Penggunaan Doping dalam Olahraga

2017-03-31

Penggunaan Doping dalam Olahraga

Penggunaan Doping dalam Olahraga. Doping dalam olahraga didefinisikan sebagai pemakaian atau penggunaan obat dari suatu bahan asing bagi tubuh, oleh seorang atlet, dengan cara atau jalan apapun, dengan tujuan utama meningkatkan kemampuan sebelum atau pada waktu pertandingan, secara artifisial dan tidak adil (C.K Giam dan K.C. The, 1992).

Istilah doping dapat didefinisikan berdasarkan berbagai  macam pandangan, sekelompok orang melihatnya dari bahaya terhadap kesehatan, karena itu doping dilarang.

Perkembangan Doping Olahraga

Dalam perkembangan mengenai doping olahraga pada tahun 1990 International Olympic Committee (IOC) membuat definisi doping sebagai bahan dan metode yang dilarang. Bahan yang dilarang dikelompokkan dalam 6 kelas berdasarkan efeknya terhadap tubuh yaitu stimulan, narkotika, anabolik, penghalang beta (β-Blocker), diuretik dan peptida hormon. Sedangkan metode yang dilarang adalah doping darah, manipulasi urin melalui farmakologi, kimia dan fisik. Selain itu terdapat pula obat yang termasuk dalam restriks tertentu (Dangsina, 1995).
Penggunaan Doping dalam Olahraga

Mekanisme Zat Masuk ke dalam Tubuh

Obat dapat masuk ke tubuh manusia melalui berbagai jalan sebagian besar melalui mulut. Setelah sampai di saluran pencernaan obat masuk ke darah dengan proses absorpsi. Jumlah yang masuk dan lama proses yang dilalui obat menentukan efek obat. Efek akan lebih kuat bila absorpsi jumlah yang masuk lebih banyak dan berlangsung dalam waktu yang  lebih singkat.

Selain itu obat yang termasuk doping dalam olahraga, dapat masuk melalui suntikan yang dilakukan pada bawah kulit, otot, atau langsung ke dalam aliran darah. Suntikan dilakukan apabila menginginkan efek cepat dan kuat tertutama bila obat tersebut diberikan melalui mulut akan diabsorpsi sedikit dan berlangsung lama sebagian obat dapat masuk melalui inhalasi yaitu dengan menghirup contohnya aerosol untuk penyakit asthma (Dangsina, 1995).

Di dalam tubuh, obat mempunyai pola distribusi yang berbeda. Prinsipnya, sekali masuk ke aliran darah, obat yang sudah termasuk ke dalam kategori zat doping dalam olahraga akan menuju organ tubuh dimana efek utama akan bekerja. Stimulan dan narkotika akan berinteraksi dengan sel susunan saraf pusat.

Kebanyakan obat yang sering dipakai oleh atlet dan termasuk ke dalam doping dalam olahraga, cepat atau lambat akan melalui hati dan ginjal. Molekul obat akan mengalami perubahan kimia yang disebut dengan metabolisme. Produk yang sudah berubah disebut metabolit obat. Proses transformasi terjadi paling banyak di hati dan hal inilah yang menyebabkan mengapa organ tubuh itu sering kali dirusak oleh sekelompok obat.

Aspek metabolisme lain adalah menentukan potensi dan lama efek yang ditimbulkan. Jelaslah bahwa bila perjalanan obat ikatan kimia mengalami perubahan, dan ditransformasi menjadi metabolit akan kehilangan efek bilogisnya (Dangsina, 1995).

Obat dapat meninggalkan tubuh dalam bentuk metabolit. Peran ginjal adalah membuang produk yang tidak perlu yang berada di dalam darah ke urin. Proses ini disebut ekskresi. Petugas tes doping yang bekerja di laboratorium mengetahui ikatan kimia apa yang akan muncul di urin setelah minum suatu obat.

Jumlah obat yang dipergunakan yaitu dosis obat sangat penting. Dosis ditentukan berdasarkan umur, jenis kelamin dan massa tubuh. Banyak senyawa doping toksik bila masuk ke dalam tubuh dalam dosis tinggi. Kelebihan dosis dapat terjadi akibat ketidaktahuan atau keinginan memperoleh efek yang lebih kuat dalam waktu yang lebih singkat.

Seyogyanya dipahami bahwa apabila suatu obat dengan dosis kecil saja sudah memberikan efek, maka dosis besar dapat menjadi berbahaya karena toksik. Keadaan ini berlaku juga untuk vitamin. Kelebihan vitamin pada beberapa kasus dapat lethal atau mematikan.

Penggunaan beberapa obat berkategori doping dalam olahraga, sekaligus dapat juga berbahaya karena ketidakcocokan antara satu obat dengan yang lain. Apabila terjadi reaksi seperti itu semua obat harus dibuang dan jangan dipergunakan lagi. Kebiasaan menggunakan obat adalah fenomena lain yang tidak menyenangkan karena akan mengakibatkan konsekuensi:
  1. Karena resisten dosis akan terus ditingkatkan.
  2. Dapat membuat ketergantungan obat.
Federasi olahraga biasanya telah memiliki aturan-aturan yang ditetapkan untuk para atlet cabang  olahraga  tertentu agar bisa terhindar dari penyalahgunaan obat terlarang dan dianggap menjadi doping dalam olahraga. Walaupun demikian secara umum beberapa federasi olahraga tersebut akan mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh komisi medik Badan Olimpiade Internasional.

Beberapa alasan yang sering diungkapkan atlet ketika atlet menggunakan obat-obatan yang termasuk doping dalam olahraga adalah:
  • Tujuan terapi
  • Untuk penyembuhan cedera
  • Untuk tujuan rekreasional
  • Untuk meningkatkan penampilan
Dalam kasus semacam ini, sangat penting untuk para ahli atau yang ikut terlibat menangani prestasi atlet agar mengetahui daftar obat yang memang diijinkan oleh Badan Olimpiade Internasional (Ivan Waddington, 2004).

Itulah artikel mengenai penggunaan doping dalam olahraga. Semoga dengan pengetahuan ini kita bisa menghindari penggunaan doping untuk meningkatkan performa pada saat bertanding, karena sejatinya bahwa yang namanya olahraga selalu menjunjung sportivitas. Terima Kasih.
Artikel Terkait