Olahraga untuk Anak Usia Dini

2017-03-18

Olahraga untuk Anak Usia Dini

Olahraga untuk Anak Usia Dini. Seifert, Hoffnung (1987:322) menyatakan bahwa bermain adalah dunia anak-anak yang berlangsung dalam kurun waktu yang cukup panjang. Pada usia enam tahun, kemampuan motoriknya sudah mulai berkembang lebih kompleks, yaitu dapat berjalan dengan berbagai variasi kecepatan, loncat, menggeser, memanjat, memindahkan sesuatu dengan tepat, berdiri satu kaki, menangkap bola, dan menggambar sesuatu, maka latihan yang sesuai dengan ketrampilan tersebut dapat dilakukan.

Aktivitas olahraga yang baik untuk anak usia dini mempunyai karakteristik
  1. Memberi bermacam-macam pengalaman gerak (multilateral training) dalam bentuk permainan dan perlombaan;
  2. Merangsang perkembangan seluruh panca indra;
  3. Mengembangkan imajinasi/fantasi; dan
  4. Bergerak mengikuti irama/lagu atau cerita. Namun demikian, dari karakteristik olahraga untuk anak usia dini tersebut diusahakan dikemas dalam bentuk permainan/perlombaan agar anak merasa tertarik dan mendapatkan kesenangan. Dengan aktif bergerak mengikuti permainan itu kebugaran jasmani akan meningkat.
Pengertian dari memberikan pengalaman gerak yang bermacam-macam (multilateral training) adalah anak-anak diberi kesempatan mengalami berbagai macam pengalaman gerak yang berbeda-beda, misalnya: memanjat, merangkak, merayap, mengguling, meluncur, melompat, menggantung, bermain di air, menarik, mendorong, berjalan dengan tangan, dan sebagainya.
Olahraga untuk Anak Usia Dini
Pengalaman gerak yang bermacam-macan ini dapat  menggunakan  alat  maupun  di alam terbuka. Contoh latihan keseimbangan di alam terbuka adalah dengan cara melakukan gerak  berjalan/berlari di pematang sawah, berjalan di atas jembatan bambu (Jawa: wot), latihan berjalan di ketinggian tertentu, dan sebagainya. Latihan memanjat dilakukan dengan cara memanjat pohon mangga, memanjat pohon jambu, memanjat tangga, memanjat tali, memanjat pagar, memanjat dinding/tebing, dan sebagainya. Demikian juga  keterampilan  gerak yang lain, seperti tersebut di atas dapat dilatih dengan menggunakan alat maupun di alam terbuka.

Penting untuk diperhatikan bagi pendidik/orang tua jangan terlalu banyak melarang kebebasan bermain anak-anak ini karena alasan kasih sayang atau perlindungan terhadap anak. Apabila larangan ini sering dilakukan maka anak-anak akan mengalami kekurangan pengalaman gerak, padahal pengalaman gerak pada masa anakanak (childhood) akan sangat besar pengaruhnya terhadap keterampilan gerak pada masa dewasa (adulthood). Dalam kehidupan orang dewasa kadang-kadang manusia dihadapkan pada tuntutan gerak yang bermacam-macam dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Anak-anak yang mempunyai pengalaman gerak yang banyak akan lebih cepat menyesuaikan diri dengan tuntutan gerak baru yang harus dilakukan.

Aktivitas olahraga untuk mengembangkan fungsi panca indera di antaranya adalah:
  1. Indera penglihatan, dengan permainan hijau-hitam, permainan pengemudi jenius menggunakan alat bantu  berbagai  macam bendera yang berbeda-beda warna, permainan pengemudi jenius dengan alat bantu bermacam-macam benda yang berbeda-beda bentuk, dan sebagainya, dan setiap warna/bentuk mempunyai tugas gerak yang berbeda pula;
  2. Indera pendengaran, dengan permainan Si Buta mencari anak, bermain sepak bola dengan bola dapat berbunyi dengan mata tertutup, permainan informasi bersambung/estafet, dan sebagainya;
  3. Indera penciuman, dengan permainan Penciuman Ajaib mempergunakan alat bantu berupa berbagai macam benda dengan aroma yang berbeda-beda, dan setiap aroma mempunyai tugas gerak yang berbeda;
  4. Indera peraba, dengan permainan pembebasan sandera yakni dengan berbagai macam jenis sentuhan pada bagian tubuh yang berbeda-beda, dan setiap jenis sentuhan mempunyai tugas gerak yang berbeda pula;
  5. Indera perasa, dengan permainan Lidah Sakti, yakni dengan mempergunakan alat bantu bermacam-macam makanan yang memiliki rasa yang berbeda-beda, dan setiap rasa mempunyai tugas gerak yang berbeda pula. Guru Penjasorkes harus pandai berkreasi membuat permainan untuk tujuan mengembangkan panca  indera. Hal ini penting karena indera adalah ujung tobak seseorang dalam menerima rangsang (stimulus), kesalahan memahami rangsangan maka akan salah juga dalam memberi tanggapan (respon).
Aktivitas olahraga untuk mengembangkan fantasi/imajinasi, misalnya dengan lomba lari estafet membentuk gambar tertentu dengan puzzel, menggambar dengan cara estafet, lomba lari estafet dengan membentuk bentuk tertentu, misalnya rumah, meja, sandaran papan tulis dengan alat bantu potongan pipa atau potongan balok, dan sebagainya.

Aktivitas olahraga untuk mengembangkan imajinasi dapat juga berupa menirukan gerak hewan, alam, dan benda mati lainnya misalnya: permainan menjadi patung, musang memburu anak ayam, menjala ikan, perubahan wujud benda, permainan tanggap bencana, dan lain-lain.

Aktivitas olahraga dengan mengikuti irama/lagu, di antaranya adalah dengan menyanyikan lagu “Naik-naik kepuncak gunung” siswa melakukan gerak seperti yang terdapat dalam lirik lagu misalnya lirik ‘naik-naik’ siswa melangkah dengan angkatan paha tinggi, guru dapat membubuhi dengan cerita di depan ada parit mari melompat, jalan jinjit, dan sebagainya. Lagu ‘pergi ke hutan’ setelah menyebut nama hewan tertentu misalnya kera, setelah sampai lirik “beginilah jalannya, beginilah jalannya” maka siswa melakukan gerakan seperti gerak binatang kera, guru dapat menambah dengan cerita untuk menambah tugas gerak yang harus dilakukan siswa.

Untuk pembelajaran aktivitas olahraga dengan metode ini guru dituntut untuk kaya akan imajinasi dan pandai membuat cerita menarik agar siswa mau melakukan tugas gerak tanpa keterpaksaan.

Itulah artikel mengenai olahraga untuk anak usia dini. Semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Jangan lupa untuk melihat artikel menarik lainnya di website ini. Terima Kasih.
Artikel Terkait