Terapi Pernapasan untuk Penderita Asma

2017-03-26

Terapi Pernapasan untuk Penderita Asma

Terapi Pernapasan untuk Penderita Asma. Salam pembaca sekalian, Asma adalah suatu keadaan di mana saluran napas mengalami penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang menyebabkan peradangan.

Pada penderita asma, penyempitan saluran pernapasan merupakan respon terhadap rangsangan yang pada paru- paru normal tidak akan mempengaruhi saluran pernapasan. Penyempitan ini dapat dipicu oleh berbagai rangsangan, seperti serbuk sari, debu, bulu binatang, asap, udara dingin dan olahraga.

Bagi penderita asma melakukan aktivitas fisik atau kegiatan yang berat dapat menjadi pencetus terjadinya serangan. Lalu bagaimana jika penderita asma melakukan olahraga, olahraga justru diperlukan penderita asma untuk melatih otot dada agar pernapasan menjadi lebih lancar. Olahraga yang bisa dilakukan penderita asma bukan olahraga dengan intensitas gerakan yang cepat dan berat. Olahraga yang bisa dilakukan penderita asma antara lain latihan pernapasan, bersepeda dan renang.

Gejala asma yang paling umum adalah batuk. Batuk umumnya terjadi di malam hari, dini hari, saat cuaca dingin, dan saat beraktivitas fisik. Napas yang terdengar seperti bunyi peluit juga kesulitan bernapas. Gejala asma akan berlangsung selama 2-3 hari, atau bahkan lebih. Setelah serangan asma membaik, penderita akan membutuhkan pereda serangan (reliever) 3-4 kali per hari hingga batuk dan mengi menghilang.

Terapi pernapasan bertujuan untuk melatih cara bernapas yang benar, melenturkan dan memperkuat otot pernapasan, melatih ekspektorasi yang efektif, meningkatkan sirkulasi, mempercepat asma yang terkontrol, mempertahankan asma yang terkontrol dan meningkatkan kualitas hidup bagi penderita asma.

Pada penderita asma terapi pernapasan selain ditujukan untuk memperbaiki fungsi alat pernapasan, juga bertujuan melatih penderita untuk mengatur pernapasan jika terasa akan datang serangan, ataupun sewaktu serangan asma. Terapi pernapasan utama bagi penderita asma adalah latihan napas perut/diafragma.
Terapi Pernapasan untuk Penderita Asma

Latihan Pernapasan

Terapi pernapasan pada penderita asma dilakukan dengan latihan pernapasan duduk dan pernapasan bergerak. Latihan napas pada posisi duduk bagi penderita asma merupakan pengambilan posisi dengan tenang agar mencapai ketenangan yang mendalam, untuk memacu otak menjalankan fungsi secara maksimal karena otak merupakan komando tertinggi bagi tubuh.

Pelaksanaan latihan pernapasan sebagai berikut :
a. Letakan kedua telapak tangan didepan dada, tarik napas perlahan-lahan dan diikuti tarikan kedua telapak tangan perlahan-lahan kesamping sampai otot dada terulur kebelakang lakukan sampai 7 kali.

b. Sama seperti diatas meletakan kedua telapak tangan didepan dada, tetapi dalam menarik napas dan menarik tangan repetisinya lebih cepat sekali tarik sekali frekuensi pernapasan. Pernapasan bergerak adalah pengolahan pernapasan yang dilakukan bersamaan dengan melakukan gerak. Untuk tingkat dasar dengan 4 gerakan, tiap jurus gerakannya dengan intensitas tinggi kira-kira 2 menit.

Pada awal gerakan, napas ditarik sebanyak mungkin melalui hidung, kemudian ditekan dan ditahan dibawa perut sambil menggesek telapak kaki setengah lingkaran dengan gerakan memutar pada posisi tiap penjuru, seiring seirama dengan gerakan tangan.

