Prestasi dan Prestise dalam Olahraga

2017-04-07

Prestasi dan Prestise dalam Olahraga

Prestasi dan Prestasi dalam Olahraga. Ya, judul artikel kali ini mengenai prestasi dan prestise olahraga yang sangat berkaitan dengan setiap perhelatan event olahraga. Sebuah artikel antara prestasi dan prestise olahraga pernah dimuat dalam antara news yang sangat menarik perhatian.

Pembahasan mengenai masalah prestasi dan prestise terkait ajang Sea Games 2011 yang dibahas di antara news tersebut. Memang pencapaian sebuah prestasi yang tinggi akan meningkatkan prestise daerah yang mendapatkan prestasi tersebut. Oleh karena itu, segala macam upaya dilakukan untuk mencapai sebuah prestise tersebut.

Perang Tujuan dari Sebuah Event Olahraga, Prestasi atau Prestise?

Setiap event olahraga, baik skala porda sampai pada puncaknya yaitu di olimpiade selalu menyisakan polemik di dalamnya. Mulai dari konsep tujuan meraih prestasi maksimal atau mencari prestise semata.
Prestasi dan Prestise dalam Olahraga
Event olahraga merupakan sebuah ajang untuk saling menampilkan prestasi cabang olahraga di tingkat daerah masing-masing, yang seharusnya dijadikan barometer untuk mengevaluasi sejauh mana pembinaan cabang olahraga di daerah masing-masing.

Sudah pasti kita tahu bahwa hal pertama yang menjadi tujuan dari olahraga yang dipertandingkan adalah menggapai PRESTASI yang maksimal, setelah itu barulah muncul PRESTISE untuk daerahnya yang sudah meraih prestasi tersebut. Prestise tersebut merupakan sebuah BONUS atau SIDE EFFECT dari tercapainya prestasi yang tinggi.

Ketika tujuan yang ingin dicapainya adalah sebuah prestasi, maka upaya yang harus dilakukan adalah memaksimalkan potensi daerahnya. Jika tujuan prestasi sudah diraih melalui kerja maksimal menggunakan potensi daerahnya masing-masing, maka SIDE EFFECT berupa PRESTISE akan jauh lebih membanggakan dibandingkan dengan tidak menggunakan potensi daerahnya sendiri.

Jika prestasi tidak tercapai, maka harus diingat bahwa "LIFE MUST GO ON", bangkit dari keterpurukan dengan langkah nyata. Karena akan ada kebermanfaatan yang sangat luar biasa ketika prestasi yang menjadi tujuan tidak bisa diraih. Manfaat tersebut adalah adanya EVALUASI pada potensi atlet yang dimiliki untuk menatap event olahraga berikutnya.

Jangan sampai sebuah event olahraga, diibaratkan angin yang berhembus begitu saja atau sekedar ceremonial saja tanpa ada MAKNA yang bisa diambil dari event olahraga tersebut, yaitu proses pembinaan olahraga.

Sebuah proses harus dilalui dengan benar, jika kita ingin meraih prestasi yang tinggi. Karena sejatinya sebuah proses tidak akan menghianati hasil yang sempurna.

Jangan sampai karena sebuah PRESTISE kita mengabaikan potensi anak kita yang sudah mengorbankan waktu dan tenaganya untuk berlatih, namun tersingkir karena FAKTOR-X tersebut. Memang sebuah upaya meraih PRESTISE bisa meraih prestasi, tapi setelah kita mendapat prestasi apa yang mau dibanggakan jika menghalalkan segala cara dengan mencederai pembinaan.

Berkaca pada Prestise Sea Games 2011

Saya kutip dari antaranews mengenai prestasi dan prestise olahraga berikut ini:

Prestise

#Dalam perjalanannya, SEA Games tidak lagi sekedar sebuah perhelatan olahraga dua tahunan yang bertujuan untuk mempererat kerja sama, pemahaman dan hubungan antar negara di kawasan Asia Tenggara. Pesta olahraga tersebut kemudian berkembang menjadi ajang pertaruhan gengsi sebuah bangsa negara.

"Hanya ada dua acara dimana bendera sebuah negara dikibarkan dan lagu kebangsaan diperdengarkan di luar negeri, yaitu saat kunjungan kenegaraan kepala negara dan saat atlet meraih medali medali emas," demikian ucapan yang sering didengungkan oleh mantan Menpora Adhyaksa Dault di berbagai kesempatan.

