Pembinaan Prestasi Olahraga untuk Meraih Prestasi Maksimal

2017-03-15

Pembinaan Prestasi Olahraga untuk Meraih Prestasi Maksimal

Pembinaan Prestasi Olahraga. Untuk mencapai prestasi atlet secara maksimal diperlukan pembinaan yang terprogram, terarah dan berkesinambungan serta didukung dengan penunjang yang memadai. Dan untuk mancapai prestasi optimal atlet, juga diperlukan latihan intensif dan berkesinambungan kadang-kadang menimbulkan rasa bosan (baredom). Hal ini dapat menjadi penyebab penurunan prestasi, oleh karena itu diperlukan pencegahan yaitu dengan merencanakan dan melakukan latihan-latihan yang bervariasi.

Berlatih secara intensif belum cukup untuk menjamin tercapainya peningkatan prestasi hal ini karena peningkatan prestasi tercapai bila selain intensif, latihan dilakukan dengan bermutu dan berkualitas (Tohar,2002:10)
Pembinaan Prestasi Olahraga
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tahun 1996 dijelaskan bahwa pembinaan adalah usaha, tindakan, dan kegiatan yang dilakukan secara berdaya guna dan berhasil guna untuk memperoleh hasil yang lebih baik

Para ahli olahraga seluruh dunia sependapat perlunya tahap-tahap pembinaan untuk menghasilkan prestasi olahraga yang tinggi, yaitu melalui tahap pemassalan, pembibitan dan pencapaian prestasi(Djoko Pekik Irianto,2002:27)

Pemasalan

Agar diperoleh bibit olahragawan yang baik perlu disiapkan sejak awal yakni dengan program pemasalan yang dilakukan dengan cara menggerakan anak- anak usia dini untuk melakukan aktivitas olahraga secara menyeluruh atau jenis olahraga apapun.

Pembibitan

Pembibitan adalah upaya yang diterapkan untuk menjaring atlet berbakat dalam olahraga prestasi yang diteliti secara terarah dan intensif melalui orang tua, guru, dan pelatih pada suatu cabang olahraga. Tujuan pembibitan adalah untuk menyediakan calon atlet berbakat dalam berbagai cabang olahraga prestasi, sehingga dapat dilanjutkan dengan pembinaan yang lebih intensif, dengan sistem yang inofatif dan mampu memanfaatkan hasil riset ilmiah serta perangkat teknologi modern.

Menurut cholik (1994) yang dikutip oleh djoko pekik irianto, beberapa indikator yang perlu diperhatikan sebagai kriteria untuk mengidentifikasi dan menyeleksi bibit atlet berbakat secara obyektif antara lain :
  1. Kesehatan ( pemerikasaan medic, khususnya sistem kardiorespiorasi dan sisitem otot saraf )
  2. Antropometri ( tinggi dan berat badan, ukuran bagian tubuh, lemak tubuh dll )
  3. Kemampuan fisik (speed power, koordinasi, Vo2 max )
  4. Kemampuan psikologis (sikap, motivasi, daya toleransi )
  5. Keturunan
  6. Lama latihan yang telah diikuti sebelumnya dan adakah peluang untuk berkembang
  7. Maturasi
Sedangkan menurut Bompa (1990) yang dikutip oleh KONI dalam Proyek Garuda Emas, pengidentifikasian bakat dapat dilakukan dengan metode alamiah dan metode seleksi ilmiah.

Seleksi alamiah

Seleksi dengan pedekatan secara natural(alamiah), anak-anak usia dini berkembang, kemudian tumbuh menjadi atlet. Dengan seleksi alamiah ini, anak-anak menekuni olahraga tertentu, sebagai akibat pengaruh lingkungan, antara lain tradisi olahraga di sekolah, keinginan orantua dan pengaruh teman sebayanya. Perkembangan dan kemajuan atlet sangat lambat, karena seleksi untuk cabang olahraga yang layak dan ideal baginya tidak ada, kurang ataupun tidak tepat.

