ia harus menyesuaikan gaya kepemimpinannya dengan situasi yang dihadapi (harus fleksibel).

Baca Juga => Prinsip Latihan Multilateral dalam Olahraga

Kaitannya dengan penerapan gaya kepemimpinan pelatih dalam upaya mencapai prestasi yang tinggi dalam olahraga, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
  1. Tidak ada gaya kepemimpinan pelatih yang dapat digeneralisasikan, dan cocok untuk diterapkan sepanjang waktu atau berbagai situasi.
  2. Setiap gaya kepemimpinan pelatih akan berhasil dengan baik jika dilakukan dengan tepat, sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik situasi.
  3. Tidak terpaku pada gaya kepemimpinan pelatih tertentu.
  4. Gaya kepemimpinan pelatih yang baik adalah mengambil hal-hal yang positif dari masing-masing gaya, kemudian dipadukan dan diterapkan ke dalam situasi yang cocok.
  5. Tidak perlu ragu-ragu untuk mengkombinasikan berbagai gaya kepemimpinan pelatih.
  6. Jika pencapaian prestasi tidak berhasil, hendaknya secara hati-hati dalam mengevaluasi dan tidak segera menyalahkan kepemimpinan pelatih yang telah diterapkan
Itulah artikel mengenai gaya kepemimpinan pelatih olahraga untuk meraih prestasi tinggi. Semoga ketika kita mengetahui gaya kepemimpinan pelatih, kita bisa menerapkannya pada diri kita yang berprofesi sebagai pelatih. Terima Kasih.

Referensi:

Pate, Russel R., Bruce Mc.Clenaghan, and Robert Rotella, (1984), Scientific Foundation of Coaching, New York : Saunders College Publishing.
Artikel Terkait