Adhyaksa sempat merasa terpukul ketika di saat ia menjadi penanggung jawab prestasi olahraga nasional, Indonesia justru terpuruk di peringkat kelima di SEA Games 2005 di Filipina. Akibatnya, ia kemudian segera melakukan pembenahan dengan membentuk Satgas Pelatnas menghadapi SEA Games 2007 di Thailand dengan hasil, peringkat Indonesia kembali merangkak naik meski hanya satu tingkat.

Di masa Menpora Andi Mallarangeng, Indonesia sudah bertekad untuk mengembalikan kejayaan di SEA Games dan sukses sebagai SEA Games 2011 adalah sebuah keharusan, selain sukses sebagai penyelenggara.

Berdasarkan pengalamanan dalam beberapa kali penyelenggaraan SEA Games, tuan rumah selalu menempuh berbagai cara agar menjadi pengumpul medali emas terbanyak.

Pada SEA Games 1995 di Chiang Mai, Thailand benar-benar memanfaatkan hak istimewa tuan rumah dengan mempertandingkan cabang olahraga andalan sebanyak-banyaknya, thai boxing dan tinju. Hasilnya negara Gajah Putih tersebut meraup 157 medali emas untuk memastikan gelar juara umum, sementara Indonesia hanya 77 dan berada di urutan kedua.

Indonesia kemudian melakukan hal yang sama saat menjadi tuan rumah pada SEA Games 1997 dengan memperbanyak nomor di cabang andalan, diantara pencak silat. Hasilnya? Sebanyak 194 medali emas berhasil diraup, sementara Thailand hanya 83 emas dan harus puas di urutan kedua.

Kecenderungan tuan rumah untuk memanfaatkan segala cara demi untuk meraup medali emas sebanyak-banyak sempat menjadi keprihatinan sesama negara anggota yang tergabung dalam Federasi SEA Games.

Ketika Vietnam menjadi tuan rumah SEA Games 2003, Dewan Federasi SEA Games dalam pertemuan mereka sepakat untuk menata kembali cabang-cabang yang dipertandingkan dengan memprioritaskan pada yang dipertandingkan di Olimpiade, yaitu 28 cabang.

Namun tarik menarik kepentingan dan desakan dari berbagai pihak, kesepakatan tersebut tidak kunjung bisa dilaksanakan.

Setelah di SEA Games 2009 Laos yang hanya mempertandingkan 25 cabang olahraga, SEA Games 2011 kali "jor-joran" dengan menggelar 44 cabang olahraga untuk memperebutkan total 545 medali emas.

Diantara cabang olahraga yang untuk pertama kali dipertandingkan adalah sepatu roda, panjat tebing dan vovinam (olahraga tradisional asal Vietnam). Cabang lain yang selama ini hampir tidak pernah dipertandingkan di tingkat SEA Games adalah ski air, paragliding dan kempo.

Banyak pihak yang menduga bahwa masuknya cabang yang non-Olimpiade dan bahkan juga non-Asian Games tersebut sebagai akal-akalan tuan rumah Indonesia untuk meraup medali emas sebanyak-banyak sebagai penutup kelemahan di cabang olahraga terukur, terutama renang.

Dugaan tersebut setidaknya sudah terbukti di cabang sepatu roda karena Indonesia langsung melakukan aksi sapu bersih delapan medali emas pada dua hari pertandingan. Perolehan tersebut diperkirakan akan semakin bertambah karena masih ada empat lagi medali yang akan diperebutkan pada pertandingan hari terakhir, Senin (14/11).

Selama tidak ada pembatasan jumlah cabang olahraga yang mengacu kepada cabang di Olimpiade, akal-akalan tuan rumah untuk menjadi pengumpulkan medali terbanyak akan terus terjadi. Akibatnya, pesta olahraga tersebut hanya sekedar ajang adu prestise, bukan prestasi
.#

"Jangan sampai hal yang kurang tepat dibiasakan, sehingga menjadi terbiasa dan lumrah dilakukan."

Itulah tulisan singkat mengenai prestasi dan prestise dalam olahraga, semoga bisa bermanfaat bagi para pembaca. Jangan lupa untuk melihat artikel menarik lainnya di website ini. Terima Kasih.
Artikel Terkait