Agresivitas dalam Olahraga

2017-03-17

Agresivitas dalam Olahraga

Agresivitas dalam Olahraga. Banyak olahraga memerlukan tingkah laku yang mungkin disebut agresif. Banyaknya perilaku agresif yang dapat diterima dan dibutuhkan sangatlah berbeda, tergantung dari tingkat pertandingan dan jenis olahraganya. Pada beberapa cabang olahraga pola laku agresif tertentu diperbolehkan.

Suasana kompetisi olahraga kerapkali menjadi media potensial yang mendorong terjadinya perilaku agresif. Perilaku ini dalam kadar yang sesuai sangat perlu dimiliki oleh para pemain untuk dapat memenangkan pertandingan, misalnya dalam tinju, karate, sepak bola dll., tetapi jika berlebihan dan tidak dapat terkendali dapat menjurus pada tindakan-tidakan yang tidak diinginkan, berbahaya, mencederai lawan, melanggar peraturan, tidak fair play, bahkan dapat berakibat fatal. Tindakan agresif tidak sama peluangnya pada setiap cabang olahraga dan setiap atlet.

Upaya untuk mendefinisikan agresif telah banyak dilakukan oleh para ahli. Sebagian dari definisi tersebut dapat dirangkumkan bahwa agresivitas adalah beberapa bentuk atau serangkaian perilaku yang bertujuan untuk membahayakan dan mencederai orang lain. Definisi agresif seperti itu sering digunakan interchangeably dengan istilah hostility pada satu sisi, padahal sebenarnya sangat berbeda dari segi maknawi dengan istilah asertif atau agresif sebagai tindakan yang sering muncul pada praktik olahraga disisi yang lain, yang justru dibutuhkan untuk menampilkan keterampilan secara efektif dalam kompetisi olahraga.
R.H.Cox (dalam Husdarta 2010:76) mengelompokkan tindakan agresif kedalam dua kategori yaitu :

1) Hostility Aggresion adalah tindakan agresif yang disertai permusuhan dan dilakukan dengan perasaan marah serta bermaksud melukai orang lain.

2) Instrumental aggresion adalah perilaku agresif yang dijadikan sebagai alat untuk memenangkan pertandingan, tanpa bermaksud melukai orang lain atau kawan bertanding. Lebih lanjut Cox (dalam Husdarta 2010:76) menyebutkan bahwa agresi instrumental bertujuan untuk memperoleh kemenangan, uang dan prestise.

Cratty (dalam Husdarta 2010:84) telah menyatakan bahwa jumlah maupun jenis agresi yang diinginkan untuk penampilan yang optimal dapat ditempatkan pada suatu skala. Pada umumnya, pada tingkat pertandingan yang lebih tinggi perilaku agresif yang lebih ekstrim justru diperlukan dan dianggap wajar. Namun, dalam tahun-tahun terakhir ini, peningkatan perilaku agresif semakin jelas didorong secara aktif oleh para olahragawan muda dan kurang terampil.

Zillman (dalam Russell R. Pate 1993:128) membagi perilaku agresif menjadi dua macam, disesuaikan dengan pengertian olahraga. Agresi dapat dipandang “ bermotivasi gangguan” dan “bermotivasi semangat”. Perilaku agresif yang bermotivasi gangguan dilakukan sebagai tanggapan terhadap rangsangan yang merugikan. Perilaku agresif yang bermotivasi semangat dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu.

Dalam perilaku yang bermotivasi semangat, tujuan merupakan kepentingan utama sedangkan cidera yang terjadi selama mencapai tujuan tersebut adalah suatu kebetulan. Dalam tingakah laku agresif yang bermotivasi gangguan, tujuannya adalah untuk mencelakakan orang lain. Tampaknya perilaku yang bermotivasi semangat kemungkinan menjadi jenis agresi yang efektif dan yang diperlukan dalam olahraga dimana intimidasi kadang-kadang dapat memainkan peran penting dalam keberhasilan.

Perilaku agresif dapat ditingkatkan apabila mempercepat mencapai tujuan. Dalam olahraga, agresi yang bermotivasi semangat itu sangat penting dan menyebabkan peningkatan perilaku agresif apabila tujuannya sangat jelas dan dianggap penting Buss dan Duquette (dalam Russel R. Pate 1993:130).

Tentang tingkah laku agresif atlet bisa disimpulkan bahwa agresivitas itu tidak sama peluangnya pada setiap cabang olahraga dan setiap atlet. Tingkah laku agresif erat kaitannya dengan sifat olahraganya, sifat olahraga bisa dibagi tiga yaitu,

1) Olahraga dengan adu kekuatan, pada olahraga ini tingkah laku agresif tertentu merupakan bagian cabang olahraga tersebut, misalnya olahraga tinju.

2) Olahraga dengan sentuhan kontak, pada olahraga ini dimana sentuhan badan, kontak bagian tubuh diperbolehkan dalam batas-batas tertentu, sehingga tingkah laku agresif yang ringan masih bisa ditoleransi. Pada cabang olahraga kontak, gerakan dan sentuhan yang secara sadar ataupun tidak dapat menggangu permainan lawan. Olahraga ini memberi peluang lebih besar akan timbulnya tingkah laku agresif, misalnya pada olahraga bola basket.

3) Olahraga tanpa sentuhan kontak, pada cabang olahraga ini hampir tidak ada kesempatan untuk bersentuhan kontak dengan atlet lainnya, maka tidak ada peluang bagi tingkah laku agresif misalnya pada olahraga bola voli.

Itulah artikel mengenai Agresivitas dalam Olahraga. Semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi para pembaca dan bisa memahami pola agresif atlet yang sedang dibina. Jangan lupa untuk melihat artikel menarik lainnya di website ini. Terima Kasih.
Artikel Terkait