Overtraining Mengganggu Sistem Pencernaan dan Metabolisme

2017-03-19

Overtraining Mengganggu Sistem Pencernaan dan Metabolisme

Overtraining Menganggu Sistem Pencernaan dan Metabolisme. Dalam saluran pencernaan, secara berturut-turut akan mengalami proses pencernaan, penyerapan zat gizi dan pembentukan faeses. Proses pencernaan dimulai dari rongga mulut, lambung dan berakhir pada usus 12 jari (duodenum).

Molekul-molekul makanan secara mekanis dan kimia, dirubah menjadi molekul-molekul yang lebih kecil dan sederhana, sehingga siap untuk diserap oleh darah pada dinding usus halus, yaitu pada yeyunum dan ileum. Molekul-molekul kecil hasil dari pencernaan antara lain adalah glukosa, fruktosa, dan galaktosa yang berasal dari molekul karbohidrat (Lehninger,1992).

Zat gizi yang sudah siap serap di dalam usus halus, akan memasuki sel dinding usus halus. Selanjutnya, zat gizi tersebut mengikuti aliran darah dan getah bening menuju organ hati. Pada organ hati, zat-zat gizi akan memasuki sel-sel inti, dan akan mengalami berbagai proses yang berkaitan dengan pengadaan enersi tubuh, baik itu pembentukan (anabolisme) ataupun penguraian (katabolisme). Zat-zat gizi adalah sebagai bahan baku untuk perbaikan sel-sel yang rusak, pembentukan hormon, maupun sintensis cadangan enersi berupa glikogen dan lemak.
Overtraining
Latihan olahraga sangat memerlukan energi. Energi yang dipergunakan merupakan senyawa kimia dalam bentuk adenosin trifosfat (ATP) (Astrand, 1986; Fox,1988). ATP dapat dibentuk secara anaerobik maupun aerobik. Proses metabolisme berlangsung dalam sistem yang kompleks. Latihan olahraga yang sistematis akan mendukung kerja sistem ini menjadi lebih baik. Kondisi overtarining sangat memerlukan ATP secara cepat. Akibat intensitas latihan tinggi maka ATP tak mampu disuplai dengan sistem aerobik, melainkan harus dengan sistem anaerobik.

Sistem anaerobik dalam menghasilkan ATP, akan menghasilkan asam piruvat dan pada akhirnya berubah menjadi asam laktat. Penumpukan kadar asam laktat yang semakin banyak, mengakibatkan cairan tubuh dalam suasana asam. Konsekwensinya proses metabolisme menjadi macet, dan wujud peristiwa ini dapat dirasakan berupa kelelahan pada otot (McArdle,1986; Costill,1994).

Disamping gangguan proses metabolisme, overtraining dapat menganggu sisitem pencernaan tubuh lainnya. Gangguan tersebut dapat berupa gangguan refleks pada lambung ataupun usus halus. Kondisi ini terjadi karena stress kelelahan yang berlebihan, sehingga konsentrasi sisitem saraf terfokus kepada keadaan tersebut.
Artikel Terkait