Menghindari Resiko Cedera Karena Tubuh Kurang Fleksibilitas

2017-08-02

Menghindari Resiko Cedera Karena Tubuh Kurang Fleksibilitas

Menghindari resiko cedera karena tubuh kurang fleksibilitas. Fleksibilitas merupakan komponen kondisi fisik yang penting untuk keberlangsungan gerak kita. Setiap bergerak kita membutuhkan yang namanya fleksibilitas. Banyak sekali resiko cedera karena tubuh kurang fleksibilitasnya, seperti low back pain (sakit punggung), osteoarthtritis, arthritis (radang sendi) dsb. Otot yang tidak lentur mengakibatkan penurunan lingkup gerak sendi, sehingga menurunkan aktivitas gerak dasar manusia sehari-hari seperti duduk ke berdiri, berjalan, membungkuk, meraih sesuatu ke depan dan mengangkat beban (Walker, 2007).

Menghindari resiko cedera karena tubuh kurang fleksibilitas bisa dengan cara memahami pengertian fleksibilitas dan jenis latihan fleksibilitas yang bisa dilakukan oleh kita di rumah.

Pengertian Fleksibilitas

Fleksibilitas merupakan kemampuan untuk mendayagunakan otot dan sendi untuk bergerak seluas-luasnya tanpa disertai rasa tidak nyaman atau nyeri (Sudarsono, 2008). Sedangkan menurut Donatelli (2007) fleksibilitas adalah kemampuan otot dan tendon untuk memanjang tanpa disertai adanya keterbatasan sendi. Fleksibilitas tubuh secara general melibatkan ligamen, otot, sendi dan diskus intervertebralis pada punggung bawah (Alter, 1996).

Tubuh yang memiliki fleksibilitas bagus dapat memperkecil resiko cedera pada punggung, dikarenakan punggung sebagai inti badan merupakan komponen tubuh yang mempunyai aktivitas gerak yang cukup tinggi.
Menghindari Resiko Cedera Karena Tubuh Kurang Fleksibilitas
Fleksibilitas punggung berfungsi saat membungkuk dan mengangkat beban (Muzamil, 2006). Fleksibilitas dibedakan menjadi fleksibilitas statik aktif, fleksibilitas statik pasif dan fleksibilitas dinamik (Appleton, 1998). Dengan meningkatnya fleksibilitas akan memperbaiki kemampuan fungsi gerak tubuh serta mengurangi risiko cidera akibat retriksi otot (Ratnawati, 2010).

Fleksibilitas dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi elastisitas jaringan sekitar, tipe persendian, usia, jenis kelamin dan hormon. Sedangkan faktor eksternal terdiri dari adanya penyakit, suhu dan pakaian yang ketat (Gummerson, 1990, dikutip oleh Appleton, 1998).

Faktor usia erat kaitannya dengan fleksibilitas tubuh. Fleksibilitas mencapai puncaknya pada akhir masa pubertas yaitu pada usia 18-22 tahun (Shinta, 2007). Dengan bertambahnya usia akan diiringi adanya proses menua yang dimulai pada usia 25 tahun (Fowler, 2003). Shinta (2007) menambahkan bahwa dalam proses menua terdapat perubahan jaringan kolagen, penurunan konsentrasi air yang menyebabkan terjadinya penurunan daya lentur otot dan jaringan sekitar sendi.
Baca juga => Manfaat Latihan Core Exercise bagi Atlet dan Penderita Sakit Pinggang

Jenis Latihan Fleksibilitas

Fleksibilitas dapat ditingkatkan dengan latihan peregangan seperti propioceptive neuromuscular fascilitation (PNF), balistik, tai-chi, yoga dan Pilates (Nelson dan Kokkonen, 2007). Latihan pilates merupakan latihan penguluran dan penguatan pada daerah core (inti) yaitu daerah antara pelvik, perut dan punggung yang mempunyai tujuan meningkatkan kekuatan otot, fleksibilitas, daya tahan otot sehingga kestabilan tubuh dapat terjaga melalui kontrol tubuh, postur dan pernapasan (Bryden, 2009; Shah, 2013).
Dengan mengetahui konsep fleksibilitas dan jenis latihannya, maka kita bisa terhindar dari resiko cedera karena tubuh kurang fleksibilitasnya. Banyak pilihan olahraga yang bisa dilakukan untuk menjaga kualitas fleksibilitas seseorang. Ternyata sangat penting yah, fleksibilitas untuk mendukung kerja kita sehari-hari.

Itulah artikel mengenai menghindari resiko cedera karena tubuh kurang fleksibilitas. Semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi para pembaca dunia olahraga. Jangan lupa untuk melihat artikel menarik lainnya di website ini. Terima Kasih.
Artikel Terkait