Seleksi ilmiah

Seleksi dengan penerapan ilmiah (IPTEK). Untuk memilih anak-anak usia dini yang senang dan gemar berolahraga, kemudian diidentifikasi untuk menjadi atlet. Dengan metode ini, perkembangan anak usia dini untuk menjadi atlet dan untuk mencapai prestasi tinggi lebih cepat, apabila dibandingkan dengan metode alamiah.

Metode ini menyeleksi dengan mempertimbangkan faktor-faktor antara lain :
  1. Tinggi dan berat badan
  2. Kecepatan
  3. Waktu reaksi
  4. Koordinasi dan kekuatan (power)
Melalui pendekatan metode ilmiah anak-anak usia dini dites, kemudian diidentifkasikan utuk dapat diarahkan ke cabang-cabang olahraga yang sesuai dengan potensi dan bakatnya.

Pembinaan prestasi

Setelah adanya suatu pemassalan dan pembibitan, untuk mencapai suatu prestasi yang baik maka dilanjutkan dengan pembinaan. Pembinaan diarahkan melalui latihan yang disesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Untuk mencapai prestasi olahraga yang tinggi memerlukan waktu yang cukup lama 8-10 tahun dengan proses latihan yang benar, untuk itu latihan hendaknya dilakukan sejak usia dini dengan tahapan latihan yang benar. Tahapan latihan disesuaikan dengan tingkat usia anak, meskipun latihan perlu dilakukan sejak usia dini bukan berarti sejak usia dini itu pula anak sudah dikelompokan ke suatu cabang olahraga. Adapun tahapan latihan meliputi :

Tahap multilateral

Tahap perkembangan multilateral (menyeluruh) disebut juga tahap multiskill yang diberikan pada anak usia 6-15 tahun yang bertujuan mengembangkan gerak dasar. Apabia tahap ini dilakukan dengan baik maka akan memberikan keuntungan antara lain : atlet memiliki gerak yang bermanfaat untuk mengembangkan ketrampilan dan penguasaan tektik tinggi dengan gerakan- gerakan yang variatif.

Tahap spesialisasi

Secara umum tahap ini dilaksanakan pada usia 15-19 tahun, materi lathan disesuaikan dengan kebutuhan cabang olahraga, meliputi : biomotor, klasifikasi skill baik open skill maupun close skill atau kombinasi. Tahap spesialisasi berbanding terbalik dengan tahap multilateral, artinya semakin bertambah usia atlet semakin mengarah ke spesialisasi atau dengan perkataan ain semakin muda usia atlet proporsi latihan untuk multilateral semakin besar.

Puncak prestasi

Setelah melalui pembinaan pada tahap miltilateral dan tahap spesialisasi, diharapkan akan meraih prestasi pada usia emas (Golden Age).

Untuk mendapatkan atlet-atlet yang berbakat untuk ditingkatkan prestasinya ketiga komponen tersebut tidak dapat dipisahkan. Bila tidak dilaksanakan salah satu komponen, akan mendapatkan hasil yang tidak diharapkan/maksimal.

Upaya pembinaan prestasi olahraga memang tidak mudah seperti membalikan telapak tangan. Ada beberapa hal yang harus menjadi fokus perhatian baik dari para praktisi olahraga di lapangan sebagai pelaksana. Maupun oleh para pemegang kebijakan di pemerintahan. Banyak negara maju yang sudah mempraktekkan upaya pembinaan prestasi olahraga sebagai upaya eksistensi dan promosi bangsanya sendiri, sekaligus sebagai pembinaan para generasi muda menjadi pribadi yang tangguh dan unggul dalam menghadapi kehidupannya masing-masing.

Itulah artikel mengenai pembinaan prestasi olahraga. Semoga bisa bermanfaat bagi para pembaca yang sedang berupaya meningkatkan prestasi olahraga nasional. Jangan lupa untuk melihat artikel menarik lainnya di website ini. Terima Kasih.
Artikel Terkait