Untuk I kali menekan dan menahan napas minimal dilakukan pada tiap penjuru, setelah itu napas dikeluarkan, juga melalui hidung. Setelah semua keempat arah penjuru dilakukan kemudian atur napas dengan tarik dan keluar napas 2 atau 3 kali, lalu dilanjutkan dengan latihan tingkat lanjut.

Intensitas dalam latihan pernapasan ini terdiri dari 2-4-2 yaitu dua menit dengan latihan keras diikuti dengan empat menit latihan ringan dengan durasi selama 30 menit dan frekuensi 3 kali seminggu. Kekhususan di dalam latihan pernapasan adalah: waktu mengeluarkan napas (ekspirasi) dikerjakan secara aktif, sedangkan sewaktu menarik napas, lebih banyak secara pasif.

Mengeluarkan napas melalui mulut seperti sewaktu meniup lilin atau bersiul, pelan-pelan, dengan mengkempiskan dinding perut. Sewaktu inspirasi, dinding perut relaks (pasif) dan udara masuk ke paru-paru melalui hidung.

Menurut Wara Kushartanti (2002) latihan bernapas harus dilakukan setiap hari dalam beberapa menit dengan cara sebagai berikut:
  1. Hembuskan napas melalui hidung sehingga lendir pada ronkii akan tertarik ke atas.
  2. Ambil napas pendek melalui hidung dan hembuskan panjang melalui bibir yang terkatup renggang, sehingga menimbulkan suara.
  3. Panjang fase ekspirasi diusahakan dua kali panjang fase inspirasi.
  4. Kendurkan pakaian dan aturlah napas sehinga pada saat ekspirasi perut mengempis, untuk menunjukkan bahwa diafragma meninggi kearah dada. Beritahukan bahwa akan ada batuk dan bunyi ngik selama beberapa detik pertama dari pernapasan diafragma.
  5. Minumlah segelas air sebelum dan sesudah latihan.

Manfaat dan Tujuan Latihan Penapasan

Latihan pernapasan juga merupakan salah satu penunjang pengobatan asma karena keberhasilan pengobatan asma tidak hanya ditentukan oleh obat asma yang dikonsumsi, namun juga faktor gizi dan olah raga. Bagi penderita asma, olah raga diperlukan untuk memperkuat otot-otot pernapasan. Latihan pernapasan bertujuan untuk:
a. Melatih cara bernafas yang benar.
b. Melenturkan dan memperkuat otot pernafasan.
c. Melatih ekspektorasi yang efektif.
d. Meningkatkan sirkulasi.
e. Mempercepat asma yang terkontrol.
f. Mempertahankan asma yang terkontrol.
g. Kualitas hidup lebih baik.

Latihan pernapasan tidak boleh dilakukan sembarangan. Ada syarat-syarat bagi mereka yang akan melakukan latihan, yaitu: tidak dalam serangan asma, sesak dan batuk, tidak dalam serangan jantung, dan tidak dalam keadaan stamina menurun akibat flu atau kurang tidur dan baru sembuh.

Menurut Wara kushartanti (2002) program latihan yang dirancang bagi penderita asma pada dasarnya menitik beratkan pada latihan pernapasan yang bertujuan untuk:
a. Meningkatkan efisiensi fase ekspirasi
b. Mengurangi aktivitas dada bagian atas
c. Mengajarkan pernapasaan diafragma
d. Merelakskan otot yang tegang
e. Meningkatkan fleksibilitas otot intercostalis, pectoralis, scalenius, dan trapezius

Pada latihan pernapasan merupakan alternatif sarana untuk memperoleh kesehatan yang diharapkan bisa mengefektifkan semua organ dalam tubuh secara optimal dengan olah napas dan olah fisik secara teratur, sehingga hasil metabolisme tubuh dan energi penggerak untuk melakukan aktivitas menjadi lebih besar dan berguna untuk menangkal penyakit (Wisnu Wardoyo, 2003).

Latihan pernapasan telah banyak dikenal dan mempunyai efek penyembuhan dan amat bermanfaat bagi fungsi korteks serebri, organ abdominal dan untuk pengendalian diri. Di dalam suatu system pernapasan pada waktu frekuensi pernapasan menurun maka kapasitas tidal dan kapasitas vital akan meningkat. Pada meditasi terjadi relaksasi sempurna dari otot-otot tertentu dan kunci utama keberhasilan senam pernapasan adalah keteraturan dan kepatuhan melakukan senam tersebut.

Ada beberapa fungsi terapi pernapasan adalah:
a. Mengatur keseimbangan seluruh fungsi organ tubuh
b. Meningkatkan daya tahan terhadap suatu penyakit
c. Memulihkan organ tubuh yang mengalami disfungsional.
d. Mengatur keseimbangan cairan tubuh, aktivitas hormaon, aktivitas enzim, dan laju metabolisme.
e. Mempelancar peredaran darah secara sistemik.
f. Meningkatkan kemampuan gerak tubuh.
g. Meningkatkan ketenangan batin dan percaya diri.
h. Defensive (pertahanan diri)

Sedangan terapi latihan pernapasan diidentifikasikan untuk mengobati:
a. Kekurangan gerak yang yang menghasilkan kemunduran kemampuan fungsional alat- alat tubuh dengan gejala antara lain:
1). Kurang mampu pada sikap berdiri (intoleransi orthostatic)
2). Degenerasi tulang-tulang, tulang menjadi keropos (osteoporosis) dan rapuh. 3). Degenerasi jaringan, kurangnya aktifitas menjadi otot mengecil (atrofi).
4). Pada penderita diabetes, kurangnya aktifitas menyebabkan resistensi terhadap insulin, kadar gula darah lebih sulit dikendalikan. Hal ini akan memperbesar terjadinya komplikasi.
5). Kurangnya gerak menyebabkan perubahan metabolisme lemak, kadar kolesterol terutama LDL meningkat yang dapat mempertinggi resiko terjadinya penyakit gangguan aliran darah, misalnya jantung koroner dan stroke.

b. Penyakit-penyakit non infeksi
1). Penyakit hipokinetik
2). Penyakit metabolisme (kegemukan diabetes, kelebihan lemak)
3). Penyakit jantung dan pembuluh darah (jantung koroner, tekanan darah tinggi/rendah, varises).
4). Penyakit psikosomatis.

c. Untuk penyakit infeksi, dengan terapi latihan senam pernapasan dapat meningkatkan kondisi tubuh, sehingga dapat mempercepat membantu pembentukan antibody terhadap suatu penyakit. Kondisi tubuh yang baik adalah syarat utama pada setiap proses kesembuhan

d. Penyakit-penyakit lain yang dapat membatu kesembuhan dengan terapi senam pernapasan:
1). Gangguan saluran pernapasan (asma bronkiale, pulmonary distonia)
2). Gangguan pencernaan (maag/gastritis, perut kembung, dan susah buang air besar) 3). Gangguan pada system reproduksi
4). Sakit perut pada saat mentruasi.
5). Mentruasi tidak teratur
6). Sulit tidur (imsonia)
7). Gangguan pada pembulu darah
8). Batu saluran kencing

d. Penyakit-penyakit non medis, dengan melakukan latihan pernapasan pusat-pusat tenaga akan diolah dan pada akhirnya akan membentuk system energi yang mengelilingi tubuh. Sistem energi yang mengelilingi tubuh dengan dibarengi dengan meningkatnya ketenangan batin akan berfungsi sebagai antibody terhadap penyakit non-medis.

Itulah artikel mengenai terapi pernapasan untuk penderita asma. Semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi para pembaca. Jangan lupa untuk melihat artikel menarik lainnya di website ini. Terima Kasih.
Artikel Terkait